Archive for the ‘Ilmu-Hikmah-Cahaya’ Category

Kesemestaan

Sunday, August 30th, 2015

semesta

Menang

Belum tentu menang

Kalah

Belum tentu kalah

Kaya

Belum tentu kaya

Miskin

Belum tentu miskin

Semua itu variabel dari kesemestaan

Berbahagialah seseorang

Yang memahami makna dari kesemestaan

Antara Kesholehan dan Kesuksesan

Sunday, May 31st, 2015

Saat saya menghadiri Sholat Jumat, sang kyai berkhutbah kurang lebih seperti ini, “Bila Anda ingin pintar, jadilah orang yang sholeh. Bila kesholehan Anda tidak membuat Anda pintar, maka niscaya Anda akan beruntung. Kepintaran tidaklah selalu sebanding dengan keberuntungan. Namun keberuntungan seseorang selalu dapat membawa dirinya kepada kesuksesan”.

Sholat berjamaah di mesjid

Semoga kita menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Memaknai Rasa Syukur

Tuesday, March 31st, 2015

Memaknai Rasa Syukur

Bila kita mempelajari Sirah Nabawi (Kisah Kehidupan Nabi), akan didapati bahwa Rasulullah S.A.W. sangat banyak ibadahnya. Hal ini dikarenakan Beliau memiliki kesanggupan untuk memaknai rasa syukur. Sebagaimana tatkala istri Beliau bertanya, bukankah Beliau sudah dijamin masuk surga, lalu mengapa seperti tiada henti dalam beribadah. Jawaban Beliau adalah lantaran rasa syukur Beliau terhadap Alloh SWT.

Bila Rasulullah tidak pandai memaknai rasa syukur, mungkin hal yang muncul di dalam benak Beliau adalah seperti yang ditanyakan oleh istri Beliau.

Jikalau kita memiliki kamampuan memaknai rasa syukur, maka rasa syukur kita dapat berlipat ganda. Semoga kita bisa memaknai rasa syukur, agar kita semakin banyak bersyukur.

Sejenak Tertawa

Sumber Foto: Kelas Inspirasi Bandung Angkatan III

Photo by: Pinasthika Paramita

Hikmah Berbagi, Menjadi Relawan Kelas Inspirasi Bandung

Saturday, February 28th, 2015

Dengan segala kesibukan saya, termasuk dalam menjalani rutinitas saya dalam bekerja, sesungguhnya selalu ada keinginan untuk berbagi. Berbagi yang murni berbagi, bukan berbagi lantaran ada kepentingan di balik itu, seperti adanya pesan-pesan sponsor.

Pada akhirnya, saya bergabung dengan Komunitas Kelas Inspirasi Bandung, untuk bisa mengaktualisasikan keinginan saya untuk berbagi. Sebuah komunitas yang mengusung tema tentang bagaimana orang-orang yang telah memiliki profesi, membagi cerita dan pengalamannya dalam menjejaki profesinya masing-masing. Dengan harapan, generasi penerus selanjutnya dapat terinspirasi, agar dapat mengikuti jejak mereka, atau bahkan lebih daripada itu.

Saya sendiri sebagai seorang dosen, memiliki tiga fungsi dalam pekerjaan saya. Yaitu sebagai peneliti, sebagai pengajar dan juga sebagai konsultan. Begitu selalu saya menjelaskan, tatkala memberi inspirasi kepada anak-anak di SDN Kacapiring, Bandung yang saya kunjungi.

Ada yang menarik tatkala saya bertanya kepada anak-anak yang saya beri inspirasi. Yaitu tatkala saya menanyakan tetang ketiga fungsi yang tertera dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Dari ketiga fungsi tersebut, yang paling banyak diminati oleh anak-anak adalah dosen sebagai peneliti. Kedua adalah dosen sebagai pengajar. Sedangkan yang paling sedikit adalah dosen sebagai konsultan.

Kelas Inspirasi Bandung Angkatan Ketiga

Ada dua hal yang bisa saya ambil hikmahnya dari apa yang saya alami selama saya menjadi Relawan Kelas Inspirasi Bandung. Yang pertama, sebenarnya anak-anak tersebut sudah memiliki keinginan yang besar untuk maju secara akademis. Hanya tinggal apakah para penguasa negeri ini dapat memberi fasilitas yang memadai bagi mereka untuk maju atau tidak. Yang kedua, saya bersyukur karena Alloh SWT yang telah memberikan nikmat begitu banyak kepada diri saya. Yang terkadang, saya baru menyadari hal tersebut, manakala saya melihat ke bawah dan bukan melihat ke atas.

