This site chose VeriSign Trust Seal to promote trust online with consumers.
ABOUT TRUST ONLINE  

Posts Tagged ‘Nyelekit’

SMS-nya Udah Dulu Ya..

Tuesday, January 20th, 2009

Ini kejadiannya pas beberapa hari yang lalu, tepatnya sore hari. Saat itu saya meminta sesuatu kepada salah seorang asisten mengenai pekerjaan yang telah ia selesaikan. Namun.. si asisten ini bertanyanya banyak pisan euy. Mulai dari imel na saya apa, untuk apa saya minta hal itu, dikasi ke siapa, ketemuan di mana.. yang bagi saya kok ne nanya na ribet bener ya. Ampe puyeng jawab na. Namun saya pikir mungkin saat itu penjelasan dari saya mungkin kurang jelas kali ya. Akhirnya saya jelaskan secara perlahan-lahan. Namun penjelasan saya terkesan tersendat-sendat lantaran handphone yang saya pake, bukanlah yang biasanya yang saya pake. Lantaran handphone yang biasa saya pake baterainya habis, so musti di-charge ulang. Sedangkan saya harus make handphone saya yang lain yang mana keypad na amat tidak enak. Itulah mengapa tatkala saya merasa informasi yang sudah saya sampaikan saya rasa cukup, saya pun bilang kepada asisten tersebut.. “SMS-nya udah dulu ya..” . Jadi bukannya gak mau terus ngobrol.. cuma.. kondisi saat itu memang lagi gak ndukung banget jadinya saya pikir besok-besok aja diterusin daripada nanti salah omong kan. Hmm.. akhirnya saya mesti jelasin juga hal-hal yang kayak gini. Harusnya saya tuh jadi artis kali ya, bukan dosen. Trus nyewa personal manager untuk ngurusin yang namanya “k-o-m-u-n-i-k-a-s-i”. Moga-moga emang komunikasi dan bukan ngurusin go-sip, prasangka ama nyelekit dari kebanyakan orang. Moga-moga aja seh. Kan orang-orang dari negeri impian sudah sangat maju pemikirannya jadi gak bakalan mikir yang namanya prasangka ama go-sip secara berlebihan dan menggantikan hal-hal yang semacam itu dengan hal-hal yang lebih produktif. Tentunya.. seharusnya nama saya gak pernah keluar di milis baik milis mahasiswa, milis dosen maupun milis-milis lainnya yang ceritanya luar biasa miring, tanpa mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Sampai-sampai saya cuma bisa geleng-geleng kepala sama yang menyebarkan go-sip tersebut. Untung saya hidup di negara Indonesia. Bukan di negeri impian. Untunglah! Alhamdulillah!

