Urat Kepala Ada yang Lepas

Suatu hari, tatkala jam makan siang tiba, seperti biasa saya makan siang di ruang makan dosen. Kebetulan di suatu meja makan, berkumpul beberapa rekan saya yang saya kenal dan saya diajak nimbrung di meja tersebut. Saya pun akhirnya nimbrung di meja tersebut. Ngobrol berbagai hal. Sampe pada suatu pernyataan yang dinyatakan oleh teman saya. Kebetulan bagi saya pernyataannya itu lucu sehingga saya tertawa. Cuma kebetulan mungkin yang lain udah biasa dengan lelucon itu kali ya, pada gak tertawa. Cuma sayangnya, ada pernyataan dari yang ada di meja itu juga, mengenai “orang yang urat kepalanya lepas” sehingga ia tidak bisa bersedih, hanya bisa tertawa, alias urat untuk bersedihnya udah rusak. Entah kayaknya mungkin bagi yang lain lucu gtu kali ya, sampe2 ada satu orang lagi yang mendukung pernyataan orang ini. Entah saya saat itu jadi gak enak, apa jangan2 ne orang menyatakan hal tersebut untuk nyelekit ke saya kali ya? Ato cuma perasaan saya aja. Ya wess saya anggap sambil lalu aja, makan siang saya udah habis, waktu juga udah hampir menunjukkan jam 13 tepat, dan saya pun pamit duluan mengingat siang itu saya ada janji untuk bertemu dengan mahasiswa (yang kebetulan ternyata mahasiswanya malahan gak dateng). Saat saya wudhu untuk sholat, saya bertemu kembali dengan rekan saya yang tadi semeja makan dengan saya. “Gimana? Apa pembicaraan mengenai “urat kepala yang lepas” itu dilanjutkan setelah kepergian saya?” tanya saya. Dan teryata kata teman saya, pembicaraan tersebut tidak dilanjutkan setelah kepergian saya. Oh begitu rupanya. Sepertinya dugaan saya gak salah klo yang dibicara-in dari pernyataan mengenai “urat kepala yang lepas” itu adalah saya. Saya seh hanya mengucapkan.. “Wa alaikum”. itu saja. Cuma ada satu hal yang saya syukuri seh. Untung kedua orang ini kerjanya gak satu fakultas dengan saya. Itu ajahhh. Alhamdulillah..

Tags:

Leave a Reply


nine × = 81