Semoga kita menjadi bangsa yang pandai bersyukur.

Kelas Inspirasi Bandung Angkatan Ketiga

Nilai Kehidupan Yang Pragmatis, Menjebak Kita Pada Kemajuan Yang Pragmatis

Wednesday, March 6th, 2013

Sudah beberapa kali saya menghadapi adanya mahasiswa yang kemampuan akademisnya kurang, namun hampir semuanya.. memiliki permasalahan yang justru permasalahannya adalah bukan berasal dari permasalahan akademis mereka. Bukan permasalahan internal dari diri mereka. Namun ternyata permasalahannya adalah permasalahan eksternal dari diri mereka.

Banyak mahasiswa menganggap nilai Indeks Prestasi adalah segala-galanya, akibat dari harapan yang terlalu tinggi dari kondisi yang ada di sekitar mereka. Termasuk besarnya harapan orang tua mereka kepada diri mereka. Padahal bisa jadi sesuatu yang menjadi harapan orang tua mereka, bukanlah suatu hal yang benar-benar bernilai bagi diri mereka.

Baru saya sadari pada akhirnya, masalah pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana kita menciptakan manusia yang memiliki keseimbangan. Baik keseimbangan jasmani maupun rohaninya. Sebab bila jasmani dan rohaninya sudah benar-benar seimbang, diterpa berbagai permasalahan apa pun, manusia itu akan kuat menghadapinya dan akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan hidupnya.

Sering kita terjebak pada definisi yang pragmatis akan arti dari suatu “kemajuan”. Dan ini yang menyebabkan mengapa tingkat bunuh diri, perceraian dan kasus-kasus kriminal yang tinggi.. justru diperoleh predikatnya.. di negara-negara yang katanya “sudah maju”. Sehingga tidaklah benar bila mengatakan bahwa kemajuan itu.. termasuk di dalamnya kemajuan di bidang pendidikan.. konotasinya selalu dianggap sesuai dengan cara melakukan modernisasi.

Terkadang, segala sesuatu yang sudah demikian kronisnya untuk dicarikan solusinya, ternyata solusinya adalah tidak jauh-jauh.. dari kondisi.. bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang pemaaf..

Puasa Itu 28 Hari? :)

Saturday, August 18th, 2012

Menarik tatkala pemerintah negeri impian hendak menentukan awal 1 Ramadhan. Karena ada yang mengatakan bahwa 1 Ramadhan jatuh tanggal 20 Juli 2012, ada juga yang mengatakan jatuhnya tanggal 21 Juli 2012. Saya gak akan mengatakan bahwa saya mulainya tanggal 20 atau 21. Tapi yang ingin saya katakan adalah.. daripada saya denger “katanya-katanya-katanya..” pada akhirnya menjelang penetapan 1 Ramadhan tersebut saya nonton aja perdebatan antar para ulama di TV. Padahal saat itu boleh dibilang saya udah agak2 ngantuk2. Maklum.. kebiasaan dari kecil gak suka begadang. Boleh dibilang pada akhirnya saya termasuk yang berbahagia karena memilih berpuasa pada tanggal 1 Ramadhan berdasarkan pengetahuan yang menjadi tanggung jawab saya sendiri. Gak ikut-ikut. Sampe2 saya bilang ke keluarga saya di Jogya (karena kebetulan saat awal Ramadhan saya masih di Jogya), bahwa saya melakukan ini bukan karena saya pengikut “aliran lurus atau pun sesat”.

Cuma yang kasian seh, yang awal puasanya tanggal 21 Juli 2012, sedangkan lebarannya tanggal 19 Agustus 2012. Itu teh.. perasaan masih 28 hari lah yauw. Berarti masih perlu mengganti sehari karena puasanya.. kurang sehari :) Bener kan ya? :)

Mungkin saya salah kali ya :) Mungkin yang bener adalah.. asal bisa nyalain petasan :)

Niat Pada Akhirnya Yang Menentukan

Saturday, August 18th, 2012

Saya sebenernya boleh dibilang pembenci Facebook. Atau setidaknya ogahlah yang namanya buka2 Facebook. Sebagai orang yang gak doyan Facebook, cukup kaget tatkala ada tulisan yang menyatakan bahwa cowok yang gak suka gaul di Facebook adalah ciri cowok yang suka punya wanita idaman lain. Tapi lucunya, menurut survey, selingkuh pada jaman sekarang, paling banyak di-trigger oleh yang namanya.. Facebook.. Mana pernyataan yang benar? Bingung kan? :)

