Antara Politikus dan Negarawan

Negeri impian ini memiliki banyak
politikus. Bahkan seakan banyak orang berangan-angan bisa menjadi politikus. Namun tatkala hendak dicari seorang negarawan, seperti sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Saya sendiri banyak bertemu dengan orang-orang yang sangat gemar berorganisasi. Terutama tatkala saya masih mahasiswa. Bahkan ada pula yang seakan-akan “menunjukkan” bahwa dia adalah seorang yang sangat aktif berorganisasi alias aktivis. Terutama organisasi di tingkat mahasiswa. Namun penilaian saya terhadap wawasan seseorang tidaklah terpaku pada keaktifannya berorganisasi. Ada yang “sangat aktif” berorganisasi, namun saya menilainya sebagai orang yang berwawasan sempit. Wawasan sempit? Mengapa demikian? Karena dari cara orang tersebut bernegosiasi dengan saya, saya bisa menilai apakah orang tersebut lebih banyak main otot atau main otak. Namun di sini saya tidak bermaksud menyalahkan orang yang “sangat gaul” tersebut. Mungkin memang “kelas”-nya seperti itu. Bila orang tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang politikus yang populer, mungkin cocok. Tapi tidak untuk menjadi seorang negarawan. Seorang negarawan pastilah memiliki kemampuan kehumasan yang baik. Bagaimana ia bernegosiasi dengan banyak orang, tentunya tidak dengan mengandalkan “otot” semata. Mereka dihormati banyak orang, dari dalam hati yang bersih. Bukan sebatas lantaran mereka populer. Sedangkan penghormatan kepada seorang “politikus’, bisa jadi hanyalah sekedar dilakukan untuk memenuhi “kewajiban” saja. Dihormati dengan kepalsuan, membuat orang-orang seperti ini menjadi orang yang perlu dikasihani.

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply


× 6 = eighteen