Antara Assessment dengan Audit

Pernahkah pemirsa melakukan assessment? Pernah pulakah pemirsa melakukan audit? Ada yang menarik seputar assessment dan audit yang pernah saya perbincangkan dengan salah seorang rekan saya. Ada suatu kursus profesional yang mengacu pada standarisasi tertentu.. dan standarisasi tersebut biasa digunakan sebagai analisis dalam membuat cetak biru suatu Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI). Namun lantaran poin2 standarisasinya sangat banyak sekali, akhirnya jatoh2 nya sering digunakan sebagai alat untuk audit. Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI) semacam ini menurut saya lebih dekat kepada “gap analysis”. Walau menurut saya terdapat juga Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI) yang tidak menggunakan gap analysis dalam pencatatan cetak biru atau blue print-nya, namun Perancanaan Strategis Sistem Informasi semacam ini sangatlah “laku” di negeri impian. Maklum aja “diimpor” oleh bandrolan bersertifikasi tertentu. Nah tatkala audit dilakukan, terdapat hal2 yang perlu diperhatikan oleh seorang auditor, agar jangan sampai auditor terjebak pada suatu assessment. Misalkan sang auditor telah mencatatkan 10 poin aturan yang harus dipenuhi.. dan ia melakukan audit misalkan terhadap 5 unit, sedangkan dari 10 poin hanya poin yang nomor satu saja yang tidak bisa dipenuhi oleh semua unit yang sedang diaudit tersebut, sedangkan poin2 yang lain pada dasarnya.. ada.. sekurang-kurangnya 1 dari 5 unit yang diaudit, memenuhinya.. maka bisa jadi justru aturan poin nomor satu itulah yang mesti di analisa. Jadi tidak saklek bahwa.. mentang2 poin nomor satu tidak ada yang sanggup memenuhinya dari 5 unit yang diaudit, maka berarti kelima-lima unit itu “bersalah” semua. Malah untuk teknik audit yang benar, bisa jadi poin nomor satu dari salinan standar aturan tersebut yang bisa jadì “salah”.. setidaknya untuk kondisi “saat itu”. Beda dengan assessment.. ia hanya melakukan pengambilan data dari salinan aturan standar yang ada tanpa perlu lagi “mempertimbangkan” apakah.. poin2 yang dijadikan standar dalam assessment tersebut apakah “layak” atau tidak layak untuk dijadikan standar aturan. Nah.. orang2 di negeri impian.. yang saya perhatikan.. suka kebolak-balik tatkala melakukan audit dengan assessment. Yang dikatakan sedang melakukan audit.. menurut saya, ia sebenarnya sedang melakukan assessment.. dan bukan sedang melakukan audit. Pada audit, ada gap analysis yang dianalisa apakah sampai pada jenjang tertentu, suatu unit AKAN BISA mencapai standar sesuai yang diharapkan atau tidak.

Tags: , , , , ,

Leave a Reply


5 − four =