Kemenangan Trump, Kemenangan Sains Atas White Voter (Massa Mengambang)

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan pemilihan presiden Amerika tahun 2016. Saya masih lebih suka tatkala Barack Obama mencalonkan diri sebagai presiden Amerika.

Namun, terlepas dari itu semua, banyak pihak mempertanyakan, apakah perhitungan pemilu presiden Amerika 2016 valid? Saya katakan YA, itu VALID. Pertanyaan seperti itu muncul lantaran banyak survey mengatakan bahwa electoral vote dari Hillary lebih tinggi dari Trump, namun dalam kenyataannya, Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika 2016.

Sebenarnya bagi saya pribadi, Trump menang satu dan kalah satu. Sebab, setelah kemenangannya ini, dia harus bertempur dengan perang sebenarnya, yaitu perang melawan “ketidakpercayaan” rakyatnya sendiri di Amerika, yang notabene memiliki andil besar untuk mengarahkan kebijakan politik Amerika.

Kemenangan Trump lebih karena kepiawaiannya dalam mencari peluang secara statistik. Bukan untuk meraih kemenangan dalam arti yang sesungguhnya.

How Trump gains electoral vote

Sumber: http://tinyurl.com/jmsgdm3

Gambar tersebut diambil dari suatu situs, di mana Trump berusaha berkampanye di daerah-daerah yang masyarakatnya masih belum condong ke mana pun. Maksudnya, Trump berusaha menarik simpati para white voter (massa mengambang) agar mendukung dirinya. Tidak perlu meraih suara sebanyak-banyaknya. Cukup bagaimana caranya agar bisa mengalahkan electoral vote milik Hillary.

Sebenarnya ini adalah suatu cara tradisional yang sudah sejak lama dilakukan di Indonesia. Sebagai contoh, baru-baru ini, seorang peserta pilkada di Indonesia, berusaha menarik simpati massa mengambang di kepulauan seribu (dan akhirnya dinon-aktifkan dari jabatannya sementara lantaran kunjungannya dianggap menuai masalah). Yang menarik, ternyata teknik ini digunakan oleh seorang miliarder sekaliber Trump. Padahal menurut saya, Trump memiliki banyak sumber daya untuk memberikan pendidikan dan pemahaman politik kepada konstituennya daripada memilih cara-cara semacam itu.

Bila kita coba renungkan kondisi berikut ini, misalnya si peserta pilkada tersebut akhirnya mendapat suara sebesar 51% (dari keseluruhan perolehan suara) lantaran dukungan masyarakat dari kepulauan seribu, sedangkan kandidat lain memperoleh suara sebesar 49% yang notabene tinggal di DKI Jakarta, dan akhirnya ia menang pilkada. Maka akan memunculkan pertanyaan ironis semacam ini (tanpa bermaksud membeda-bedakan apa yang menjadi hak seorang warga negara), “Sesungguhnya masyarakat manakah yang notabene memiliki peran terhadap perkembangan atas DKI Jakarta? Apakah yang tinggal di kepulauan seribu, ataukah yang tinggal di DKI Jakarta?”.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang harus dijawab oleh Trump, termasuk oleh peserta pilkada yang menggunakan teknik semacam itu.

Yang jelas, tindakan represif sama sekali tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Termasuk tindakan pembungkaman berpendapat.

Tags: , , ,

Leave a Reply


9 + five =