This site chose VeriSign Trust Seal to promote trust online with consumers.
ABOUT TRUST ONLINE  

Posts Tagged ‘Bahagia’

Memaknai Kata Sejahtera

Friday, April 17th, 2009

Banyak orang ingin bahagia. Sampe2 salah seorang sahabat Rasulullah sebelum masuk Islam, tatkala ditawari oleh Rasulullah untuk masuk Islam, maka pertanyaan yang pertama kali muncul adalah.. kurang lebihnya “Apakah saya akan bahagia?” Bahagia di sini maksudnya adalah bahagia dengan menjadikan Islam sebagai dien yang ia yakini sebagai jalan hidupnya. Ketika sahabat tersebut meminta untuk berpikir selama 2 pekan, Rasulullah malah memberinya waktu selama 2 bulan. Hmm.. bahagia ya. Moga2 bila saya mencoba mendefinisikan kata bahagia ini artinya bukan.. “manakala orang lain menderita”. Sebenernya klo saya mencoba membahas bahagia itu sendiri, maka pemaknaan awalnya justru bukan berasal dari kata “bahagia” itu sendiri pemirsa. Tapi pemaknaannya dimulai dari kata “sejahtera”. Lantaran orang sejahtera, ato setidak-tidaknya “merasa” sejahtera, maka ia bahagia. Cuma apa itu sejahtera? Mari kita sama2 baca cerita berikut ini..

Tersebutlah suatu tempat di hutan belantara, hiduplah seekor burung mungil. Hidup bebas dengan segala apa yang ia bisa dapatkan dari hutan itu baik berupa makanan maupun minuman juga tempat tinggal. Sekilas ne burung kecil kasian juga pemirsa. Lantaran gak sedikit predator yang ingin memangsanya. Namun alhamdulillah dengan caranya sendiri, ia bisa mempertahankan diri. Suatu ketika tatkala si burung kecil ini melintas melalui sungai, ada beberapa manusia dengan perahu beserta perbekalan yang dibawanya melintasi hutan belantara tersebut melalui sungai. Sebuah kapal yang mewah tentunya. Si burung kecil melihat saat itu terdapat seekor burung kakak tua yang kakinya di rantai di tempat ia hinggap. Tatkala si manusia sedang tidak ada, entah lagi makan ato istirahat, si burung kecil mendekati si burung kakak tua. Terjadilah obrolan antara si burung kecil dengan si burung kakak tua. “Wahai kakak tua, betapa bahagianya dirimu dengan segala kesejahteraan yang Kau miliki” kata si burung kecil. Kakak tua pun menyahut “Wahai burung kecil, Engkau melihat kesejahteraan dari apa yang bisa Engkau lihat. Namun dirimu tidak mengetahui apakah benar diriku ini bahagia dengan apa2 yang aku peroleh berupa kesejahteraan ini. Diriku malah merasa dirimu adalah burung yang paling bahagia lantaran Engkau bisa bebas terbang ke mana pun Engkau mau” jawab si kakak tua.

Hikmah apa yang bisa Anda petik pemirsa? Dari obrolan antara si burung kecil dan si kakak tua tersebut? Klo Anda hendak memaknai mengenai kesejahteraan itu sendiri, memaknai suatu hal yang sangat mungkin membuat diri Anda bahagia, maka sejahtera sesungguhnya letaknya ada di.. dalam hati.. Pernahkah Anda melihat seorang yang berjuang dengan segala kesusahannya sampai2 bila kita melihatnya maka kita akan melihat betapa ia menderita. Namun orang ini menjawab bahwa ia bahagia dengan keadaannya lantaran.. ia telah memberi dengan apa yang ia bisa beri. Pernah dalam suatu training motivasi.. dikatakan oleh si trainer bahwa.. kebahagiaan sejati justru.. akan Anda peroleh manakala Anda bisa memberi.. dalam arti menjadi mahluk yang bermanfaat bagi mahluk lainnya. Bener gak seh pemirsa? Moga2 aja benar.

Apa Bisa Bahagia Dengan Cara Begini?

Thursday, April 16th, 2009

Saya mo nanya neh pemirsa. Tapi sebenernya saya gak butuh jawaban kali ya. Cuma butuh perenungan aja dari para pemirsa yang budiman. Jikalau, pemirsa memiliki istri yang cuanteeek jelita ato suami yang tuampaaan neee bikin cewe2 kesengsem. Tapiii.. semua temen2 dari istri ato suami pemirsa demen banget yang namanya.. bermuka nyinyir, berprasangka, ngiri, nyelekit, menghina, memfitnah. Apakah kira2 pemirsa yang budiman akan merasa bahagia dengan apa yang pemirsa peroleh? Gak sedikit loh orang cerai bukan lantaran suami ato istri na yang bermasalah. Namun gara2 mertuanya yang bermasalah. Bener apa bener pemirsa? Nah ini klo kejadian.. pagi dinyelekitin si A lalu siang dinyelekitin si B trus sore dinyelekitin si C. Klo kejadiannya tiap hari.. wess keren dah. Kayak makan tiga kali sehari.

Apa Saya Bisa Memilih? Dengan Bahagia?