Kondisi: Mengapa Bangsa Arab “Terkesan Diam” Atas Agresi Israel ke Jalur Gaza

Thursday, January 8th, 2009

Mungkin pemirsa bertanya-tanya mengapa kebanyakan negara-negara Arab terkesan berdiam diri atas agresi yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza. Sebenarnya keadaannya mirip-mirip seperti yang terjadi di negeri impian. Lantaran para penguasanya.. takut jatuh miskin mendadak. Loh apa hubungannya dengan miskin mendadak? Oke deh saya cerita in sedikit. Begini.. sebenernya sudah menjadi strategi si Darwin sejak lama agar para pembesar negara-negara Arab mau berinvestasi di negeri Paman Darwin. Namun.. tanpa mereka sadari.. sebenarnya hal ini merupakan jebakan juga secara tidak langsung yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh si Darwin. Pasalnya apa? Pasalnya adalah.. tatkala para pembesar negara-negara Arab tersebut hendak mengalihkan investasi mereka ke Asia, tiba-tiba saja si Darwin ngamuk. Si Darwin bilang.. bahwa mereka baru diperkenankan memindahkan investasi mereka bila.. mereka bisa menunjukkan tempat yang memang benar itu layak bagi investasi mereka ketimbang negeri Paman Darwin. Kita tau lah kondisi negara-negara Asia yang juga macam negeri impian. Kebanyakan “utang na-jis”-nya ketimbang utang yang produktif. Ya sudah pasti para pembesar negara-negara Arab itu gak bakalan mampu menunjukkan bahwa pengalihan investasi mereka di Asia akan lebih menguntungkan ketimbang berinvestasi di negeri Paman Darwin. Sebagai akibatnya.. tidak pernah mereka sanggup mengalihkan investasi mereka dari negeri Paman Darwin. Dan bila mereka menentang kebijakan negeri Paman Darwin, mereka kuatir semua aset mereka dibekukan seketika oleh si Darwin yang mengakibatkan pada akhirnya.. mereka jadi orang yang miskin mendadak. Begitulah kira-kira pemirsa. Nah.. yang jadi pertanyaan sekarang adalah.. kondisi yang timbul macam begini ini salah siapa? Apa jangan-jangan salah kita sendiri pemirsa. Lebih seneng nyelekit sama saudara seperjuangan sendiri.. lebih senang main watak sama saudara seperjuangan sendiri.. lebih seneng mengusir sama saudara seperjuangan sendiri.. sebagai akibatnya tidak dipercaya tatkala ada saudaranya seperjuangan yang ingin berinvestasi.. yang mengakibatkan saudara seperjuangan sendiri pada akhirnya terjebak dalam lumpur yang mengakibatkan mereka tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Apalagi menyelamatkan orang lain. Salah siapakah ini pemirsa? Salahkan ukhuwwah yang pas-pasan! Gtu menurut saya..

Tentang Fatwa Haram Golput Ala MUI

Monday, December 22nd, 2008

Saya sendiri baru mendengar tentang rencana dikeluarkannya fatwa haram untuk golput dari MUI. (Murka-mode). Ehem.. Oke deh.. misalnya fatwa haram ini keluar.. saya rasa saya yang tadinya berniat golput jadi gak akan golput. Biar para petinggi masyarakat yang.. katanya mengayomi masyarakat ini senang semuanya. Yang katanya mengayomi rakyat yang kelaparan.. tapi berkesan menyumpahi dengan kata-kata nyelekit supaya saudaranya sendiri agar semakin susah.. Yang katanya sanggup berbuat adil termasuk.. adil pada diri sendiri manakala ternyata.. diri sendiri jelas2 melakukan kesalahan.. tidak main watak gitu ganti rogerrr!!! Yang tidak berprasangka sembarangan. Yang tidak nyelekit sembarangan. Yang.. tidak MENFITNAH SEMBARANGAN!!!  Yang tidak pernah.. membuat orang jadi kebingungan karena tindakannya.. Yang tidak.. pernah melakukan tindakan yang hampir2.. membuat ORANG HAMPIR2 SAJA JADI MURTAD KARENA KEBINGUNGAN!!! Saya gak begitu tau apa hukumannya bila saya mengatakan ini. Tapi saya minta maaf duluan karena saya sangat ingin mengatakan ini. Bahwa saya sangat ingin mengatakan.. orang-orang di MUI yang berencana mengeluarkan fatwa ini adalah.. go-blok.. maap.. be-go.. maap.. to-lol.. maap.. du-ngu.. maap.. sekali.. Saya merasa suatu hari akan terjadi banyak orang murtad atau.. bercerai.. atau.. berpecah-belah hanya gara2 kasus memilih dan tidak memilih. Coba pikir baik-baik.. mana yang lebih baik? Jadi murtad? Ato jadi golput? Ya begitu saja deh.. Sekali lagi mohon maap. Oh iya.. satu lagi.. saya tidak sudi memilih PKS. Maklum.. kan saya cuma sampah. Sampah pantas diusir. Padahal si Sampah pernah bilang diawal-awal bahwa ia sangat tidak senang dengan kata-kata pengusiran. Sampah seperti saya tidak pernah menganggap kata-kata fitnah dan pengusiran sebagai sesuatu hal yang main-main. Karena tanggungjawabnya berat. Hmm.. tapi seperti biasa.. kalo lagi butuh.. disuruh gabung.. kalo perlu ngeluarin fatwa segala.. tapi kalo udah gak dibutuhin.. diusir-usir.. namanya juga.. SAMPAH!!!   

