Ulasan Tentang Kisah Trilogi Pendekar Rajawali

Kisah Trilogi Pendekar Rajawali karangan penulis Jin Yong, terdiri dari tiga seri cerita silat. Boleh dibilang ketiganya bukanlah cerita silat yang pertama kali saya tonton. Cerita silat yang pertama kali saya tonton adalah [klo gak lupa mode + klo gak salah mode] Demi-Gods and Semi-Devils. Saya tonton pas waktu saya masih SD. Agak gawat seh klo dibilang.. film remaja atau dewasa kayak gitu ditonton sama anak SD. Cuma mungkin karena almarhum Ayah saya suka mendampingi saya, walau pun agak2 kurang nangkep isi ceritanya.. (dan biasanya juga nonton sambil main mobil-mobilan) namun secara garis besar saya tau jalan ceritanya.

Namun entah kenapa, sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan cerita karangan Jin Yong mengenai Trilogi Pendekar Rajawali. Sering saya membaca ulasan-ulasan yang saya baca di internet, berbeda sekali dengan.. ulasan yang dikisahkan oleh.. almarhum Ayah saya.

Kadang saya berpikir bahwa.. bisa jadi kesenangan saya membaca buku.. dan sekarang sedang berusaha menulis buku (meski.. susah banget kelarnya lantaran banyak kesibukan lain yang harus saya kerjakan) adalah karena almarhum Ayah saya senang bercerita tentang kisah-kisah seperti cerita silat Jin Yong ini.

Oke kita mulai ulasannya dari versi saya. Saya yakin pemirsa sudah banyak tau tentang isi dari ketiga seri cerita silat ini. Maka dari itu, saya merasa cukup dengan mengulasnya dari.. misteri dibalik misteri dari Trilogi Pendekar Rajawali ini (jadi inget film Galileo yang berjudul Suspect X).

Trilogi Pendekar Rajawali terdiri dari tiga seri cerita. Seri yang pertama adalah “Sia Tiauw Eng Hiong”. Klo di negeri impian, judulnya sering dibilang sebagai “Pendekar Pemanah Rajawali”. Saya nonton pertama kali yang versi 1982. Pas ada Barbara Yung sebagai pemeran Oey Yong.

Seri yang kedua adalah “Sin Tiauw Hiap Lu”. Klo di negeri impian, judulnya sering dibilang sebagai “The Return of the Condor Heroes”. Kadang disebut juga judulnya sebagai “Pasangan Pendekar Rajawali Sakti”. Atau “Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar”. Saya nonton pertama kali yang versi 1982. Pas ada Andy Lau sebagai pemeran Yo Ko dan Idy Chan sebagai pemeran Bibi Lung.

Saya akan “mulai mengupas misteri” justru dari seri yang ketiga. Yaitu yang berjudul “To Liong To”. Klo di negeri impian, judulnya sering dibilang sebagai “Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga”. (Jadi bukan “Pedang Pembunuh Naga” menurut saya yang pas judulnya. Lah wong pas saya nonton, detailnya kayak golok kok). Saya nonton pertama kali yang versi 1986. Pas ada Tony Leung sebagai pemeran Tio Bu Ki.

Era kisah To Liong To sesungguhnya sudah berjarak ratusan tahun dengan era kedua dari Trilogi Pendekar Rajawali (yaitu Sin Tiauw Hiap Lu). Sehingga sering dikatakan pada ulasan2 di internet.. bahwa sesungguhnya To Liong To sudah bukan kesatuan dari Trilogi Pendekar Rajawali. Namun ulasan tersebut saya sanggah. Buktinya apa? Buktinya ada pada sesi terakhir dari Film To Liong To sendiri. Saat itu, Cia Sun yang berjulukan Singa Emas, menyatakan dirinya bertobat dan merelakan dirinya untuk dihukum oleh orang-orang yang merupakan kerabat atau saudara perguruan silat yang menjadi korban tindakannya. Saat itu ada salah seorang anak buah dari Partai Go Bi yang mengeluarkan senjata rahasia hendak membunuh Singa Emas. Namun.. Singa Emas ditolong oleh seorang wanita misterius. Coba tebak siapakah wanita misterius itu? Wanita itu menurut saya tidak lain dan tidak bukan adalah Xiao Long Nu alias Bibi Lung alias Guru dan juga kekasih Yo Ko. Saya mengatakan demikian karena melihat ilmu meringankan tubuh yang digunakan wanita tersebut. Dateng pas ada kekisruhan sambil terbang. Perginya juga sambil terbang. Yang bisa terbang dengan ilmu meringankan tubuh seperti itu hanyalah satu orang dalam Trilogi Pendekar Rajawali. Ya itu tadi.. si Xiao Long Nu yang berjulukan Gadis Naga Kecil.

