Kijang Silver D 1071 HN, Abis Nabrak, Ngeloyor Kabur

Hari ini, Sabtu, saya ditelpon oleh temen saya. Ia bilang ayahnya sakit dan ia bermaksud meminjam sejumlah uang untuk pengobatan ayahnya. Kebetulan rekening bank yang ia miliki berbeda dengan bank tempat saya menyimpan dana. Tadinya saya hendak mentransfer dana tersebut via ATM Bersama. Namun, lantaran ternyata bank yang ingin saya transferkan sejumlah dana tersebut tidak terdaftar di ATM Bersama, akhirnya saya coba cari di Buah Batu. Kali aja di Buah Batu layanan weekend banking dari bank tersebut ada. Ternyata setelah sampai di Buah Batu, bank yang saya maksudkan tersebut tutup. Dan kata tukang parkirnya, weekend banking-nya adanya di Utara. Waduh.. jauh be’eng pikir saya. Saya sekarang ada di Selatan soale. Akhirnya saya muter2.. berusaha.. kali aja ada yang buka deket2 Buah Batu. Ternyata emang di Selatan, pada tutup semua tuh kantor cabang bank yang dimaksud. Posisi saya saat itu udah di pasar Tegalega. Saat itu macet berat. Jalannya sempit. Akhirnya terjadilah perebutan terhadap jalan tersebut. Sebenernya klo di luar negeri, kalo udah posisi begitu, yang ada, antri satu2 gtu. Cuma klo di negeri impian, terus aja yang udah nyelak, gak ada keinginan ngasi jalan satu2. Ya wess.. akhirnya saya coba ngambil inisiatif untuk ngerebut posisi jalan tersebut dengan cara “menusuk”. Saya rasa klo teknik “menusuk” tersebut masih jauh lebih sopan ketimbang teknik “memepet” yang mana “memepet” biasanya sering bikin korban spion orang tabrakan dengan spion yang dipepet. Setelah jalan tiba2 terdengar suara tabrakan di belakang. Tepat bemper belakang mobil saya sebelah kanan ditabrak oleh kijang silver. Dan lucunya, istri di sebelah si bapak yang nyupir menyalahkan saya yang merebut jalan saya. [Geleng2 kepala mode]. Padahal posisi saya udah 90 persen masuk ke jalan tersebut. Jadi.. nabrak ini lebih mirip kecelakaan “main watak” seh menurut saya. Lalu saya bilang, agar dia mengganti aja deh dengan uang pecahan 50 ribuan. Karena saya pikir dengan mobil dia yang lebih bagus dari mobil saya, masa seh duit segitu gak punya. Sebenernya biaya kerusakan mobil saya bisa jadi lebih mahal dari itu. Cuma saya menginginkan “itikad baik” berupa usaha dia untuk mengganti meski dengan duit 50 ribuan saja. Bapak itu saya liat sambil setengah cengar-cengir lalu raut muka kembali serius, begitu terus berulang-ulang sampe capek saya ngomongnya, apalagi saya juga dikeroyok dengan omelan istrinya yang duduk di sebelahnya, Bapak yang nabrak mobil saya bilang “Nanti di depan setelah brenti, saya ganti”. Gtu kurang lebihnya. Sebenernya saya bermaksud memfoto posisi tabrakan tersebut agar saya memiliki bukti. Namun karena saat itu kondisi saya “pikiran sedang bercabang-cabang” dan juga ada bapak2 lain yang mencoba melerai lantaran situasinya macet berat, ya wess.. saya coba catet aja nomor mobilnya. Kijang silver bernomor polisi D 1071 HN. Begitulah seperti tabrakan yang biasa terjadi, tuh kijang silver ngeloyor aja pergi setelah jalan mendahului mobil saya. Gak ada rasa “tanggung jawab” sedikit pun. Akhirnya saya coba menghubungi pelayanan masyarakat di saluran 112 untuk memasukkan log kejadian tersebut. Tapi operatornya gak ngangkat2 telpon saya. Lalu akhirnya saya kirim aja pesan ke SMS 1717 tentang kejadian tersebut. Pemirsa, saya seh cuma ingin mengatakan.. klo kebetulan kenal dengan mobil yang menabrak saya.. tolong katakan bahwa apa yang dia lakukan tidak akan saya ikhlaskan sampai akhirat kelak kecuali dia mau bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan. Tanggung jawab di sini bukan tanggung jawab ala main watak ya. Yang setelah minta maaf dan bertanggung jawab, terus diulangi lagi berkali-kali.

Btw, saya pernah membaca kejadian yang sama, dengan tabrakan yang lebih parah dari apa yang saya alami, di luar negeri. Namun orang2 di luar negeri berkesan lebih bertanggung jawab ketimbang orang2 yang ada di negeri impian ini. Keadilan terhadap kasus tersebut pun dengan mudahnya diperoleh meski.. sudah beberapa hari berlalu. Padahal mereka jauh individualis ketimbang orang2 negeri impian yang katanya penuh dengan “rasa kekeluargaan”. Sampe2 pernah suatu hari sepupu saya yang sering ke luar negeri bilang, bahwa orang bule itu individualis.. tapi gak egois. Sedangkan negeri impian ini, orang2 nya penuh rasa kekeluargaan.. tapinya sesungguhnya egois. Saya cuma kasian lantaran, kejadian tersebut juga dilihat oleh anak2 dari si bapak yang nabrak itu. Ternyata secara gak langsung.. ia sudah mengajarkan.. kepada anak2 nya untuk menjadi orang yang.. tidak bertanggung jawab..

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply


× three = 6