Nilai Kehidupan Yang Pragmatis, Menjebak Kita Pada Kemajuan Yang Pragmatis

Sudah beberapa kali saya menghadapi adanya mahasiswa yang kemampuan akademisnya kurang, namun hampir semuanya.. memiliki permasalahan yang justru permasalahannya adalah bukan berasal dari permasalahan akademis mereka. Bukan permasalahan internal dari diri mereka. Namun ternyata permasalahannya adalah permasalahan eksternal dari diri mereka.

Banyak mahasiswa menganggap nilai Indeks Prestasi adalah segala-galanya, akibat dari harapan yang terlalu tinggi dari kondisi yang ada di sekitar mereka. Termasuk besarnya harapan orang tua mereka kepada diri mereka. Padahal bisa jadi sesuatu yang menjadi harapan orang tua mereka, bukanlah suatu hal yang benar-benar bernilai bagi diri mereka.

Baru saya sadari pada akhirnya, masalah pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana kita menciptakan manusia yang memiliki keseimbangan. Baik keseimbangan jasmani maupun rohaninya. Sebab bila jasmani dan rohaninya sudah benar-benar seimbang, diterpa berbagai permasalahan apa pun, manusia itu akan kuat menghadapinya dan akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan hidupnya.

Sering kita terjebak pada definisi yang pragmatis akan arti dari suatu “kemajuan”. Dan ini yang menyebabkan mengapa tingkat bunuh diri, perceraian dan kasus-kasus kriminal yang tinggi.. justru diperoleh predikatnya.. di negara-negara yang katanya “sudah maju”. Sehingga tidaklah benar bila mengatakan bahwa kemajuan itu.. termasuk di dalamnya kemajuan di bidang pendidikan.. konotasinya selalu dianggap sesuai dengan cara melakukan modernisasi.

Terkadang, segala sesuatu yang sudah demikian kronisnya untuk dicarikan solusinya, ternyata solusinya adalah tidak jauh-jauh.. dari kondisi.. bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang pemaaf..

Tags: , ,

Leave a Reply


four + 3 =