Mengapa tokoh Xiao Long Nu dihidupkan kembali pada kisah To Liong To? Inilah misteri dalam misteri yang hendak saya ungkapkan. Penulis Jin Yong hendak menyatukan misteri yang ada pada kisah seri yang pertama ke kisah seri yang ketiga, dengan memunculkan sosok Xiao Long Nu. Jadi saya menduga bahwa semenjak Jin Yong hendak menuliskan kisah seri pertama, yaitu Sia Tiauw Eng Hiong, sesungguhnya Beliau sudah memahami akhir cerita Trilogi Pendekar Rajawali ini, yaitu kisah To Liong To. Supaya bisa digabungkan kisahnya, dimunculkan kisah kedua yaitu Sin Tiauw Hiap Lu.

Pemikiran Jin Yong untuk memunculkan Xiao Long Nu bukanlah sembarangan. Jin Yong punya alasan sendiri menurut saya. Jadi ini hanyalah bermula dari pemikiran sederhana saya tatkala saya mengajar murid-murid saya. Saya kadang suka melihat.. misal.. murid saya hendak melakukan kesalahan. Namun saya biarkan saja tanpa saya cegah. Apakah tindakan saya itu salah? Saya cuma bisa katakan.. “bisa jadi” saya salah. Saya pun kalo tidak berusaha memahaminya dengan otak kiri saya saja tanpa terlalu melibatkan otak kanan saya, seperti Profesor Yukawa Manabu yang di Film Galileo, mungkin sudah banyak bergundah gulana atau sering merenung kali ya :) Saya biarkan murid saya melakukan kesalahan tersebut, lalu saya beritau kesalahannya di mana, agar ia mengingatnya jangan sampai mengulanginya kembali di masa2 yang akan datang. Saya harus mengerti dulu bahwa niatan atas tindakan saya tersebut adalah dalam maksud mendidik.. dan bukan bermaksud semena-mena. Sehingga dengan demikian saya merasa telah berbuat yang setidaknya bisa dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Sosok Xiao Long Nu digambarkan oleh Jin Yong sebagai wanita yang cerdas dan tangguh. Juga pendidik yang baik. (Hiks.. jadi pingin punya istri kayak gini). Bayangkan aja Yo Ko di masa kecilnya, mungkin unyeng2 nya ada dua kali. Nakal sekali. Sampe2 Kwe Ceng kewalahan mendidik Yo Ko. Namun Bibi Lung ini sanggup mendidik Yo Ko dengan “rule” yang ia terapkan pada Yo Ko. (Jadi inget training Hypno Teaching. Mendidik memang dengan hati. Namun harus ada “rule” yang menengahi agar implementasinya juga rasional). Nah nilai semacam menerapkan “rule” ini pun dilakukan Xiao Long Nu di jaman Tio Bu Ki pada kisah To Liong To. Sebenarnya Xiao Long Nu sudah tau akar permasalahan yang ada di dunia persilatan. Namun tokoh Xiao Long Nu tidak muncul di awal. Dia hanya muncul di akhir cerita dan munculnya juga.. sangat sangat sangat sebentar sekali. Penuh misteri..

Namun tindakan Xiao Long Nu itu (yang muncul hanya sebentar.. juga hanya di saat2 terakhir pada kisah To Liong To) sangat berpengaruh pada penyelesaian masalah besar di dunia persilatan saat itu. Lalu Xiao Long Nu pergi begitu saja meninggalkan Tio Bu Ki yang berterima kasih padanya setelah segala permasalahan dunia persilatan beres. (padahal Tio Bu Ki sempat menanyakan perihal dirinya, namun hanya mendapatkan ungkapan puisi misterius. Seolah-olah masalah sebesar permasalahan dunia persilatan tersebut, adalah masalah yang remeh dan gampang penyelesaiannya).

