This site chose VeriSign Trust Seal to promote trust online with consumers.
ABOUT TRUST ONLINE  

Gmana Cara Mendirikan Yayasan Pendidikan?

Sempet baca pertanyaan ini di internet. Maap klo baru ngebahas sekarang. Dari yang saya tau, pertama-tama, pilih dulu kali ya jenis usaha pendidikan yang ingin dirintis. Pendidikan tinggi, menengah ato dasar misalnya. Itu beda perlakuannya. Termasuk taman kanak2 juga beda lagi, yang ini bisa agak “bebas bernafas” ketimbang yang saya sebutkan di awal. Bisa juga pendidikan profesional, yang bisa di-waralaba-in. Mo yang mana? Kalo gak mo ribet, bisa pilih yang waralaba. Cuma modal bakalan banyak yang terserap ke si pemilik waralaba. Tapi enaknya, bila ada permasalahan terkait manajemen bakal di-”back up” oleh si pemilik waralaba. Lantaran kalo udah waralaba tentunya sudah banyak cabang yang dimiliki oleh si pemilik waralaba, yang “resource”-nya disa ditransfer ke cabang lain yang sedang bermasalah. Tapi inget loh “back up” dalam hal manajemen. Bukan “back up” dari sisi finansial. Pendidikan profesional ini bisa berupa semacam kursus yang sifatnya “agak instan” agar bisa langsung dipraktekkan di lingkungan kerja. Jangan anggap remeh loh lembaga semacam pendidikan profesional ini. Soale ada universitas swasta di negeri impian yang cikal bakalnya dari pendidikan profesional. Bahkan ada pendidikan profesional yang menuju formalitas setingkat D3 dan di-waralaba-in juga (jadi dobel status). Nah yang agak berat neh pendidikan tinggi. Berat di ijin pendirian dan berat di akreditasinya. Banyak usaha pendidikan tinggi di negeri impian yang.. akreditasinya amburadul. Terutama yang dikelola swasta. Klo perijinannya sendiri yang saya tau pengurusannya bisa melalui notaris. Saran saya seh, bila mo mendirikan lembaga pendidikan tinggi, bila.. belum punya.. “orang”.. mending mulai dari pendidikan profesional dulu deh. Lalu coba diurus “penyetaraan” akreditasinya. Kalo kira2 akreditasinya bisa bagus.. dinotarisin untuk dibikin jadi lembaga pendidikan tinggi. Nah pertanyaannya.. gimana klo punya modal gede? Saran saya seh mending pilih waralaba aja deh. Terserah itu untuk pendidikan tinggi ato profesional. Tapi jeleknya klo menurut saya.. yang kayak gini sebenernya bukan “pemilik” jadinya. Rasanya tuh.. “gak ngeh” gtu. Gak ngerasa “seni”-nya jadinya gak banyak suka duka yang bisa dicerita-in. Trus gmana klo gak mo yang waralaba. Tokh saya punya duit banyak. Hehehe.. Saya kasi tau aja pemirsa. Tuh PT XYZ dengan keuntungan seabrek-abrek plus udah dijamin pemerintah aja bisa bangkrut. Klo punya duit tapi gak punya “orang yang berkualitas”, sama juga o’on.. eh.. o’ong.. Nah sekarang klo pertanyaannya, ingin bikin lembaga pendidikan tinggi, tapi gak punya duit. Gmana? Tenang, masih ada solusinya. Pemirsa bisa mengajukan feasibility study-na ke ADB alias Asian Development Bank ato pun ke World Bank. Klo ditrima maka pemirsa dapet dana sosial yang disponsori oleh ADB ato pun World Bank tersebut. Cuma.. tingkat keberhasilan untuk disetujui, relatif tinggi (dari yang saya tau), bila pendiriannya itu dilakukan di “daerah terpencil”. Saya sendiri blon menyelidiki lebih jauh mengenai latar belakang kenapa pemilihan atas persetujuan pemberian dana tersebut cenderung memperhitungkan parameter tersebut. Trus ada bonus informasi dari ibu saya sendiri neh. Klo pemirsa ingin mendirikan yayasan pendidikan berbasis Islam di daerah yang.. hmm.. perlu disampe-in gak ya pesen dari ibu saya. Ah gak perlu rasanya. Kan.. saya mah.. cuma orang yang.. sudah.. diusir gicu loooh..