Thursday, April 2nd, 2009

Kurang lebihnya, pernah suatu saat sebelum sahabat Rasulullah masuk Islam, tatkala ditanya oleh Rasulullah, apakah ia bersedia menerima Islam sebagai keyakinannya, maka sahabat tersebut bertanya “Apakah saya akan bahagia?”. Sebenarnya ini adalah juga pertanyaan yang selalu ada di dalam hati saya. Kapan-kapan saya mencoba mendefinisikan apa sih “bahagia” itu sesungguhnya? (Cuma gak janji, klo sempet aja nulisnya). Saat saya memilih bergabung dalam suatu kelompok, saya pun berharap agar.. kebahagiaan dapat diraih secara bersama-sama. Tentunya lebih baik ketimbang berusaha meraihnya sendirian. Namun tatkala kebanyakan dari anggota dalam kelompok itu seperti tidak komitmen terhadap ketetapannya sendiri, ini bisa menjadi suatu “masalah”. Akan ada korban.. mulanya hanya sebagai IRT alias Incident Response Team.. lama-lama jadi “tumbal”. Saya ingin mengatakan pendapat saya pribadi kepada pemirsa bila saya harus memilih dari semua partai yang ada.. bila masih diijinkan untuk tidak memilih alias golput tentunya.. saya akan memilih golput. Cuma setelah keluarnya fatwa haram MUI ya.. saya berusaha untuk memilih walau sebenarnya seakan-akan saya tidak tau sama sekali esensi dari mengapa saya harus memilih. Seakan tidak ada jalur sama sekali untuk memberikan sikap “mosi tidak percaya”. Saya senang sekali dengan pernyataan salah seorang rekan saya yang mengatakan.. bahwa ia akan golput. Namun tatkala saya bertanya apakah ia akan merasa berdosa melakukan itu. Ia menjawab bahwa ia “mengakui” bahwa ia berdosa lantaran menentang fatwa. Suatu yang saya rasa tidak akan dilakukan oleh seorang yang memiliki karakter main watak. Saya bertanya lagi kepadanya apa yang akan ia jelaskan mengenai pertanggungjawaban yang dilakukannya di akhirat kelak. Ia mengatakan bahwa ia merasa tidak mengenal orang-orang yang akan ia pilih. Ya wess.. semoga selamat dunia akhirat. Saya pun tidak berani berkata apa-apa apakah tindakannya salah atau benar. Namun apa yang dilakukannya adalah sama seperti apa yang akan saya lakukan bila saya memilih untuk golput. Namun saya masih berusaha untuk tidak golput. Bila pun saya harus memilih.. dan bila pun pemirsa sependapat dengan saya.. saya akan memilih partai Islam lantaran saya adalah seorang muslim. Bisa jadi meski saya tidak percaya terhadap mereka. Bahkan mungkin.. sekalipun mereka akan membinasakan diri saya dengan nyelekit-nya, pengusiran-nya, penghinaan-nya, fitnah-nya dan segala tindakan negatif lainnya. “Bila pun”.. saya mengajak pemirsa mari sama-sama sebagai seorang muslim kita memilih partai Islam, bukan berarti saya mengajak pemirsa untuk bisa mencapai kebahagiaan. Saya tidak berani memberi jaminan tentang kebahagiaan itu sendiri mengingat arti kebahagiaan bagi masing-masing orang adalah berbeda-beda. Bahkan mungkin ada yang mendefinisikan kebahagiaan itu adalah bila orang lain menderita walau ia tidak mau mengakuinya secara eksplisit. Bisa jadi dengan memilih partai Islam.. pemirsa akan malah semakin menderita dari penderitaan yang sudah pemirsa alami saat ini. Itu yang bisa saya katakan sehingga saya di sini tidak menjanjikan apa pun kepada pemirsa bilamana pemirsa memilih partai Islam. Namun ada hal yang perlu dicermati.. yaitu adanya sebuah syafaat. Namun syafaat hanya akan diberikan kepada yang terdefinisikan sebagai umat Rasulullah SAW. Masalah apa definisi umat itu sendiri biarlah pemirsa mencari tau sendiri itu apa. Kan banyak ulama atau “orang yang dianugerahi ilmu” yang bisa ditanya. Dan apakah saya berbicara mengenai partai Islam ini berarti menganjurkan pemirsa untuk memilih partai Islam? Saya meminta ijin untuk tidak menjawabnya. Dan meminta ijin untuk tidak menjelaskannya. Mohon maaf lahir batin. Namun saya meminta ijin untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan lantaran saya merasa itu benar. Untuk meyakini sesuatu itu benar saya mati-matian bertahan agar sampai kepada suatu hal.. yaitu mati husnul khotimah. Terlepas apakah “benar” yang saya yakini itu memang benar adanya. Karena bisa jadi kebenaran yang saya yakini adalah suatu hal yang salah menurut definisi pemirsa. Sama halnya saya mati-matian bertahan pada penderitaan untuk satu hal.. yaitu syafaat. Demikian lebih kurangnya.


Bad Behavior has blocked 58 access attempts in the last 7 days.