Xiao Long Nu sendiri diwujudkan Jin Yong dalam kisahnya selalu bersosok awet muda (bahkan pas Yo Ko udah tua pun, masih tampil muda), bahkan bisa hidup hingga jaman To Liong To, mungkin karena ramuan lebah dan ranjang es batu giok kali ya. Begitulah Jin Yong memunculkan sosok Xiao Long Nu. Hiks.. jadi pingin sama Xiao Long Nu. Kadang saya berpikir.. Yo Ko nya sendiri udah mati kali ya pas jamannya Tio Bu Ki. Lah wong anaknya Kwe Ceng yang jadi pendiri Partai Go Bi aja udah mati puluhan tahun yang lalu. Ini Bibi Lung masih cantik aja. Kadang pingin pasrah jadinya menerima jandanya Yo Ko ini. Gak papa deh janda juga. Asal muda melulu. Kan assoy hehehe [kayaknya pikiran agak2 mesum mode + becanda mode] :)

Okeh.. kembali ke mode serius. Misterinya pada kisah To Liong To sendiri ada di mana? Misterinya ada di Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga tersebut. Bila misteri ini terpecahkan, barulah menurut saya pemirsa yang menonton ketiga seri cerita silat ini memahami makna dari Trilogi Pendekar Rajawali ini. Saat Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga tersebut dibuat, saya yakin yang membuatnya adalah orang yang benar-benar cerdas dan sangat licik. Siapa yang membuatnya. Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Oey Yong atau kadang disebut juga dengan nama Yong Er (yakin pisan deh saya). Coba bayangkan.. semua pendekar persilatan berusaha merebut kedua pusaka itu. Setelah salah satu pusaka berhasil terebut.. mereka hanya tau bahwa pedang tersebut atau golok tersebut adalah.. sakti.. Dah gitu doank.. Sehingga gak salah kalo pada akhirnya, salah satu dari kedua pusaka itu.. cuma berpindah-pindah tangan dari satu pendekar ke pendekar lainnya tanpa yang memegang pusaka itu benar2 mengerti apa makna kedua pusaka tersebut. Seperti lebih mirip musibah layaknya terjebak lingkaran setan ketimbang jadi sakti setelah memiliki salah satu pusaka tersebut. Mungkin klo di Film To Liong To, si Yong Er bisa jadi pocong atau kuntilanak.. yang ada si Yong Er tertawa cekikikan kayak saat dia berhasil membuat si Racun Barat jadi gila karena dikerjain olehnya. Mungkin bagi saya yang jadi agak2 kasihan melihat jadi gilanya Racun Barat.. yang menjadi obyek penderitanya si Yong Er.. tapi bagi Yong Er, gilanya Racun Barat lebih merupakan “karya seni” terbaiknya kali yak :) Sama seperti kedua pusaka tersebut. Hiks.. jadi pingin jadi obyek kepuasannya Tante Yong Er [kayaknya pikiran agak2 mesum mode + becanda mode] :) . Lah gimana gak pingin jadi obyek kepuasannya Tante Yong Er. Lah yang jadi obyek penderitanya Yong Er menderitanya sampe jadi gila gitu [geleng2 kepala mode].

Misteri baru terungkap bilamana Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga berhasil dikumpulkan. Digambarkan kedua pusaka tersebut terbuat dari bahan yang sangat kuat sekali. Bahkan semua senjata yang dipegang para pendekar di dunia persilatan tidak akan mampu menandingi “kekuatan bahan” (klo saya pake istilah Fisika) dari kedua pusaka tersebut, alias bakalan tumbang, patah, hancur.. bila dibenturkan kepada salah satu dari kedua pusaka tersebut. Namun kedua pusaka tersebut kalo.. dibenturkan satu sama lain.. maka akan hancur/patah. Dan di dalam Pedang Langit yang telah hancur/patah.. akan dapat dikeluarkan Kitab Sembilan Yin yang merupakan kitab kung fu terkuat di dunia persilatan. Sedangkan di dalam Golok Pembunuh Naga yang telah hancur/patah.. akan dapat dikeluarkan Kitab Perang Gak Bu Bok. Yang merupakan kitab perang terbaik dalam mengungkap ilmu yang berkaitan dengan strategi perang di jamannya. Itulah rahasia dibalik rahasia.. misteri dibalik misteri.. yang selama ini tersimpan rapi dan tidak banyak diketahui oleh kalangan pendekar di dunia persilatan.. bahkan oleh pemirsa yang menonton Trilogi Pendekar Rajawali ini.