Tags:

19 Responses to “Gmana Cara Mendirikan Yayasan Pendidikan?”

  1. wakidi Says:

    mohon bantuan bagaimana tahap mendirikan lembaga pendidikan (wakidi611@gmail.com)

    (Dodi): yang pertama.. Bapak mo dirikan lembaga pendidikan apa? Terkait profesional yang sifatnya informal? Ato formal yang sifatnya akademis? Ato model pesantren-kah? Banyak macamnya. Masalah Yayasan mungkin itu adalah “atap” yang bisa menaungi lebih dari satu “lembaga”. (Cuma masalah manajemen aja). Punten Pak.. kayak na saya udah jelaskan deh, mohon maap klo ternyata masih kurang jelas juga, ato mungkin ada yang salah penjelasan gtu. Mungkin ada teman yang lain yang bisa membantu.

  2. anas Says:

    Mohon bantuannya…
    Saya mau mendirikan lembaga pendidikan yang profesional, yang sifatnya formal, yang fokus khusus terhadap jurnalistik (radio, televisi, dan media cetak).
    Bagaimana caranya?
    Terima kasih bantuannya. (anaz_sulbar@yahoo.com)

    (Dodi): Kayaknya Bapak bisa “benchmark” ato kerjasama dengan personil yang pernah menyelenggarakan semacam “Rumah Produksi”. Soale terkait juga nantinya dengan masalah advertising dsb. Kalo dibilang formal, saya sendiri belum tau masalah “akreditasi”-nya. Karena kayaknya belon ada di Indonesia, jadinya.. pake standarisasi mutu kali ya (kayak ISO). Soale kalo gak pake standar semacam itu, nanti bisa disamakan sama SMK. Apa itu yang Bapak inginkan? Btw ini boleh dibilang suatu hal yang bukan bidang saya ato setidaknya saya belum pernah menjalaninya. Trims

  3. panji surya Says:

    makasih mas, untuk infonya. Saat ini saya dan temen2 berniat mendirikan yayasan pendidikan dengan segmen TPA dan RA/TK Islam. Kira2 gimana prosedurnya ya? trus informasi ttg yayasan pendidikan berbasis islam itu soal apa ya? kalo info yang positif mesti dibagi2 tuh, biar jadi amal yang gak putus sampe akhirat :) trims (akupanji@yahoo.com)

    (Dodi): Terakhir kali saya liat, udah ada akreditasi untuk TK. (Serem juga, lama2 masalah pendidikan ini, kayak gak ada celah untuk ber-”kreasi”. Lama2 semua kesannya didikte. Mending diktenya bagus, yang ada seringkali malah menumpulkan kreasi). Juga terakhir kali udah ada program pemerintah untuk TK satu atap dengan SD. Bapak bisa kerjasama dengan SD yang belum memiliki TK, yang kebetulan SD nya juga dengan basis Islami. Tapi sebaiknya dilihat pasarnya juga di lingkungan Pak. Klo memang mereka tidak terlalu mementingkan akreditasi, asal pengajarnya terlatih ya gak papa juga. Klo dulu di jaman saya masih kuliah, pengajarnya cabutan dari mahasiswa. Tokh ortu siswanya juga gak mempermasalahkan. (Lain-lain tinggal dinotarisin). Mungkin mereka percaya kali ya kalo mahasiswa yang ngajar, ya baguslah untuk ngajar anak TK. Tapi bagusnya seh yang memang sudah tersertifikasi. Kan sekarang udah banyak tuh sertifikat untuk guru TK/TPA. Btw klo lebih mo ter-manage dengan baik, ya seperti saran saya yang sudah2, ngikutin waralaba aja. Udah ada tuh, malah banyak sekarang untuk TK/TPA. Kecuali klo mo bikin waralaba sendiri, ya.. mulai dari proses2-nya harus didokumentasikan dengan kuat. Karena dokumentasi itu yang akan diikatkan secara hukum alias dipatenkan. Dari situ baru bisa dibuat waralaba. Gtu kira2 semoga bermanfaat.

