This site chose VeriSign Trust Seal to promote trust online with consumers.
ABOUT TRUST ONLINE  

Apakah Pengendara Sepeda Listrik Dilarang Menggunakan Fasilitas Umum?

January 26th, 2012

Sepeda listrik saya digolongkan bukan sebagai kendaraan bermotor. Mengapa demikian? Karena kecepatan maksimalnya hanya 35 km/jam. Di bawah kecepatan maksimal kendaraan bermotor pada umumnya. Mesinnya tidak melalui uji KIR. Ya karena gak ada mesin motornya. Klo mau lebih cocok digolongkan sebagai barang elektronik. Bukan sebagai kendaraan bermotor.

Di jalan, saya pernah dihentikan oleh polisi lalu lintas. Tepatnya di Dayeuhkolot. Alhamdulillah, saya cuma disuruh pake helm saja. Saya salut banget sama Pak Polisi yang beroperasi di Dayeuhkolot. Saya gak diapa-apain. Maka saya dengan senang hati setiap berkendara sepeda listrik lewat Dayeuhkolot, saya berusaha selalu pake helm. Walau menurut saya kalau pun saya gak pake helm, saya gak salah juga. Karena saya naik sepeda kok. Bukan naik motor.

Tapi “masalah” saya rasakan tatkala harus berhadapan dengan Pak Polisi yang suka beroperasi di daerah Terusan Buah Batu. Pertama kali saya diberhentikan, sepeda listrik saya mau diangkut ke Polsek [geleng-geleng kepala mode]. Apa salah saya coba? Saya bilang kepada mereka bahwa saya tuh naik sepeda listrik. Jadi gak pake surat. Karena sejak saya beli dari sorumnya juga gak pake surat tetek bengek seperti yang mereka minta. Kalo saya pake helm, adalah dalam rangka menghormati. Bukan berarti saya ingin digolongkan sebagai pengendara sepeda motor. Selain itu, kendaraan yang saya kenakan juga bukan digolongkan sebagai kendaraan bermotor. Akhirnya, alhamdulillah saya dilepaskan.

Kali kedua saya dihentikan lagi di Terusan Buah Batu. Saat dihentikan, sebenernya saya sudah tidak ada perasaan was-was seperti dulu kalo2 kendaraan saya mo diangkut ke polsek. Soale udah jadi rahasia umum, kendaraan kalo menginap meski sehari doank di polsek, pasti onderdilnya kacau balau sekeluarnya dari polsek. Makanya saya benar2 gak mau klo sampai kendaraan saya dibawa ke polsek. Karena ini kali kedua saya dihentikan oleh polisi lalu-lintas di sektor Terusan Buah Batu, ya saya tenang aja. Menjelaskan bahwa kendaraan yang saya pakai memang bukan motor.

Tapi yang mengganggu saya, yang pada akhirnya saya jadi menulis artikel ini adalah.. pernyataan Pak Polisinya yang mengatakan agar saya mengendarai sepeda listrik hanya di daerah sekitar komplek perumahan saja [gubrak mode].

Saya jadi bertanya-tanya. Apakah jalan umum sudah berubah definisinya menjadi jalan bukan umum? Atau definisinya menjadi.. jalan umum namun dengan pengecualian? [geleng-geleng kepala mode].

Klo mereka berpikir dengan jernih, harusnya para Pak Polisi itu berterima kasih sama saya yang mengendarai sepeda listrik ini. Bukankah saya pada akhirnya secara gak langsung membantu program pemerintah guna menghemat BBM? Klo saya yang bisa mondar-mandir selama 3 tahun belakangan ini dari Buah Batu ke Baleendah dengan bersepeda listrik, kenapa harus naik angkot? Uda gak efesien dari segi waktu dan biaya. Pake BBM pula. Ataukah.. program yang selama ini dicanangkan pemerintah cuman wacana saja? Emang gak pernah benar2 mo merealisasikan visi mereka. Wacana doank. Karena kalo saya dilarang bersepeda listrik untuk berproduksi sebagai seorang profesional, bukankah itu berarti beda visi dengan misinya. Visinya.. hematlah BBM. Misinya.. pakailah BBM. Kayak PLN jaman dulu. Visinya… hematlah listrik. Misinya.. naik daya lebih mudah daripada turun daya. Visi ke Utara. Misi ke Selatan.