Rumah si Bapak di BSD

Wednesday, November 26th, 2008

Ini terjadi tatkala saya belanja di suatu mini market di kompleks saya, Griya Prima Asri, Bandung. Ada seorang bapak-bapak yang mungkin bagi dia aneh melihat saya belanja sendirian dan dia pun menanyakan kepada saya sudah berapa lama saya tinggal di Bandung. Saya pun menjawab bahwa saya kurang lebih sudah 2 tahun tinggal di Bandung. Lalu si Bapak itu melanjutkan pertanyaannya, sebelumnya saya tinggal di mana. Lalu saya jawab sebelumnya saya tinggal di Jakarta, tepatnya dekat Lebak Bulus. Lalu kemudian si Bapak itu mengatakan kurang lebih, “Kalo saya tinggal di BSD”. Saya kok dengernya ingin tertawa. Abis si Bapak ini kok.. nanya.. ato bertanya tanda kutip.. Halah.. anya-anya wae si Bapak ini!

Diklaksonin Ortu Mahasiswa

Wednesday, November 12th, 2008

Kisah ini terjadi beberapa hari setelah registrasi mahasiswa baru di kampus tempatku bekerja. Para mahasiswa baru tersebut tentunya sibuk mencari tempat tinggal yang baru maupun kos-kosan. Tidak sedikit dari orang tua mereka berkunjung untuk melihat keadaan mereka. Saat itu saya sedang terjebak di jalan yang macet, hendak pulang ke rumah. Untuk menghemat waktu, saya pun melajukan mobil ke jalan tikus agar cepat sampai di rumah. Namun sepertinya ada mobil lain yang mengikuti mobil saya, berbelok menuju jalan tikus tersebut. Kebetulan di belakang mobil saya tertempel stiker institusi yang ditempel oleh satpam kampus tanpa seijin saya. Ya wess! Karena saya berprasangka baik saja pada mobil di belakang saya, ya saya pun terus melajukan mobil.. ke rumah.. bukan ke kampus.. Lepas dari jalan tikus sepertinya mobil yang membuntuti saya seperti marah-marah dengan memain-mainkan klakson seenaknya. Mengganggu saya lebih tepatnya. Untungnya mood saya lagi baik. Saya pun mengeluarkan kepala dan tangan saya sambil meminggirkan mobil, seolah-olah berkata,”Silakan tuan, saya beri jalan seluas-luasnya untuk lewat”. Saya melihat seorang laki-laki tua berpakaian safari beserta perempuan yang sepertinya merupakan istrinya. Wanita itu seakan-akan memberitahu suaminya dengan berkata,”Bukan mahasiswa!”. Ya iyalah saya bukan mahasiswa sebab kalau saya mahasiswa tentunya saya akan berpakaian seragam mahasiswa. Baru saya sadar kalau mobil tersebut berplat B yang merupakan plat luar kota dan sepertinya mereka sedang kebingungan mencari jalan untuk ke kampus. Padahal kampus yang mereka tuju sudah terlewat cukup jauh akibat mereka memotong jalur macet melalui jalan tikus. Hmm.. coba pemirsa merenungkan kisah ini. Bila mereka membuntuti saya tanpa ngomong apa-apa ke saya sampai nyasar.. siapa yang salah? Trus kelakuan mereka menumpahkan kekesalan dengan mengganggu konsentrasi saya menyetir apakah tidak membahayakan orang lain? Terakhir.. apa yang seharusnya mereka lakukan dengan perbuatan mereka tersebut? Hmm.. saya cuma berpikir.. kalau kelakuan ortu mahasiswa aja udah kayak gitu.. gimana mahasiswanya ya? Atau jangan-jangan dosennya malah yang disalahin. Capek duehhh!!!

