Antara Tawaf dan Berlatih Kungfu

Kisah ini adalah salah satu kisah bahagia dari banyak kisah bahagia lainnya saat saya berada di Mekkah al-Mukarramah. Sebab saat itu, ada kejadian yang tidak biasa saat saya melakukan tawaf di Masjidilharam.

Saat itu, halaman Kabah tidak bisa dimasuki bila seorang laki-laki tidak berpakaian ihram. Adanya pemberlakuan prioritas untuk yang berpakaian ihram ini, mungkin lantaran saat itu ada banyak pengembangan di kompleks Masjidilharam.

Saya datang ke Masjidilharam sambil berpakaian ihram. Namun lantaran saya belum mengetahui secara detail bagaimana caranya agar bisa masuk ke halaman Kabah, akhirnya saya hanya bisa melakukan tawaf di luar halaman Kabah. Tentu saja hal ini mengakibatkan lingkaran tawaf yang harus saya putari menjadi demikian besar dan lebih banyak memakan waktu ketimbang melakukan tawaf di halaman Kabah.

Setelah Subuh, saya pun berniat melakukan tawaf sambil berlari-lari kecil. Maksudnya agar lebih cepat selesai, sekalian melatih kebugaran, mumpung masih pagi hari dan udaranya juga segar. Begitu ungkap saya dalam hati.

Kebetulan saat itu, sekonyong-konyong muncul seorang laki-laki bule, seperti dari Turki, yang juga melakukan tawaf sambil berlari-lari kecil. Jadilah akhirnya saya tawaf sambil mengikuti laki-laki bule tersebut dari belakang, sambil berlari-lari kecil.

Dalam hati saya, saya berkata bahwa betapa enaknya tawaf sambil berlari-lari kecil. Sebab, kalau sambil jalan bisa terlalu lama selesainya. Namun tiba-tiba seusai berkata demikian di dalam hati, putaran saya terhenti lantaran saya ingin ke kamar kecil. Jadilah akhirnya saya berpisah dengan laki-laki bule tersebut.

antara tawaf dan berlatih kungfu

Seusai dari kamar kecil saya bermaksud melanjutkan tawaf kembali. Namun kali ini ada yang menarik. Sebab, saat saya hendak mulai tawaf kembali, saya bertemu sosok laki-laki hitam yang tinggi besar berjalan cepat sekali. Akhirnya saya mengikuti laki-laki hitam tersebut dari belakang. Lucunya, saya agak kesulitan mengikuti laki-laki hitam ini sampai-sampai saya harus mengikutinya sambil berlari-lari. Padahal si laki-laki hitam ini tawaf sambil berjalan.

Setelah selesai sekitar dua putaran mengikuti laki-laki hitam ini, tiba-tiba saat hendak memulai putaran selanjutnya, laki-laki hitam ini menoleh ke belakang, mengacungkan jempol, sambil tersenyum kemudian berkata, “Ready?!”. Rupanya dia mengetahui kalau saya selalu mengikutinya dari belakang. Sambil agak gugup saya pun menjawab hanya dengan bahasa isyarat dengan mengacungkan jempol.

Namun yang membuat saya agak kaget, ternyata kemudian laki-laki hitam ini melakukan tawaf sambil berlari. Dalam hati, saya berkata bahwa mengikuti laki-laki ini saat dia jalan saja sudah membuat saya berlari. Sekarang dia tawaf sambil berlari. Saya sempat agak ragu untuk tetap mengikutinya dari belakang sambil berlari.

Akhirnya, kami pun tawaf sambil berlari. Lari yang dilakukan adalah lari sambil zig-zag. Hal ini dilakukan untuk menghindari tabrakan dengan kerumunan orang yang juga sama-sama melakukan tawaf.

Rasanya napas serasa ingin putus karena laki-laki hitam ini lari cepat sekali. Namun ada hikmah dari kejadian saat saya sempat sakit sebelum melakukan umrah di tahun 2018. Saya telah belajar apa itu Tai Chi, bagaimana gerakan langkah Tai Chi, berikut liukan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh saat melakukan langkah-langkah Tai Chi. Akhirnya, saat saya berlari sambil zig-zag, saya memutuskan untuk melakukan napas Tai Chi berikut gerakan langkah kaki dan liukan tangannya.

Saat mengimbangi larinya si laki-laki hitam tersebut, walau napas rasanya mau berhenti, namun entah seperti ada kebahagiaan di dalamnya. Capek, namun sangat enggan untuk berhenti. Sebab secara tiba-tiba, saya merasa saat itu Alloh SWT berkata, “Wahai hamba-Ku, coba tunjukkan latihan Tai Chi yang kau lakukan selama ini. Aku ingin melihatnya!”. Jadilah sesi tawaf saat itu bagaikan berlatih kungfu. Memang yang saya lakukan tawaf, tapi gerakan langkah saya yang cepat menghindari kerumunan orang untuk mengimbangi kecepatan lari si laki-laki hitam ini, pada akhirnya bagaikan orang yang sedang berlatih kungfu.

Untungnya setiap sampai garis batas setelah Rukun Yamani, laki-laki hitam ini berjalan sebentar sambil memberi isyarat ke Hajar Aswad. Sehingga setiap saat itu, saya selalu berusaha mengatur napas saya untuk persiapan berlari kembali.

Saat putaran keenam selesai, ternyata si laki-laki hitam ini telah menyelesaikan putarannya yang ketujuh. Si laki-laki hitam ini, sambil tertawa, berkata kepada saya sambil mengangkat kedua tangannya. “Finish! Finish!”, begitu katanya. Saya pun berkata, “Jazakalloh!”. Akhirnya kami pun berpisah dan saya melanjutkan putaran ketujuh sambil berjalan. Saya memutuskan berjalan karena dalam konsep olahraga ada sesi yang dinamakan sesi pendinginan.

Itulah sebuah kisah bahagia yang saya alami saat umrah di tahun 2018. Setiap kali saya teringat kisah ini, seperti ingin menitikkan air mata. Tapi bukan air mata kesedihan. Seperti ada rasa haru, bahagia, dan ingin mengulanginya kembali. Saya selalu berharap bisa ke Mekkah lagi dan mendapatkan nasihat langsung dari Alloh SWT. Suatu nasihat yang harapannya bisa mengubah saya menjadi lebih baik lagi.

Bukan nasihat yang keras, karena saya takut tidak kuat menghadapinya. Namun nasihat yang bisa menyentuh hati ini. Sehingga bisa menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply


7 − one =