Antara Logika dan Popularitas

Pernahkah pemirsa berlogika? Atau dengan kata lain, pernahkah menghadapi sesuatu yang pemecahan solusinya harus dengan melakukan sesuatu yang rasional? Pertanyaan saya yang lain, apakah orang-orang yang populer sekarang ini sangat pantas untuk dijadikan panutan? Ataukah kepopuleran mereka sangat pantas diterima logika ketimbang sekedar emosional belaka? Saya cuma ingin mengatakan bahwa… saya merasa tidak perlu untuk menjadi populer tatkala berlogika. Dan tatkala logika saya harus memutuskan sesuatu… tidaklah saya merasa perlu terhadap keputusan yang saya ambil tersebut, untuk menjadi suatu keputusan yang populer, dan mempopulerkan saya. Harapan untuk populer semacam itu hanyalah pencapaian yang bersifat emosional, sesaat, dan berakhir dengan penyesalan. “Penyesalan”… sebuah kata yang telah banyak orang menjadi korbannya, namun seakan banyak orang “meminta” untuk menyesal. Bila suatu popularitas perlu saya raih, bisa jadi lebih karena saya menganggapnya sebagai “perangkat bantu” yang perlu saya gunakan untuk sesuatu yang lebih pantas disebut sebagai… keteladanan. Dan juga saya tidak perlu harus menyewa “fans bayaran” agar fans saya terlihat banyak, seperti yang dilakukan oleh para artis kebanyakan :)

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply


× two = 8