Disumpahin Mati

Wednesday, November 5th, 2008

Ini cerita pas beli sepatu di Cibaduyut. Duh kok saya sekarang lagi banyak cerita yang serem-serem ya :( . Soale lagi ingetnya yang kayak begini seh. Saat mengantar ibu saya ke Jakarta dari Bandung, menyempatkan diri mampir dulu ke Cibaduyut untuk membeli sepatu. Kebetulan sepatu saya yang biasanya saya pake tuh robek sedikit. Daripada ntar kejadian yang enggak-enggak, mendingan kan dihindari sejak dini. Saya sebenarnya suka sekali dengan model sepatu lama saya. Makanya gak heran saya gak mau ganti model sepatu. Beli sepatu yang merknya sama, ukurannya sama, di toko yang sama. Cuma sayangnya pas mo beli sepatu tersebut, ternyata ukuran yang nomor 43 lagi gak ada. Maksimalnya cuma 42. Ya akhirnya saya cuma bisa pesen aja dengan harapan suatu hari saya balik kembali ke toko itu lagi. Begitulah.. saya merencanakan untuk kembali ke toko tersebut sekembalinya ke Bandung, setelah lebaran usai. Cuma sayang sekali saat hendak mo berangkat, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Man! saya terbaring di tempat tidur kayak orang yang kagak bisa bangun. Rasanya kepala tuh berat banget. Akhirnya saya memberitahu ke pelayan toko, via sms, kalo saya sakit jadi gak bisa dateng. Tapi dibalas sama pelayan toko dengan jawaban kurang lebih seperti ini, “Trus kapan matinya?”. Hmm.. akhirnya saya bales aja smsnya dengan jawaban “Wa alaikum”. Anya-anya wae pelayan toko itu. Udah sepatu gak ada pas mo dibeli, cara melayaninya seperti itu. Namun akhirnya saya memutuskan mengadukan perihal itu ke pemilik toko tersebut. Hmm.. segitu aja dulu deh urusannya di dunia ini. Nantikan episode selanjutnya di akhirat kelak.