Dulu di Cina, para pekerja seperti buruh, dianjurkan hanya bersepeda untuk menghemat pengeluaran. Sekarang, tidak sedikit perusahaan di Cina memberi fasilitas sepeda listrik kepada para pekerjanya. Dari rumah ke pabrik. Bersepeda listrik. Sesampai di pabrik, diberi fasilitas pengisian listrik. Sistemnya sudah pake sistem solar. Gak heran kalo Cina memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat.

Tapi di negeri impian, malah disarankan agar jangan pake sepeda listrik jauh-jauh. Cukup di sekitar komplek perumahan aja. Klo jauh-jauh, harus naik yang pake BBM kali ya? Bener2 saya gak ngerti. Gak ngertinya maksudnya.. bingung untuk memahami.. bagaimana kok bisa terjadi.. visi para pemimpin negeri yang ke Utara.. aparatnya bermisi ke Selatan..

Pengorbanan Bersepeda ke Kantor

January 26th, 2012

Pertama kali saya bekerja di institusi pendidikan tempat saya bekerja sekarang, saya pernah punya keinginan untuk bersepeda. Maksudnya pergi ke kantor naik sepeda. Pulang dari kantor naik sepeda. Saya pingin kayak entitas perguruan tinggi yang ada di Denmark sonoh. Para mahasiswanya dan dosen-dosennya lebih senang naik sepeda ke Universitas ketimbang naik mobil atau motor. Sekedar asal tau aja, saking sukanya saya sama sepeda balap, saya sampe punya dua sepeda balap. Bukan cuman satu gitu loh.

Cuma beberapa kali saya naik sepeda ke tempat kerja saya, apa yang terjadi pemirsa? Yang ada di jalan, dipepet motor. Motor tuh yang paling mengganggu saya saat saya bersepeda. Yang kedua mengganggu saya saat bersepeda adalah angkot. Seringkali angkot berhenti mendadak di depan saya. Sampe2 saya selalu berpikir, apakah sopir angkot ini mau bertanggungjawab bila saya sampai nabrak angkot mereka dan terjatuh? Silakan dipikirin sendiri deh sama pemirsa.

Di negara yang sudah maju, kegiatan bersepeda benar-benar difasilitasi oleh pemerintahnya. Cuma di negeri impian? Apalagi di daerah Bandung Selatan seperti.. mulai dari Baleendah sampai Buah Batu misalnya. Apakah ada jalur sepeda?

Saya merasakan kok pengorbanan bersepeda ke kantor besar amat ya di negeri impian. Pada akhirnya sampailah saya pada ide untuk memiliki sepeda listrik. Akhirnya jadi juga kesampaian saya beli sepeda listrik. Keluaran Trekko. Kayaknya seh buatan Cina. Merknya Flash. Yang 500 watt. Demen banget hati saya bisa naik sepeda listrik pulang pergi kantor. Uda saya pake sekitar 3 tahunan. Eh tiba-tiba muncul masalah baru. Apa itu? Baca kelanjutannya di artikel yang saya posting setelah artikel ini

