Benar-Benar Tidak Tau Sama Sekali Jadwalnya Fulanah

Ini terjadi saat saya masih kuliah S1, tepatnya beberapa hari sebelum sidang. Cuma saya agak lupa entah sidang untuk seminar ato skripsi. Saat itu saya sedang ngobrol dengan adik kelas saya di emperan jurusan tempat saya kuliah. Tiba-tiba ada seorang akhwat, ato.. mungkin bukan akhwat kali ya. Melainkan gadis yang make jilbab yang kuliahnya satu jurusan dengan saya dan kebetulan adik kelas saya. Ia bertanya kurang lebih “Mo liat jadwal-nya Fulanah ya?”. Entah saya merasa saat itu, hal itu lebih kepada nyelekit ketimbang pertanyaan. Maka dari itu saya tidak menjawabnya dan membiarkan saja gadis itu dengan pertanyaannya sambil melihatnya. Insya Alloh melihatnya dan tidak melototin dirinya ya. Fulanah (rasanya gatal sekali hati ini ingin menyebut namanya biar segala sesuatunya benar-benar jelas) merupakan akhwat favorit tidak hanya di jurusan saya saat itu. Melainkan.. se-fakultas karena dari mulai perangai, pengetahuan, keinginannya untuk menolong sesama dan termasuk kepandaiannya (dan juga kecantikannya kali ya) boleh dibilang di atas rata-rata. Bahkan menjadi favorit juga di jurusan dan fakultas lain (geleng-geleng kepala mode). Itulah mungkin yang menyebabkan gadis ini menyangka saat itu saya sedang menyelidiki apakah jadwal sidang saya sama dengan jadwal si Fulanah ini. Setelah puluhan tahun berlalu, wahai Ukhti.. saya akan jawab pertanyaan Anda di blog saya ini. Bila Ukhti ingin mengetahui kejelasan mengenai perasaan saya terhadap Fulanah ini, saya katakan saya bersimpati kepada Fulanah ini, namun belum berpikir untuk menikahinya, apalagi me-macari-nya. Dan mengenai Fulanah ini apakah jadwalnya barengan dengan saya ato tidak.. Demi Alloh SWT saya bersumpah.. saya tidak tau menahu bahwa si Fulanah ini sejadwal dengan saya sampai Ukhti bertanya yang demikian. Yang lainnya lagi.. yang ingin saya katakan.. saya sama sekali tidak pernah.. menginginkan diri saya disebut ikhwan! Walau saat saya kuliah seolah-olah banyak sekali yang menyebut saya demikian. Saya adalah Dodi dan akan menjadi seorang Dodi sampai kapan pun sesuai dengan nama yang diberikan orang tua saya kepada saya. Ada pun dulu mengapa saya menginginkan berada di pengajian adalah lantaran saya sangat ingin berada pada LINGKUNGAN YANG BAIK. Dah just it!!! Tidak berpikir ingin jadi ustad, pemimpin, berpartai (bahkan waktu dicanangkan tentang partai saja saya terkaget-kaget mengapa kok saya yang tadinya merasa ngaji asyik-asyik aja tiba-tiba kok harus jadi orang partai?). Bahkan saya sangat rela.. dan juga pernah mengatakan kepada salah seorang ustad.. saya rela ditempatkan di.. lapisan paling bawah kalau memang kufu saya di situ. Saya katakan saya tidak kuat menghafal.. namun saya senang sekali yang namanya belajar tahsin maupun agama. Bila yang lain sudah pandai menghafal dan mau dinaikkan misalnya.. tingkatannya.. silakan saja dan mohon saya ditransfer ke yang sama-sama baru mulai saja. Karena apa pemirsa? Karena untuk berada di LINGKUNGAN YANG BAIK.. adalah jauh lebih saya pentingkan ketimbang urusan politik dan tetek-bengek lainnya yang.. bagi saya bila hal-hal tetek-bengek itu ditanyakan kepada saya.. saya katakan saya benar-benar.. sangat.. bosan dan bahkan.. jij-ik.. dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih cocok saya sebut dengan sebutan.. nyelekit!

Tags: , , ,

Leave a Reply


eight + = 9