Di Bandung Juga Di-nyelekit-in

Monday, November 3rd, 2008

Akhirnya saya tinggal di Bandung. Sepertinya masyarakat di Bandung lebih mendingan ketimbang masyarakat di Jakarta maupun Banten juga Depok. Mungkin bisa jadi lantaran tekanan hidup di Bandung relatif lebih tidak seberat Jakarta maupun sekitar Jakarta kali ya. Boleh dibilang saya tinggal di suatu kompleks yang.. mungkin bisa jadi yang selama ini saya idam-idamkan. Pasalnya, di kompleks-ku tetangga-tetangganya boleh dibilang relatif tidak seusil tatkala saya tinggal di Jakarta, Banten maupun Depok. Lebih lagi saat bulan Ramadhan kemarin, ibadah di mesjid kompleks rumah saya itu boleh dibilang menenangkan hati. Saya jadi teringat masa-masa saya masih SMA, saat saya beribadah di mesjid tempat tinggal di Jakarta. Luar biasa menikmati sekali. Mesjidnya besar dan panitia Ramadhannya berkualitas. Cuma semenjak reformasi, panitia mesjidnya sepertinya banyak diganti. Ibadah yang saya rasakan tidak sekhusyuk waktu dulu. Kayaknya diganti sama orang-orang yang berhubungan dengan FPI gitu-gitu deh. Makanya kalo di Jakarta saya merasa mending tarawehan sendiri aja di rumah. Gak kuat euy kalo beribadah kayak gak khusyuk gitu. kayak ngejar-ngejar setoran aja rasanya. Namun ternyata di kompleks tempat tinggalku masih ada aja yang iseng nyelekit. Kebetulan ibu-ibu. Mirip dengan si bapak yang ada di Jakarta. Si ibu tetangga itu bertanyanya seputar mobil. Selalu menanyakan kalau saya tidak membawa kendaraan. Pernah suatu hari saya jawab kira-kira begini, “Oh iya Bu. Soalnya mobil saya lagi rusak. Mohon do’anya supaya bisa betul kembali”. Si ibu itu menjawab dengan meng-amin-kan. Gak tau amin yang tulus apa enggak tapi setidaknya saya sudah berusaha menjawab dengan baik. Tapi ternyata si ibu itu gak paham kali ya maksud baik saya. Diulangi lagi pertanyaan-pertanyaan yang sama tatkala saya tidak membawa mobil saya. Suatu hari saya sedang berolahraga naik sepeda. Pulangnya papasan lagi dengan si ibu itu dan.. seperti biasanya.. si ibu itu lagi-lagi menanyakan hal yang membuat kuping saya senewen. Akhirnya saya jawab, mungkin karena saya abis olahraga jadi agak capek (tuh kan, sesabar-sabarnya orang pasti akan lengah juga), saya jawab sekenanya aja, kurang-lebihnya, “Ya Ibu, kalo saya naik sepeda tapi sepedanya gak dipake.. kan mubazir. Sama juga kalo orang punya mobil gak dipake, mubazir juga kan?”. Saya gak tau deh saat itu si ibu itu tersinggung apa gak. Tapi saya saat itu jawabnya sambil lalu aja karena capek ngurusin yang begituan. Saya takutnya si ibu itu tersinggung aja kayak si ibu di Banten itu. Dan kalo sampe kejadiannya kayak yang di Banten itu.. weleh-weleh.. capek dueeehhh.. Hmm.. masih di hari yang sama saya sempet melihat si ibu itu pergi naik motor. Dandanannya euy.. bener-bener ibu-ibu trendy. Modis banget. Kalo dipikir-pikir.. semakin modis seseorang, berarti asosiasinya semakin kaya. Saya yakin kalo saya dijejer sama si ibu itu saat itu, kalah modis deh. Cuma kalo yang terjadi si ibu itu lebih modis dari saya, yang asosiasinya lebih kaya dari saya, kenapa lagi ngurusin mobil saya dengan pertanyaan-pertanyaan gak produktif kayak gitu? Bener kan pemirsa? Kadang-kadang saya ingin balik bertanya ke si ibu itu dengan pertanyaan kayak gini. “Bu.. kalau saya mandi sambil duduk di atas mobil saya, saya tuh waras atau tidak waras? Kalau saya apa-apa harus duduk di atas mobil saya, berarti saya waras atau tidak waras? Trus kalau saya selalu ditanya oleh Ibu dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan-akan Ibu selalu menginginkan saya selalu berada di atas mobil saya.. berarti siapa yang gak waras? Yang ditanya atau yang bertanya?”. Cuma kalau gitu pertanyaannya bisa-bisa perang dunia ketiga kali ya. Dan pastinya hubungan ke depannya jadi tidak harmonis. Setidak-tidaknya dengan adanya history pernah perang dunia ketiga, mestinya akan ada ganjalan di dalam hati. Gitu aja deh ceritanya. Capek dueeehhh!

