Rumah Tukang Jahit Kebanjiran

Saya punya langganan tukang jahit di Dayeuhkolot. Hasil kerjaannya lumayanlah menurut saya. Mungkin klo fasilitas yang dimilikinya lebih baik, potensinya besar untuk menghasilkan hasil kerjaan yang lebih baik menurut saya. Jarang sekali saya mendapati kendala yang berarti dari hasil kerjaannya. Suatu hari saya datang ke rumahnya untuk memperbaiki ukuran beberapa baju yang baru saja saya beli. Saat itu Si Tukang Jahit, sebutlah Pak Fulan sedang berbenah rumah. Barang2 nya semua dijemur di luar rumah. Saya senyum2 aja melihat Pak Fulan. Melihat saya datang, Pak Fulan yang sedang mengepel lantai rumahnya juga senyum2 melihat saya. “Kena banjir ya Pak?” tanya saya. “Iya, banjirnya segini” sahut Pak Fulan sambil mengarahkan tangannya ke leher. “Padahal tahun kemarin banjirnya cuma segini” lanjut Pak Fulan, yang mana ukurannya sekitar lutut kaki. Ngobrol punya ngobrol, setelah urusan saya selesai, saya pun pamit. Sempat sebelum pamit saya bertanya pada Pak Fulan “Anak2 waktu banjir gak sekolah donk ya?”. Pak Fulan cuma senyum2 aja mengiyakan. “Trus waktu banjir surat2 kayak ijazah anak2 gimana?” tanya saya. Pak Fulan bilang dia belum lagi sempat memeriksa ijazah anak2 nya apakah hilang karena banjir ato tidak. Sebab banjir yang datang, menurut Pak Fulan, datangnya mendadak sekali. Saat ia pergi dari rumah, rumahnya belum terkena banjir. Namun saat ia balik ke rumahnya, ia melihat rumahnya sudah kebanjiran setinggi leher. Saya menyarankan kepada Pak Fulan agar segera mencari ijazah anak2 nya mengingat hal itu menurut saya sangatlah penting. Bila sampai hilang sebaiknya segera membuat surat berita kehilangan begitu saran saya.

Tags: ,

Leave a Reply


eight − 5 =