Plat Merah D 2 V Yang Super Buru-Buru

August 12th, 2011

Hari Jumat, 12 Agustus 2011, motor listrik saya jatuh di depan komplek Griya Prima Asri, Bandung Selatan. Pasalnya ada mobil di belakang saya yang selalu klakson2. Setau saya di depan komplek tersebut ada pembatas jalan yang dipasang DLLAJR, yang membuat jalan tersebut pas banget untuk dilalui mobil. Artinya di situ memang bukan tempatnya ngebut2. Berhubung motor listrik saya di depan mobil tersebut, jadilah mobil tersebut kesulitan menyusul motor listrik saya. Namun karena ne mobil klakson2 melulu, saya menoleh ke kanan. Motor saya tuh udah bener2 ke kiri banget menurut saya, namun karena namanya tadi saya bilang.. jalannya tuh pas banget.. motor listrik saya jalannya tuh gak bisa lebih dari 35 km/jam.. dan karena tuh mobil deket banget ke motor saya ditambah.. klakson2 melulu.. jadilah saya agak ke kiri sedikit lagi. Namun naas ternyata motor listrik saya terpeleset hingga saya jatuh. Mobil tersebut memang brenti. Tapi sepertinya bukan untuk nolongin saya. Oh ternyata mobil pejabat tokh. Katanya seh mobil wakil bupati. Yang saya heran, kalo mo buru2 kenapa gak dikawal sekalian seh sama pak polisi yang suka naik moge? Jengkel saya terus terang liat lagak klakson2 mobil itu. Tapi yang begini memang gak heran seh. Namanya juga negeri impian.

Tapi kalo mo optimis, mungkin ini kelakuan supir mobilnya kali ya. Bukan kelakuan wakil bupatinya. Masa seh Wakil Bupati main klakson2 di jalan sempit. Ato mungkin saya yang salah. Salah di sini maksudnya, selama ini saya menganggap jalan umum tuh artinya jalan milik umum. Semua memiliki hak yang sama kecuali ada protokol tertentu yang mengatur untuk penanganan yang luar biasa. Namun kayaknya definisi jalan umum tuh sebenarnya jalan milik umum dengan pengecualian. Gitu deh.

Tentang Kelakuan Menyontek

July 18th, 2011

Kelakuan menyontek, kalo sudah jadi karakter, kayaknya susah dihilangkan. Kalo saya perhatikan, kelakuan ini gak selalu dimiliki oleh orang yang kemampuannya untuk memahami suatu.. rendah. Malah terkadang justru dimiliki oleh orang yang kemampuan memahaminya lumayan di atas rata-rata. Karena saya pernah mendapat pengalaman, ada mahasiswa yang nilainya sudah bagus, pernah ketauan menyontek, tapi gak kapok mengulanginya untuk kedua kalinya[geleng-geleng kepala mode].

Di perguruan tinggi yang sudah maju, hukuman bagi tukang sontek, yang saya ketahui tuh gak tanggung-tanggung. Langsung dibikin D.O. alias Drop Out. Sebenarnya saya tidak bermaksud mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku sontek harus di-D.O. Namun yang saya harapkan adalah hukuman yang dapat membuat efek jera. Sehingga tidak ada lagi yang berani mengulangi perbuatan itu di masa-masa yang akan datang. Cuma masalahnya.. bila hukumannya ringan atau tidak sepadan dengan kesalahan yang dilakukan.. apakah akan ada yang mengalami.. efek jera?

Saya tidak berharap apa yang saya lakukan.. akan menghasilkan calon-calon koruptor kelak di kemudian hari.

Buka Program Pascasarjana

June 22nd, 2011

Alhamdulillah, fakultas tempat saya bekerja telah membuka program pascasarjana. Maap klo baru sekarang ngomong na. Soale sempet nulis beginian na juga baru sekarang. Moga2 berkah.