Ada juga kasus yang mirip2 kondisi di atas. Saat ceramah menjelang taraweh, dikasi tau bahwa ada ustad yang bilang bahwa tidurnya orang yang berpuasa atau beritikaf adalah berpahala. Tapi ada juga ustad yang lain bilang, klo pahala tidak akan dicatat klo seseorang dalam keadaan tidak sadar. Salah satu kondisi yang memenuhi hal tersebut adalah.. tidur. Bingung kan? Mana yang bener mana yang salah neh? :)

Klo saya seh ambil prinsip santay aja. Maklum orang awam seh. Pokoke tergantung niat ajahhh. Klo tidur diniatkan untuk ibadah, biar gak sakit, biar ibadah na makin ter-manage dengan baik, jadilah tidur itu ibadah. Tapi klo tidur niatnya biar puasa gak batal alias tidur biar pas bangunnya tinggal buka puasa, nah yang kayak gitu mah saya kembalikan ke yang bersangkutan deh.. no comment ajahhh.

Jadi gtu aja ya. Gimana caranya supaya tau niat seseorang baik atu jelek? Gampangnya.. belah aja dada orang itu, trus diliat di jantungnya apakah ada tulisan baik atau buruk? Klo gak yakin bakal muncul tulisannya, jangan pernah tuh ngebelah dada orang :)

Mendidik Dalam Semenit

Saturday, August 18th, 2012

Bila seseorang dididik materialistis, selama puluhan tahun.. Kemudian ada yang berharap agar orang tersebut bisa diubah dalam “semenit”, supaya jadi orang yang menghargai moral.. Kira-kira bisa gak?

Saya yakin bisa-bisa aja seh :) Cuma butuh sesuatu yang benar2.. mengguncangkan jiwa orang itu.. agar ia pada akhirnya menghargai apa yang disebut dengan kata.. “M-O-R-A-L”.. Mau tau misalnya apa? Misalnya, mati siri kali yak.. trus dikasi liat siksa kubur tuh kayak apa.. trus dihidupin lagi. Coba deh kalo bisa. Jangan tanya saya gimana caranya. Saya sendiri juga gak tau. Apalagi klo disuruh merubah perangai orang dalam semenit. Emangnya hipnotis apahhh???

Apa Makanan Favorit Saya?

Tuesday, August 14th, 2012

Pernah saya ditanya mengenai makanan favorit saya? Kepikiran tuh makanan yang enak-enak. [Cuman saya nulis artikel ini bukan karena mikirin buka puasa yah. Cuma mencoba merenungi sebuah pertanyaan dari sesuatu yang mendasar. Apa makanan favorit saya]. Cuma kalo pertanyaannya diubah sedikit jadi.. apa makanan yang ingin saya makan tatkala menjelang ajal saya? Ternyata jawabannya berbeda banget dengan bayangan saya. Saya cuma ingin makan nasi yang renyah barang sejumput plus tahu yang lembut. Dah itu aja. Bingung kan?

Saya pernah menonton sebuah film fiksi tentang pertandingan antar chef. Chef boleh dibilang adalah gelar untuk seorang pakar di bidang masak-memasak. Banyak ujian yang dilalui oleh sang chef ini untuk meraih gelar master di bidangnya. Sampai akhirnya tibalah pertandingan yang paling menentukan. Pertandingan final menentukan sang juara. Tiba-tiba ia seperti kebingungan, mengenai apa yang ingin ia olah untuk disuguhkan dalam pertandingan yang sangat menentukan tersebut. Lama ia berdiri termenung sambil memejamkan mata mengenai apa yang ingin ia masak. Sedangkan lawannya telah hampir selesai dalam menyelesaikan masakannya.

Akhirnya sang chef sampai pada pertanyaannya yang paling mendasar.. apa makanan yang membuat semua rakyat saya bahagia memakannya? Apa makanan yang menjadi simbol kebahagiaan rakyat saya? Jawabannya ternyata adalah sup dari olahan daun sawi. Akhirnya dengan keyakinan yang sangat besar untuk memenangkan pertandingan tersebut, ia mengambil bahan-bahan untuk membuat olahan sup dari daun sawi tersebut. Sepertinya sederhana.. tapi sesungguhnya tidaklah sesederhana dengan apa yang dilihat kasat mata.

