Daerah Bebas Terbang

Pertama kali saya tinggal di daerah tempat tinggalku yang baru, senang sekali rasanya. Gimana gak senang, karena saya bisa mendengar suara burung-burung berkicau indah sekali. Saya gak perlu beli suara itu dan suara-suara itu datang seperti anugerah Tuhan kepada lingkungan sekitar saya. Tapiii.. kini sepertinya berkah itu mulai berubah menjadi bencana. Seakan-akan ada bunyi yang sangat mengganggu beterbangan kesana kemari gak tau maunya apaan. Gedeg-gedeg-gedeg.. ngoooeeeng.. ngoooeeeng.. mengalahkan bunyi kicau burung yang biasanya bisa saya nikmati sehari-hari. Sampai geleng-geleng kepala saya. Berisik pisan euy. Kayaknya di wilayah tempat tinggal saya sudah berubah menjadi “daerah bebas terbang”. Daerah bebas polusi udara. Maksudnya bukan dilarang terbang, tapi kalo perlu terbang kesana kemari tiap 10 menit sekali. Klo di luar negeri, meski institusi yang melakukannya.. hal itu bisa dituntut dengan tuntutan menganggu ketenangan hidup. Klo di Indonesia.. listrik mati aja gak ada yang bisa nuntut. Apalagi yang kayak beginian. Mungkin penguasanya ingin mengusir burung-burung yang ada. Padahal burung-burung itu selalu bertasbih memuji Tuhannya. Bila burung-burung itu pergi, mungkin tinggal nunggu bencana datang kali ya. Ya wess.. nunggu Bandung jadi Kota Atlantis berikutnya.. saya mah cuma bisa menonton dan berdo’a.. maklum bukan penguasa. Penguasa kan baru puas akan kemakmuran yang didapatnya kalo mulutnya sudah dijejali berbagai bencana. Seperti Lapindo. Bener kan? (Ditulis 2 Nopember 2008)

Tags: , , ,

Leave a Reply


× nine = 27