Merasa Mampu Melakukan Terawang

May 21st, 2011

Pemirsa, apakah Anda dapat mengetahui profil orang tua Anda tentang apa yang dilakukan oleh mereka selama 24 jam? Atau sebaliknya, mampukah orang tua Anda mengetahui profil Anda tentang apa yang Anda lakukan selama 24 jam? Baru-baru ini saya mengalami kasus ada orang yang sama sekali tidak memiliki kekerabatan dengan saya, namun merasa dirinya mampu mengetahui profil diri saya tentang yang saya lakukan selama 24 jam :) Bagi saya sangat menjijikkan sekali. Terakhir kali tatkala saya berbicara dengan rekan saya, saya melihat orang ini seperti mengamat-amati saya. Saya rasa wajar orang seperti ini melakukan hal ini. Dia merasa benar. Memiliki persepsi sempit tentang diri saya dan dia ingin membuktikan persepsi itu dengan terus mengamat-amati diri saya. Selama bukti tersebut belum dia dapatkan, selama itu pula dia akan terus mengamat-amati :) Cita-citanya mungkin ingin jadi Paparazzi kali ya [lol mode]. Mau tau pemirsa penilaian saya terhadap orang ini? Jawabannya adalah… SANGAT MENJIJIKKAN!!!

Antara Logika dan Popularitas

May 11th, 2011

Pernahkah pemirsa berlogika? Atau dengan kata lain, pernahkah menghadapi sesuatu yang pemecahan solusinya harus dengan melakukan sesuatu yang rasional? Pertanyaan saya yang lain, apakah orang-orang yang populer sekarang ini sangat pantas untuk dijadikan panutan? Ataukah kepopuleran mereka sangat pantas diterima logika ketimbang sekedar emosional belaka? Saya cuma ingin mengatakan bahwa… saya merasa tidak perlu untuk menjadi populer tatkala berlogika. Dan tatkala logika saya harus memutuskan sesuatu… tidaklah saya merasa perlu terhadap keputusan yang saya ambil tersebut, untuk menjadi suatu keputusan yang populer, dan mempopulerkan saya. Harapan untuk populer semacam itu hanyalah pencapaian yang bersifat emosional, sesaat, dan berakhir dengan penyesalan. “Penyesalan”… sebuah kata yang telah banyak orang menjadi korbannya, namun seakan banyak orang “meminta” untuk menyesal. Bila suatu popularitas perlu saya raih, bisa jadi lebih karena saya menganggapnya sebagai “perangkat bantu” yang perlu saya gunakan untuk sesuatu yang lebih pantas disebut sebagai… keteladanan. Dan juga saya tidak perlu harus menyewa “fans bayaran” agar fans saya terlihat banyak, seperti yang dilakukan oleh para artis kebanyakan :)

Antara Politikus dan Negarawan

May 11th, 2011

Negeri impian ini memiliki banyak
politikus. Bahkan seakan banyak orang berangan-angan bisa menjadi politikus. Namun tatkala hendak dicari seorang negarawan, seperti sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Saya sendiri banyak bertemu dengan orang-orang yang sangat gemar berorganisasi. Terutama tatkala saya masih mahasiswa. Bahkan ada pula yang seakan-akan “menunjukkan” bahwa dia adalah seorang yang sangat aktif berorganisasi alias aktivis. Terutama organisasi di tingkat mahasiswa. Namun penilaian saya terhadap wawasan seseorang tidaklah terpaku pada keaktifannya berorganisasi. Ada yang “sangat aktif” berorganisasi, namun saya menilainya sebagai orang yang berwawasan sempit. Wawasan sempit? Mengapa demikian? Karena dari cara orang tersebut bernegosiasi dengan saya, saya bisa menilai apakah orang tersebut lebih banyak main otot atau main otak. Namun di sini saya tidak bermaksud menyalahkan orang yang “sangat gaul” tersebut. Mungkin memang “kelas”-nya seperti itu. Bila orang tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang politikus yang populer, mungkin cocok. Tapi tidak untuk menjadi seorang negarawan. Seorang negarawan pastilah memiliki kemampuan kehumasan yang baik. Bagaimana ia bernegosiasi dengan banyak orang, tentunya tidak dengan mengandalkan “otot” semata. Mereka dihormati banyak orang, dari dalam hati yang bersih. Bukan sebatas lantaran mereka populer. Sedangkan penghormatan kepada seorang “politikus’, bisa jadi hanyalah sekedar dilakukan untuk memenuhi “kewajiban” saja. Dihormati dengan kepalsuan, membuat orang-orang seperti ini menjadi orang yang perlu dikasihani.