    Btw ini Surya mahasiwa saya ya :) duh sampe ge’er saya ada mahasiswa yang mau berkunjung :)

  4. Yudi Says:

    Saya ingin mendirikan SMK jurusan TKJ. apa saja yang harus disiapkan ? (linux@telkom.net.id)

    (Dodi): Bapak Yudi, setidaknya saya coba memasukkan kategori dari “sekolah” yang ingin Bapak bangun, adalah termasuk ke dalam jalur pendidikan nasional. Soalnya ada juga yang disebut jalur pendidikan tinggi (seperti akademi dan universitas misalnya). Juga ada pula jalur profesional. Untuk jalur pendidikan nasional ada baiknya Bapak menanyakan misalnya kepada dinas pendidikan daerah bila Bapak ada di suatu daerah. Seharusnya bisa dijelaskan oleh instansi tersebut. Semoga membantu.

  5. Rusman Jarsidi Says:

    Saya ingin mendirikan yayasan pendidikan, kira-kira berapa yah biaya notarisnya? Rencananya untuk pendidikan pra SD, yang masih belum saya pahami secara mendalam adalah apa perbedaan antara TK dan PAUD? Kemudian TK dan PAUD dibawah naungan DEPAG atau DIKNAS? Adakah bantuan dari pemerintah untuk biaya pembangunan gedung/kelasnya. Thanks… (iyusrusman@yahoo.com)

    (Dodi): Kalo masalah biaya bisa ditanyakan kepada notarisnya. Sekedar saran, sebaiknya yang direkomendasikan oleh teman yang pernah menggunakan notaris yang sama. Beda TK dan PAUD saya kurang mengetahui Pak. Mohon maklum

  6. supardi suardi Says:

    mau nanya nih…masih bingung perbedaan antara yayasan pendidikan sama yayasan pesantren. mohon penjelasannya…… (suardi_supardi@yahoo.co.id)

    (Dodi): :) mungkin di antara rekan2 yang lain ada yang jadi notaris? Bisa dibantu gitu menjelaskan ke Pak Supardi Suardi? :)

  7. Hasanah Says:

    Saya ingin mendirikan beberapa bentuk usaha dan lembaga. al: Usaha Rental Komputer, Warnet, Diklat Ketrampilan (Komputer, Elektronika, Bimbingan Belajar dan Kursus2 lain yang memungkinkan). dan saya berkeinginan merintis Pendidikan usia dini yang berbasis teknologi tersebut diatas. sebagai catatan, saya sudah merintis usaha Rental komputer dan penjualan peralatan listrik cukup lama, tetapi belum ada ijin apapun atau bentuk usaha apapun. Saya bermaksud mengembangkan lebih serius seperti tersebut diatas. Bentuk Usaha, Lembaga atau Yayasankah yang cocok ? Apakah yang perlu dipersiapkan terkait dengan berkas untuk perijinan dan pendiriannya? Oo ya tempat usaha apabila bersertifikat salah satu pengurus bagaimana ? Terimakasih atas jawabannya… (usa.hasna@yahoo.com)

    (Dodi): Menarik sekali tatkala Anda bercerita tentang pengalaman Anda yang sudah Anda rintis dan sudah berjalan hingga.. insya Alloh saat ini tentunya :) Terus terang saya salut dengan apa yang telah Anda lakukan. Btw, Anda sebenarnya telah menemukan jawabannya namun Anda masih bertanya kepada saya lantaran.. secara terstruktur hal tersebut tidak terpikirkan oleh Anda meski.. Anda sesungguhnya telah melakukannya. Tentunya kalau Anda pikirkan sendiri sebenarnya Anda telah menemukan jawabannya. Masalah pendirian.. khususnya akte pendirian usaha akan berguna bila Anda lakukan.. manakala suatu saat nanti Anda bertindak sebagai seorang suplier yang menjadi rekanan suatu perusahaan. Besarnya nilai kerjasama yang ditransaksikan akan diperhitungkan sesuai lisensi akte pendirian usaha Anda, masuk ke golongan yang manakah?