Pada saat penilaian, semua juri yang memakan daun sawi dari sup olahan sang chef seperti terkejut. Mungkin rasanya enak atau.. lebih kepada mengingatkan mereka akan sesuatu yang sangat dalam di bathin mereka. Terlebih tatkala meminum kuah sup tersebut. Semua juri seperti berubah posisi seperti bersemedi, diam seribu bahasa dengan mata terpejam. Lamaaaaaa sekali. Tentulah pemirsa tau siapa pemenang dari kisah ini bukan?

Kadang saya mencoba menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan saya dengan jawaban yang sederhana namun mendasar. Apa makanan favorit saya? Mungkin jawabannya ada pada gambar berikut ini kali ya :)

mie-instan

Yang jelas makanan ini pernah membuat saya survive tatkala negara ini terguncang krisis moneter. Suatu kondisi yang pernah membuat saya hanya makan sekali sehari saja, itu pun bukan dengan lauk yang boleh dibilang.. “lauk sangat biasa”. Dan saya yakin banyak orang yang pernah merasa tertolong oleh makanan ini. Sampai-sampai saya pernah bergumam pada diri saya.. harusnya pencipta mie instan ini diberikan hadiah nobel kali ya. Seperti Muhammad Yunus yang pernah menciptakan makanan chicken nugget agar rakyatnya di Pakistan bisa survive dengan gizi yang lebih baik, sehingga para balitanya tidak terancam memiliki IQ yang jongkok.

Bagaimana pemirsa? Apa Anda setuju? :)

Hanya Mencoba Menjawab Pertanyaan

Tuesday, August 14th, 2012

Awal-awal Ramadhan saya sowan ke Jogya. Untuk bertemu Bu De dan Pak De dan keluarga yang ada di Jogya. Selama di Jogya.. biasanya tuh Om sama Tante saya suka seperti mengkritisi apa yang saya lakukan. Maklumlah.. namanya juga Om dan Tante. Apalagi Bu De. Yang namanya Bu De kalo uda cerita, saya seperti harus mengangguk-angguk kepala, bisa dari pagi sampe sore nemenin dia ngobrol kali ya :)

Beberapa pertanyaan kurang lebihnya saya cuplik beserta jawabannya. Namun gak sama persis seh dari “cara bertanya” dan “cara menjawabnya”. Cuma inti pertanyaan dan jawabannya adalah kurang lebih sama.

Q: Neh minum asem kunyit biar badan kamu gak bau!
A: Saya setiap hari uda pake deodorant plus minyak wangi. Insya Alloh badan saya gak bau-bau banget

Q: Kamu olahraga biar gak gemuk!
A: Klo lagi gak puasa, biasanya saya 3 kali seminggu ke gym untuk fitness

Q: Lari sore gitu. Jangan sekedar fitness!
A: Klo lagi fitness dan Om liat saya, saya tuh boleh dibilang lari bisa berkilo-kilo

Q: Makannya dikurangi!
A: Saya baru-baru ini menjalankan program diet. Pagi sama sore hanya makan lauk tanpa nasi

Q: Klo bawa handuk yang besar donk! Abis mandi jangan pake handuk sekecil itu!
A: Ini handuk cuma karena saya sebagai musafir maka saya bawa yang ini. Hanya untuk kepraktisan. Bukan biasanya saya abis mandi hanya handukan dengan handuk sekecil ini

Kadang saya suka mikir.. sebenernya pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukanlah pertanyaan yang mesti saya jawab. Meski saya hanya mencoba menjawab. Karena saya tau apa yang saya harus lakukan. Kayak-kayaknya seh.. Om saya tuh agak-agak jengkel kenapa saya gak kawin-kawin. Jadi nyuruh saya dandan sebaik mungkin agar cepet dapet jodoh. Cuma klo Alloh SWT belum mengijinkan.. saya mo bilang apa coba?

Pemirsa.. saya pernah percaya seratus persen kepada sepupu saya untuk dinikahkan kepada seorang gadis yang.. tampangnya saya gak pernah tau sama sekali. Pernah sekali-sekalinya dalam seumur hidup saya, saya melakukan hal tersebut. Karena ya itu tadi.. saya percaya kebaikan hati sepupu saya tersebut. Lalu apa yang terjadi? Saya ditolak tuh.

Klo pemirsa jengkel pula sama saya karena saya gak kawin-kawin.. dan ingin memasangkan gelar laki-laki “kurang baik” kepada saya.. baca dulu dua paragraf sebelum ini. Biar.. JELASSSSSS!!! :) [No Hard Feeling Mode]

NB: Sebenernya gak perlu saya jawab kan pertanyaan tersebut? :)