Antara Preman dan Enterpreneur

May 11th, 2011

Saya yakin pemirsa mengenal istilah “preman” dan “enterpreneur”. Sekarang ini mulai banyak orang berangan-angan untuk bisa menjadi seorang enterpreneur. Cita-cita yang sangat bagus menurut saya. Namun, bila ternyata karakter yang dimiliki orang tersebut lebih mendukung untuk menjadi bukan seorang enterpreneur, bisa jadi cocoknya memang begitu adanya. Yang saya pahami mengenai para enterpreneur yang sukses, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang “pandai mencari celah”. Celah di sini dapat diartikan sebagai suatu kesempatan. Lainnya lagi, mereka juga berusaha untuk bisa berada pada kondisi yang strategis ketimbang operasional melulu. Bila yang diusahakannya mengalami halangan, tidak segan-segan mereka mengambil jalan memutar… atau menunggu… hingga ada kesempatan yang paling tepat untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi tujuannya. Mencari celah… adalah berbeda dengan memaksa atau ngotot. Malah penilaian saya pada orang-orang yang senang memaksa atau ngotot, sebagai orang yang perlu mendapat rasa kasihan. Kasihan… karena orang tersebut terlihat demikian menjijikkan di mata saya. Mencari celah lebih banyak menggunakan akal. Sedangkan si pemaksa atau si pengotot… lebih banyak menggunakan otot. Setau saya, orang yang senang main otot, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang dekat dengan dunia premanisme. Termasuk para preman tentunya. Masih lebih mending menjadi mafia sekalian, seperti layaknya godfather. Namun seorang godfather pun, bila saya perhatikan, sangat jauh pembawaannya dari tampilan sebagai seorang yang… pemaksa. Banyak orang memaksa sesuatu agar ia berhasil mencapai tujuannya. Namun banyak sekali dari mereka merasa hampa terhadap apa yang kemudian berhasil mereka raih. Karena berbagi hidup didapatkan dengan cara berbagi. Bukan dengan cara dipaksakan.

Bencana Akibat Kerusakan Alam Lebih Berbahaya daripada Terorisme

May 4th, 2011

Pemirsa mungkin kenal dengan Osama bin Laden. Kalo kata teman saya, beda Osama dengan Obama
, cuma beda huruf ‘S’ doank :) Dengan tewasnya Osama, seakan-akan dunia telah diamankan dari bencana. Benarkah demikian?

Di sini saya berharap saya mampu berbicara berdasarkan data. Sehingga dengan demikian, semoga saja saya berbicara di sini bukan bertujuan untuk membual. Karena yang membual hanyalah si pembual. Kalau ada preman ngaku sebagai polisi, tentulah hanya pembual yang melakukannya. Sehingga wajar kalau muncul peristiwa “sepatu terbang” :)

Berdasarkan data yang saya peroleh dari suatu media, tertanggal 3 Mei 2011, mengenai bencana alam yang terjadi di negeri impian, yang kebetulan katanya Indonesia, dapat pemirsa lihat sbb:

bencana-kerusakan-alam-akibat-kapitalisme

Terlihat bahwa ternyata bahaya akibat bencana alam, tentunya yang diakibatkan oleh kerusakan alam, jauh lebih besar dari bahaya yang diakibatkan oleh terorisme seperti aksi teror dan sabotase.

Bila pemirsa masih bisa berpikir dengan baik (dan sehat), tentunya pemirsa akan bisa menyimpulkan mana sesungguhnya yang lebih berbahaya bagi dunia. Terorisme… atau kapitalisme.. :)


Bad Behavior has blocked 632 access attempts in the last 7 days.