    Saya sendiri mengenal rekan yang menjadi konsultan UKM. Link na sudah.. saya letakkan.. di blogroll saya. Yaitu SBHL Consulting. Saya sarankan Anda menyewa jasa konsultan dari SBHL ini. Pendirinya salah seorang dosen dari ITB, namanya Pak Hari Lubis. Insya Alloh dana yang Anda keluarkan akan bernilai sebagai investasi ketimbang cost. Semoga sukses selalu dan Alloh SWT menyertai Anda. :)

    [update - 24 Juni 2010] [lol mode] (Dodi): Akhirnya ketauan juga ekor ama tanduknya :) Sundul terus gan [lol mode]

  8. ishak kamaruddin Says:

    assalamu alaikum . mas aku maw nanya tentang prosedur pendirian sebuah lembaga kursus yang orientasinya ke penguasan bahasa asing ? trus lembaga ini termasuk lembaga yang bagaimana ? (icca_alhafiz@rocketmail.co.id)

    (Dodi): Mungkin ada jawaban yang berbeda kali ya dengan jawaban saya :) Banyak orang bersekolah, belajar, mendengar, melihat, membaca.. tapi sangat sedikit yang “menyimak”. Padahal sebelum seseorang beritikad untuk berdikari, kemampuan “menyimak” ini penting sekali untuk dimiliki.

  9. Saiful Says:

    Yth pa Dodi. Saya minta saran bapak. Saya & beberapa teman mendirikan pendidikan dg kurikulum dan sistem belajar model perguruan tinggi berikut yayasanya sudah lima tahun yang lalu. Tapi belum terdaftar di kopertis maupun dinas terkait. Sempat ke kopertis, tetapi banyak syarat yg hrus dipenuhi. Apa yang harus kami lakukan? Nuhun pa (Sef_de2000@yahoo.com)

    (Dodi): Jawab sama2 yuk! Artinya ini mungkin jawaban kita bersama dan bukan jawaban dari saya only :) . Udah ke kopertis tapi masih bingung.. jawab na cari orang yang tau seluk beluk na, lalu tanya ke orang yang tau tsb. Banyak syarat yang harus dipenuhi tapi belum sempat memenuhi.. jawab na “cari waktu” untuk memenuhinya. Ada ungkapan yang mengatakan.. jangan “besar pasak daripada tiang”. Moga2 menjawab, tapi klo gak menjawab mungkin ada yang lain yang bisa membantu menjawab.

  10. suseno edi wibowo Says:

    pa tolong informasikan apa perbedaan lembaga pendidikan dan yayasan pendidikan? makasih sebelumnya (sew_physics@yahoo.com)

    (Dodi): Aduuuh maap neh gak bisa jawab na :) soale saya bukan pejabat publik yang berwenang seh. Jadi malu ditanya-tanya begini :) [becanda mode]. Btw kayak na udah terjawab deh di pertanyaan Anda sendiri :) . Sebagai anekdot, ada manusia bernama Budi, dan dia adalah manusia. Ada manusia bernama Badu, dan dia manusia. Apakah Budi dan Badu berbeda? Bila iya, maka bisa jadi secara “fungsional” bukanlah Budi atau Badu yang dimaksud. Mungkin ada penjelasan lain yang bisa menjelaskan hal tersebut. Saya yakin bahwa saya bukan satu-satunya sumber yang bisa menjawab ini. Sebagaimana masih ada pejabat publik yang bisa menjawab hal ini, dan saya yakin jumlahnya tidak hanya satu orang :) .

    NB: Welcome 2 Bugs Bunny University :)

  11. bego Says:

    orang bego didenerin cuma supaya blognya terkenal (bego@hi.com); (IP: 202.93.37.114)

    (Dodi): Wa ‘alaikum :) Dari cara Anda menjawab dan menunjukkan jati diri, saya yakin sekali para pemirsa akan tau siapa sebenarnya yang bego :)

  12. sularsih Says:

    saya mau tanya, saya mempunyai PAUD sudah berjalan secara individu tapi saya belum mempunyai yayasan . bagaimana cara membuat yayasan pendidikan PAUD ke notaris sampai ke DIKNAS . kira kira biaya untuk membuat yayasan itu berapa?
    Terimakasih . Wassalam (sularsih.arsih@yahoo.com)