Apa makna dari kedua pusaka tersbut? Maknanya adalah mengenai persatuan dan kesatuan. Jadi penulis Jin Yong, selain bermaksud memunculkan sosok Xiao Long Nu sebagai pemegang kunci penyelesaian permasalahan dunia persilatan.. Beliau juga bermaksud memunculkan sosok Yong Er, meski secara tidak langsung. Yaitu melalui kedua pusaka tersebut (Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga). Saya sendiri menduga-duga.. lagi2 hal ini dilakukan adalah dalam rangka.. mendidik para pendekar di dunia persilatan agar mereka bersatu. Saat itu terjadi perpecahan di dunia persilatan. Dunia persilatan terbagi menjadi dua kubu besar, satu disebut golongan partai sesat.. seperti Partai Beng Kauw milik kakeknya Tio Bu Ki (yang konon dalam sejarah ngikut aliran Negeri Persia).. satunya lagi disebut golongan partai lurus seperti Bu Tong, Shaolin, dkk. Para pendekar tidak sadar bahwa dunia persilatan saat itu sedang diadu domba oleh antek penjajah. (Bangsa Han saat itu sedang menghadapi agresi penjajahan dari Bangsa Mongol dan Bangsa Kim). Yong Er dimunculkan dalam kisah Jin Yong sebagai sosok yang sangat cerdas. (Padahal menurut saya yang cerdas mah penulis Trilogi Pendekar Rajawali ini.. alias si Jin Yong). Yong Er sudah berpikir sangat jauh sekali untuk melindungi Kitab Sembilan Yin dan Kitab Perang Gak Bu Bok agar jangan sampai direbut oleh penjajah. Pemikiran tersebut.. saya duga.. adalah berkaitan dengan jenis aliran kung fu yang ada di dunia persilatan. Pedang Langit, pastilah digunakan oleh pendekar2 aliran pedang dan sejenisnya. Golok Pembunuh Naga, pastilah digunakan oleh pendekar2 aliran golok dan sejenisnya. Menggambarkan golongan partai lurus dan golongan partai sesat. Bangsa Mongol dan Bangsa Kim yang rata2 bukan berasal dari kedua aliran tersebut.. lebih suka pake panah dan berantem secara brutal.. tidak akan tertarik pada seni kung fu dan tentunya tidak akan terlalu berminat pada kedua pusaka tersebut. Partai lurus pasti akan sangat berambisi merebut pusaka Pedang Langit ketimbang Golok Pembunuh Naga. Lah kalo golok dipegang sama pendekar pedang.. bisa kagak dapet “sense”-nya. Keberatan gtu loh. Begitu pula sebaliknya klo pedang dipegang sama pendekar golok. Pedekar golok pasti mikir.. ini gue lagi nari jaipong atau lagi belajar bela diri [hehehe mode] :) . Dan Yong Er berpikir pastilah kalo mereka, dalam hal ini partai lurus yang pada akhirnya (menurut pemikiran Yong Er) menguasai Pedang Langit.. lalu partai sesat (menurut pemikiran Yong Er) menguasai Golok Pembunuh Naga.. lalu mengadakan tanding kung fu seperti layaknya pertandingan kung fu di jaman Sia Tiauw Eng Hiong di Gunung Hua (Hua Shan).. maka misteri ini akan terpecahkan dengan sendirinya. Dengan sendirinya semua partai persilatan tersadarkan akan rahasia Kitab Sembilan Yin dan Kitab Perang Gak Bu Bok.. lalu bersatu.. memerangi penjajah Bangsa Mongol dan Bangsa Kim.

