Tentang Kontrak Manajemen

Entah menarik atau tidak, namun setiap kali ada pemilu di negeri impian, seringkali muncul ketidakpuasan dari pihak yang kalah. Kalau sekedar tidak puas saja mungkin gak terlalu masalah. Tapi.. kalo kemudian ketidakpuasan tersebut dilampiaskan dalam bentuk.. demo yang bersifat anarkis dan vandalis.. hal itu bisa menjadi masalah. Apakah ini menarik? Mungkin untuk sebagian orang tindakan anarkis dan vandalis menjadi menarik. Namun tentunya hal itu sangatlah tidak menarik dalam pandangan saya. Orang seakan-akan terbutakan untuk dapat meraih posisi tertinggi. Mungkin harapannya adalah.. dengan meraih posisi tertinggi, maka ia akan mendapat “hak tertinggi” pula. Bahkan mungkin.. tak terbatasss!!! (seperti “ngemplang” pajak mungkin :) ) Mereka rela berkorban apa saja untuk itu, bahkan mungkin nyawa pun bisa melayang. Klo sebuah nyawa melayang untuk suatu hal yang memang pantas dihargai, mungkin gak masalah (seperti jihad sejatinya). Tapi klo itu adalah sebuah kesia-siaan. Ato lebih parah lagi, orang yang gak tau apa2.. kemudian “diperalat”.. sampai akhirnya nyawanya melayang. Udah nyawanya melayang.. sia-sia pula yang diusahakannya.. bukankah hal itu menjadi suatu hal yang.. bagi saya.. amatlah menyedihkan sekali???

Di sini saya berharap agar kebanyakan orang yang berkompetisi dapat juga berpikir mengenai “kewajiban tertinggi” disamping “hak tertinggi” dari apa yang bisa mereka peroleh. Memperoleh fasilitas tertinggi memang menyenangkan. Namun bukankah ada harga tertinggi pula yang mesti dicapai dari adanya fasilitas tertinggi tersebut? Bila saya bertanya kepada pemirsa.. apakah pemilu belakangan ini menarik? Entah dalam perasaan saya.. semakin lama yang namanya pemilu, baik di pusat maupun di daerah berkesan jadi tidak menarik. Melulu kisruh.. melulu cerca-mencerca.. padahal begitu selesai pun belum tentu sang pemenang lebih baik dari yang kalah. Namun bila semua orang menjadi apriori dengan pemilu, bisa2 negara ini pun bakalan jadi negara.. entah diktaktor yang berkuasa.. atau mungkin bisa komunis kali ya. Klo sampai kejadian gtu juga menyedihkan sekali tentunya.

Sebenernya saya lebih menyukai KPU alias Komisi Pemilihan Umum awal2 mula kali terbentuk. KPU sekarang seperti hanya menjadi sekedar “pelaksana administratif” saja agar pemilu bisa berjalan. Sampai hati kecil saya sempet berkata.. “Udahlah KPU dipimpin sama narapidana saja ketimbang dipimpin sama seorang yang bukan narapidana klo pemilu yang ada seperti ini. Tidak menarik!” Tidak menarik di sini adalah.. KPU seperti tidak bisa menjadi fasilitator untuk menjembatani antara apa yang menjadi aspirasi masyarakat berupa informasi yang lebih jelas tentang apa yang akan mereka pilih nanti. Misalkan.. “track record” dari para calon. Lalu juga apa yang dikampanyekan oleh para calon misalnya. Dan menurut saya yang “TERPENTING” dari itu semua adalah.. bisakah KPU menjembatani antara masyarakat dengan calon yang terpilih, agar secara eksplisit dilakukan apa yang disebut dengan “kontrak manajemen”. Sehingga dalam hal ini, pihak2 yang berkompetisi tidak “sikut-sikutan” lantaran menginginkan posisi tertinggi agar bisa mendapat “hak tertinggi”, karena ternyata ada “kewajiban tertinggi” yang harus mereka capai. Bila sudah ada kesadaran seperti itu harapannya.. tidak ada lagi (atau setidaknya akan berkurang) tindakan anarkis dan vandalisme dari pihak yang kalah karena pihak yang kalah juga akan memahami dengan benar bahwa menjadi pihak yang menang pun tidak secara serta merta membuat mereka menjadi.. “enak” atau “seenaknya”.

Paling mudahnya adalah.. pertanyaan semacam ini misalnya “Bersediakah Anda mengundurkan diri di tengah periode kepemimpinan Anda bilamana.. setengah dari target yang telah Anda janjikan atau telah Anda kampanyekan, saat pertengahan periode Anda berkuasa, tidak bisa Anda capai?” Nah.. klo bisa begitu.. sebenernya itu bisa membuat pemilu menjadi.. menarik!!! Tapi dalam hal ini pihak yang kalah juga jangan melulu meng-”kadal”-kan pihak yang menang sehingga pihak yang menang menjadi tidak bisa mengejar target yang seharusnya dapat mereka capai lantaran melulu “diganggu” oleh pihak yang kalah.

Bila ada yang berkampanye “Membuka sejuta lowongan kerja” misalnya, setelah setengah periode ia berkuasa.. apakah telah tercapai 500.000 lowongan kerja? Klo gak tercapai.. bersediakah ia mundur? Klo pada akhirnya semua orang bisa berkata apa saja tanpa adanya tanggung jawab yang harus ia emban akibat perkataannya tersebut.. sekedar anekdot saja.. teman saya berkata bahwa kalo ia jadi gubernur misalnya.. ia akan mengkampanyekan satu milyar lowongan kerja. Tokh klo gak tercapai pun gak bakalan terjadi apa2. (Menarik bukan? :) ) Yang namanya mendengar hal2 yang menyenangkan memang selalu menarik, namun orang jarang berpikir apa konsekuensi dari hal2 yang menyenangkan yang telah ia ucapkan. Menjadi benar2 menarik bilamana.. suatu “kontrak manajemen” sudah dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya. Namun buat saya yang terpenting adalah.. jangan sampai ada korban jatuh sia-sia.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply


9 − six =