    (Dodi): Wa alaikum salam.. :)
    Sundul lagi ah :)

  13. bank pintar Says:

    sebenernya bisa jawab gak
    kok bertele tele
    tutup aja bloke (zhimon93@yahoo.co.id)

    (Dodi) : Sori imel Anda masuk ke spam list. Sebenernya saya sendiri tidak kepikiran sama sekali untuk membuat blog semacam ini Tuan :) . Tapi berbeda antara jaman dulu dengan jaman sekarang. Orang baik2 jaman dulu gak perlu sibuk “memperkenalkan diri” saat membuat puisi atau cerita rakyat. Karena gak ada yang namanya kelakuan seperti orang yang gemar “main watak” seperti yang ada di jaman sekarang ini. Saya menulis blog ini disamping berharap bisa memberikan sedikit kebaikan buat peradaban, juga untuk meng-counter segala gosip dan fitnah yang sebisa mungkin saya klarifikasikan. Karena saya belajar dari masa lalu saya. Dan juga belajar dari pengalaman Bu RT di perumahan saya. Saya membuatkan untuk pengurus RT di lingkungan perumahan saya semacam buletin dan juga blog. Gunanya adalah untuk mengklarifikasi bila ada gosip miring di lingkungan RT terutama dari kalangan ibu-ibu di perumahan. Alhamdulillah sebagian besar gosip yang menerpa Bu RT bisa banyak berkurang (kasian juga Bu RT soalnya, udah capek ngurusin warga, bayarannya gak seberapa, harus pula menghadapi gosip macam2). Dunia sekarang memiliki teknologi yang membuat segala sesuatunya menjadi lebih jelas. Saya memanfaatkannya untuk membentuk peradaban yang lebih baik. Bukan malahan sibuk mengatakan “ini-itu” tapi sebenarnya “malas” untuk membuat konten sendiri. Cuma senang “berkicau”.

  14. Boim Lebon Says:

    Assalamualaikum …
    Maap mas ..
    saya rasa mas perlu bertanggung jawab dengan judul diatas ..
    dari percakapan diatas ..
    jawaban yang di inginkan oleh tamu2 d blog anda adalah ..

    CARA MENDIRIKAN YAYASAN ADALAH :
    Pergi Ke Noataris … Bla .. Bla .. Bla ..
    Dengan menyiapkan syarat ..
    1. …
    2. …
    Kemudian .. Bla .. Bla .. Bla ..
    Lalu Pergi ke … dengan menyiapkan …
    1. …
    2. …
    Selesai (ada yang kurang Jelas?)

    Klw anda termasuk orang yg ingin memperbaiki diri …
    anda tidak perlu membalas caci maki …
    coba di koreksi jawaban anda …
    apakah sudah cukup berkualitas …

    saya beri kesimpulan ..
    percakapan anda akan sama dengan ilustrasi berikut ..

    Amin : “Maap mas apa mas tau dimana letak Universitas XYZ ??”
    Udin : “Saya Rasa Semua Orang Disini Sudah tau, coba tanya yg orang lain aj, Klw kurang jelas coba dilihat di peta atau tanyakan Polisi ..”

    hehe ..
    anda mirip si UDIN …
    apalagi anda mudah tersinggung …
    Kalau anda seorang Tenaga Pendidik, apa jadi nya Negara ini kelak …
    ckckckck … (plinplan_099@yahoo.com)