Jadi menurut saya.. Jin Yong tidak sembarangan memunculkan tokoh Xiao Long Nu dan tokoh Yong Er (meski secara tidak langsung) di kisah To Liong To ini. Benar2 penulisan naskah cerita silat alias Trilogi yang kerennn abisss.. Hiks.. Pokoke buat gue keren banget deh pemikiran si Jin Yong ini.

Nah gimana cara mengawali agar Trilogi tersebut bisa dimulai ceritanya? Dimunculkanlah kisah Sia Tiauw Eng Hiong yang merupakan seri cerita silat pertama dari Trilogi Pendekar Rajawali.

Secara garis besarnya yang saya tangkap seh.. intinya hikmah per masing2 seri cerita dari Trilogi Pendekar Rajawali adalah sbb:

Sia Tiauw Eng Hiong, mengandung hikmah seperti kejujuran dan kecerdasan. Budi pekerti, hormat pada guru dan orang tua, kesetiaan pada negara. Namun penekanannya adalah pada aspek.. bahwa kebaikan hati harus tetap disertai dengan kecerdasan. Kebaikan hati tanpa kecerdasan yang menghasilkan tindakan bijaksana.. pada akhirnya akan dimanfaatkan secara tidak baik. Ini tergambarkan sekali pada sosok Kwe Ceng yang baik hati tapi agak2 o’on. Sering dikerjain oleh orang-orang berhati jahat. Namun tatkala ada Yong Er yang cerdas, kebaikan hati tersebut pada akhirnya menjadi suatu kekuatan besar yang akhirnya mampu menahan bahkan.. mengusir Bangsa Kim yang hendak menyerang Negara Song.

Sin Tiauw Hiap Lu, mengandung hikmah seperti kasih sayang, pengorbanan dan norma/adat istiadat. Saya yakin Jin Yong sebagai penulis bermaksud mengatakan.. wahai pembaca.. kebaikan itu.. walau keluar dari mulut seorang yang jahat.. tetaplah kebaikan. Semua akan baik bila niat untuk melakukannya adalah.. baik. Ini tergambarkan sekali pada sosok Yo Ko. Diantara semua seri, mungkin seri kedua ini yang.. klo saya nontonnya serius.. apalagi klo yang nonton itu cewek.. pasti deh berlinang air mata. Bayangin aja si Yo Ko.. masih kecil kedua ortunya udah meninggal. Bahkan Yo Ko gak sempat melihat sosok ayahnya sama sekali. Yo Ko sebagai anak yang gak tau apa2 selalu dibenci oleh para pendekar persilatan (akibat ulah ayahnya yang jahat). Harus berhadapan dengan adat istiadat yang menganggap tabu percintaan antara murid dengan gurunya. (Apalagi yang jadi gurunya malah wanita. Pria aja dianggap tabu apalagi wanita). Tangannya sempat diputus oleh anak pamannya.. yang malah pada akhirnya baik Kwe Ceng dan keluarganya harus ia tolong dan ia bela, dengan pemikiran sesungguhnya mereka adalah orang yang baik2 dan kehormatan mereka adalah kehormatan bagi dunia persilatan. Terpisah oleh kekasihnya. Bahkan sampai rambut memutih, barulah bisa bertemu dengan kekasihnya. Udah deh.. kalo di filmnya digambarkan sosok Yo Ko pingin bunuh diri.. kayaknya emang wajar. Penderitaan hidup seabrek-abrek kayak gtu. Namun pada akhirnya.. kebaikan akan menang.. niat baik akan menang.. Yo Ko berhasil bersatu dengan kekasihnya.. mendapat pengakuan baik dari keluarga pamannya.. Kwe Ceng dan Yong Er.. juga pengakuan dari dunia persilatan. Yo Ko pada akhirnya berhasil menghapus nama buruk keluarganya (akibat ulah ayahnya) dengan mengukir prestasi lewat dirinya di dunia persilatan.. dan juga pada bangsanya dengan mengusir Bangsa Mongol yang hendak menjajah negerinya. Saya tuh klo mo nonton Sin Tiauw Hiap Lu.. bakalan sengaja kagak konsen deh. Sengaja sambil kerja.. sambil makan.. sambil nyuci.. pokoke ngapainlah agar jangan terlalu fokus. Masalahnya.. pada Trilogi Pendekar Rajawali, kisah tentang Yo Ko ini yang paling banyak sedihnya menurut saya. Padahal saya kan agen perubahan. Mesti kuat. Mesti semangat. Klo blon apa2 udah terpengaruh cerita sedih.. trus jadi loyo.. gimana nasibnya? Gak janji deeeeech :)

