Saya Bisa! Meski Harus Bo’ong

Masih seputar saat saya ngobrol dengan salah seorang rekan, cuma saat itu rekanku ngasi tau saat kami ada tugas sebagai assessor di salah satu sekolah kejuruan di Garut. Ia “mengatakan” kepada saya bahwa mengenai diri saya yang terlalu polos bertanya yang mengakibatkan image tentang diri saya, bisa dipersepsikan sebagai orang yang tidak mampu mengampu matkul oleh mahasiswa akibat kurang ja’im alias jaga image. Dan si mahasiswa tersebut menulis hal itu di dalam comment pada fesbuk yang dimiliki oleh rekan saya tersebut. Hmm.. Saya seh punya persepsi lain ya. Namun saya tidak berharap klo persepsi yang diluncurkan oleh si mahasiswa di fesbuk tersebut sama dengan persepsi mahasiswa yang saya ajar di kelas saya. Sebab apa pemirsa? Sebab saya merasa sudah mengatakan di awal2 saya kuliah kepada mahasiswa saya.. Klo ada hal2 yang ditanyakan oleh mereka, saya akan coba jawab. Dan bila saya tidak bisa menjawab, saya akan coba cari tau baik dengan mencari dari sumbernya, atau pun dengan bertanya dengan orang yang lebih tau. Tapi klo hal itu juga tidak bisa, maka ijinkan saya bersama-sama dengan mahasiswa yang saya ajar untuk.. berdiskusi bersama.. dan mencari tau jawabannya bersama-sama. Sehingga meski saya seorang dosen, saya tidak pernah menyatakan bahwa saya adalah orang yang paling tau terhadap matkul yang saya ajar. Pernah suatu kali saya salah dalam mempersepsikan materi dan malah akhirnya seorang mahasiswa yang saya anggap tau mengajarkan khusus untuk materi tersebut. Dan tentunya kemudian nilai keaktifannya saya tambah sebagai reward kepadanya. Begitulah kira2. Okeh ya Bro! Sekilas kita coba lihat di kehidupan Rasulullah bila Anda seorang muslim, pernah ada kisah bahwa Rasulullah pada akhirnya memindahkan pasukannya lebih ke depan daripada sumur yang ada di suatu daerah pertikaian atas nasihat seorang pemuda lantaran Beliau tidak yakin atas keputusannya dan akhirnya keputusan dari si pemudalah yang dianggap Beliau paling baik. Adapun sumur tempat persediaan air satu2 nya tersebut ditimbun dengan batu2an dengan sebelumnya diambil terlebih dulu airnya oleh pasukan Rasulullah sebagai persediaan. Benar2 strategi yang sangat hebat. Hmmm.. Ada gak ya pemimpin seperti ini di jaman sekarang ini ya? Karena yang saya temui adalah.. cikal bakalnya dan pemimpin yang mirip dengan slogan.. “Senior selalu benar”.

Lebih jauh lagi klo saya coba melihat fenomena yang terjadi sekarang ini.. terlihat seperti.. keadaannya jauh berbeda dengan keadaan di jaman Rasulullah tersebut. Pemimpin.. seperti layaknya dosen yang memimpin suatu kelas misalnya.. seperti dipertanyakan manakala malahan bertanya karena ketidaktauannya. Mahasiswa meremehkan mahasiswa lain manakala mahasiswa yang diremehkan bertanya hal yang menurut dia kurang jelas misalnya.

Saya sendiri alhamdulillah, dididik sejak lama oleh rekan saya untuk berani mengatakan “Saya tidak tau, tolong jelaskan!” manakala memang saya tidak tau akan hal itu. Kalo masalah tidak menyontek, alhamdulillah semenjak kecil hingga gede kayak gini (dan saya yakin teman2 saya “tempoe doeloe” pun akan mengakuinya) saya bukanlah orang yang mendidik diri sendiri untuk melakukan tindakan plagiat semacam itu.

Namun klo keadaannya sekarang, mahasiswa lebih suka mengatakan “Saya bisa” ato “Saya ahli” ato “Saya sangat jago sekali akan hal itu” namun sebenarnya ia tidak tau apa-apa akan hal itu.. maka saya cuma bisa bilang.. apa saya saat ini sedang mendidik para pembohong? Apa saya sedang menciptakan suatu “fatamorgana”? Kompleksitas permasalahan di negeri impian ini untuk.. masalah korupsi demikian.. au ah gelap gak tau gmana cara menyelesaikannya. Seperti kanker yang harus segera diamputasi alias menerapkan “hukuman mati” baru mungkin selesai permasalahannya. Hukuman mati pun di negeri impian, masih bisa dibikin “main watak” oleh para aparat penegak hukumnya (geleng2 kepala mode). Dan saya tidak berharap sedang menciptakan para koruptor baru di kemudian harinya.

Tags:

Leave a Reply


three × = 15