    (Dodi): Wa alaikum. Maap, komentar Anda masuk ke spam list. Jadi baru saya coba untuk saya approve. Maklum.. yang ngirim spam udah mencapai 2000 lebih. Dari situ saya yakin Anda bisa memahami betapa repotnya menghadapi orang yang punya karakter.. senang melempar isu negatif yang sepertinya gak perlu untuk dijawab. Dan lebih produktif bilamana saya melakukan hal yang lain yang mungkin jauh lebih bermanfaat. Saya rasa saya memiliki kekurangan dalam menjawab dan.. saya yakin tidak akan memuaskan “s-e-m-u-a” orang. Tapi bilamana sebagian besar masalah sudah bisa diatasi.. dengan menyarankan bertanya kepada yang ahlinya, ada baiknya Anda mengikuti saran tersebut. Bukan bertanya yang sebenarnya lebih mirip “mencari pembenaran” ketimbang “mencari solusi”. Saya di sini menulis adalah untuk memberi solusi kepada yang masih membutuhkan informasi tersebut. Dan kebetulan memang ada orangnya yang memerlukan informasi tersebut. Namun ada pula orang yang menurut saya sombong, enggan menulis kontent alias pemalas, mau nya dibilang hebat, senangnya berdebat melulu. [ Saya sendiri sebagai pengurus RT di lingkungan perumahan saya juga menemukan hal semacam itu :) Mungkin di gedung DPR juga ada kali ya orang yang kayak gitu :) ] Mengapa orang seperti itu tidak sekalian saja membuat konten yang lebih memperjelas apa yang mungkin masih kurang ketimbang sibuk mencari pembenaran. Saya sendiri berbicara dengan apa adanya tanpa saya lebih2 kan. Moga2 cukup jelas.

  15. Joko Susilo Says:

    Saya kira ndak usah buat blok tanya jawab deh, kalau tidak menguasai masalah. Masa orang tanya, tapi disuruh tanya sama rang lain lagi(pejabat)… (jokos@gmail.com)

    (Dodi): Saya rasa sudah terjawab ya Bos! :) Blog dibuat dengan teknik pull. Orang suka saya silakan datang ke “rumah saya”. Tidak suka ya silakan jangan pernah datang ke “rumah saya” selama-lamanya. Beda dengan teknik push seperti milis, TV, koran, dan semacam itu. Saya sudah pernah menulis di blog saya sendiri mengenai perbedaan teknik push dengan teknik pull. Saya yakin Tuan belum pernah membaca tulisan saya tersebut makanya saya gak heran bila cara bicara Tuan seperti orang yang bicara “seenak perut sendiri”. Bukankah begitu Tuan? :) O iya, btw imel Tuan masuk ke spam list. Masih untung saya berbaik hati mau menjawab :)

  16. Joko Susilo Says:

    Kayaknya anda benar sendiri… kaya bukan jawaban manusia…maaf ya…ada yag nggak yambung pada dirimu… kita tanya supaya tau solusinya… anda tidak menjawab bila hanya bilang tanya orang lagi…capek… (jokos@gmail.com)

    (Dodi): Saya sarankan supaya Tuan gak capek :) jangan tertatih-tatih kayak orang kecapekan kalo datang ke blog saya :) Klo memang Tuan kecapekan, ya jangan pernah datang ke blog saya :) Biar gak capek [lol mode]. Sama satu lagi ya, saya gak yakin orang2 yang ngirim comment yang masuk ke spam list situs saya benar2 membaca blog saya seperti halnya comment Tuan! Untuk itu setelah ini.. saya minta maap dan mohon dimaklumi.. klo sampe ada comment yang masuk ke spam list saya, bakalan kemungkinan besar gak saya approve. Gtu aja ya biar sama2 puas.. yang satu pusa gagal nge-spam, yang lainnya lagi puas berkontribusi bagi peradaban ummat :) [lol mode]

  17. jang bud Says:

    Pak, saya mau tanya. Denger-denger kalo yayasan tu harus berorientasi sosial bukan komersil, bener ga sih? Saya mau bikin tempat bimbingan belajar sd-smp-sma (kayak primagama-ssc-GO). Namun ga tau bentuknya harus yayasan atau lembaga atau PT. Trus kalo tempat bimbel yang saya dirikan tidak terdaftar baik sebagai yayasan/lembaga/PT, namun sekarang masih berjalan gimana?
    Terima kasih Pak. (jangbud@gmail.com)

    Sundul!!! up up!!!

  18. sdaedf Says:

    aeda at yahoo dot co dot id

    kecoa

    wa alaikum :)

  19. Boedy Says:

    Terima kasih informasi dari Blognya. sangat membantu. Dan anda sudah meluangkan waktu secara sukarela untuk menjawab pertanyaan yang masuk.

    Terus berkarya dan menyebarkan informasi. (boedyirh@yahoo.co.id)

    Trims :)

Leave a Reply