To Liong To, mengandung hikmah persatuan dan kesatuan. Meski masih ada bumbu2 pengorbanan dan norma/adat istiadat. Mengenai masalah persatuan dan kesatuan ini digambarkan dengan adanya misteri yang harus dibongkar dari adanya dua pusaka berupa Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga. Pengorbanan dapat terlihat dari sosok Tio Bu Ki yang memilih memaafkan tindakan para pendekar yang ia ketahui secara tidak langsung telah membunuh kedua orang tuanya. Tio Bu Ki memilih memaafkan para pendekar dunia persilatan demi menjaga persatuan dan kesatuan untuk mengusir bangsa Mongol. Nah mengenai norma/adat istiadat ini sebenarnya terjadi pada kisah terakhir dari To Liong To. Klo dikisahkan saat Tio Bu Ki yang diperankan Tony Leung berhasil bersatu dengan kekasihnya yang merupakan Putri Mongol.. sebenernya klo dikisah aslinya bukan Happy Ending loh pemirsa. Kisahnya justru Sad Ending. Di kisah aslinya.. Putri Mongol tersebut meninggal akibat terperosok ke dalam danau setelah dikejar-kejar anak buahnya Tio Bu Ki sendiri. Lalu Tio Bu Ki menyatakan kemarahan dan kekecewaannya kepada anak buahnya yang telah bertindak semena-mena. Terlebih lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Namun lagi2.. Tio Bu Ki akhirnya memilih memaafkan anak buahnya. Namun rasa kecewanya tidak bisa ia bendung, ia memilih mengundurkan diri dari ketua dunia persilatan. Pergi entah ke tempat yang dalam kisah To Liong To.. menjadi misteri.. Sedih emang.. kalo mesti memilih jadi orang yang berjiwa besar. Itu akhir cerita asli dari To Liong To. Beda sama di versinya yang di film yang Happy Ending :) Biar laku kali yak filmnya [hehehe mode] :)

Nah.. dari Trilogi Pendekar Rajawali.. ada misteri yang tidak banyak terungkap ole para penontonnya. Yaitu.. sebenernya penulis cerita Trilogi Pendekar Rajawali ini mo ngomong apa seh? Saya menduga.. Jin Yong ingin agar.. pada akhirnya para pembacanya mengingat kembali jasa para leluhur.. menghormati para leluhur.. tetap memegang semangat yang diwariskan oleh para leluhur.. sebagaimana ia menghargai Jendral Gak Hui. Karena pada kisah Sia Tiauw Eng Hiong, Kitab Sembilan Yin adalah kitab ringkasan dari ribuan kitab kerajaan yang mengulas mengenai ilmu meditasi, ilmu pengobatan dan ilmu bela diri. Ringkasan tersebut berhasil diselesaikan oleh seseorang penasehat militer kerajaan.. [lupa persisnya siapa namanya mode].. yang mana penasehat militer tersebut merupakan anak buah yang setia, pada Jendral Gak Hui. Penasehat militer tersebut sendiri paham dengan sangat baik mengenai Kitab Perang Gak Bu Bok. Akhirnya ia berhasil menciptakan dua kitab yang menjadi rahasia misteri dari Trilogi Pedekar Rajawali ini. Yaitu.. Kitab Sembilan Yin.. dan Kitab Perang Gak Bu Bok.

Sedangkan Jendral Gak Hui sendiri.. merupakan hero dari Negeri Song. Negeri yang pada sisi sejarah aslinya.. pada akhirnya berhasil ditaklukan oleh Bangsa Kim dan Bangsa Mongol. Jendral Gak Hui kalah bukan karena dikalahkan tentara lawan. Melainkan.. karena dikhianati oleh pengkhianat negerinya sendiri.

Jendral Gak Hui.. menjadi idola bagi Jin Yong.. penulis cerita Trilogi Pendekar Rajawali..

Tags: , ,

Leave a Reply


+ 1 = nine