Banten pun Turut Nyelekit

Saturday, November 1st, 2008

Kalau ini kisahku di Banten. Kebetulan yang nyelekit ibu-ibu tetangga. Hmm.. kenapa selalu ada yang usil ya? Capek bener telinga rasanya. Saat itu boleh dibilang termasuk masa-masa yang sulit buatku. Lagi krisis moneter, belum lagi kerjaku gak jelas. Hidup seorang diri pula di Banten. Walau jarak antara Banten dan Jakarta (tempat ibuku tinggal) gak begitu jauh, tetap aja tinggal sendiri ya.. berarti tinggal sendiri. Apa-apa mengurus diri sendiri. Mungkin si ibu ini tau kalo saya cukup layak di-nyelekit-in. Ya begitulah. Pertanyaannya seputar kok saya gak kerja. Padahal saya sudah menjelaskan saya tuh belum mapan. Hmm.. suatu hari mungkin saya lagi bete berat. Saya ingat sekali kejadiannya saya sedang belanja dua buah indo mie dan telor. Dan si ibu itu menanyakan lagi hal yang sebenarnya tidak saya sukai untuk ditanyakan. Maklum.. bukan berniat bertanya kali ya. Saya rasa wajar sekali bila suatu hari pasti kelepasan juga sesabar-sabarnya saya. Saya sendiri agak lupa bagaimana menjawabnya, namun si ibu tetanggaku itu tersinggung. Sampai-sampai anak laki-lakinya datang ke rumahku. Anaknya bilang bahwa saya membanting pintu di depan si ibu itu. Kaget euy saya mendengarnya. Karena seingat saya, saya tuh memegang dua buah indo mie goreng yang saya beli dengan tangan kiri saya, dan sebutir telor di tangan kanan saya. Pasti gak mungkin membanting pintu. Jangankan menutup pintu. Gimana caranya coba. Tapi yang kayak begini sudah sangat sering seh terjadi pada diri saya. Orang lain yang cari gara-gara. Orang lain yang marah padahal dia yang mencari gara-gara. Terus orang yang dikerjain yang disuruh minta maaf. Maklumlah hidup seorang diri di kota orang. Saya mengalah saja minta maaf. Walau di dalam hati saya.. yakin sekali saya tidak bersalah. Capek deh!

Di-Nyelekit-in di Jakarta

Saturday, November 1st, 2008

Ini kisahku tatkala aku berkunjung ke rumah ibuku di Jakarta. Sebenarnya kalau dibilang tetangga, sepertinya bukan juga. Sebab saya yakin banyak rumah di sekitar rumah ibu saya itu tidak memiliki IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). Sebab menurut tata kota yang seharusnya, persis di depan rumah ibuku adalah jalan sebesar empat jalur mobil. Tapi jadinya ya, jalurnya cuma dua buah, dan di depan rumahku berdirilah berbagai rumah. Hmm.. dan yang menarik adalah.. yang tinggal di berbagai rumah tersebut lebih cocok saya sebut sebagai pendatang ketimbang orang asli di situ. Tapi ada yang unik, tatkala saya melewati suatu jalan yang ada di sekitar rumahku, ada bapak-bapak yang ngomongnya selalu menanyakan mobil saya tatkala saya tidak mambawa mobil, tatkala saya berpergian. “Loh mobilnya mana?”, begitu selalu tanyanya. Dan itu selalu dilakukannya berulang-ulang bila saya lewat situ tanpa membawa kendaraan. Saya sendiri, lebih senang bilamana pertanyaannya adalah hal-hal seperti kesehatan, kabar keluarga saya atau yang semacam itu. “Bagaimana kabarnya Dod? Sehat?”, misalnya. Atau,”Bagaimana kabar Ibu?”. Kayaknya hal-hal seperti itu lebih berbekas di hati dan berkesan mendo’akan yang baik-baik. Dan saya juga merasa lebih berharga ketimbang ‘benda mati’. Hmm.. tapi ada suatu hal yang menarik adalah.. tatkala anak perempuannya telah dinikahi orang. Si bapak itu tidak pernah lagi menanyakan tentang mobil saya. Sampai-sampai saya berpikir, berkah juga ya nikahnya anak perempuan si bapak itu. Pada akhirnya bisa membawa perubahan ke si bapak itu. Jadinya kuping saya gak senewen lagi bila lewat jalur yang biasanya saya lewati.

Survey: Temenan Dgn Si Nyelekit

Friday, September 5th, 2008

76,19 persen punya temen suka ngomong nyelekit
23,81 persen punya temen gak suka ngomong nyelekit (sy pingin punya jodoh dr yg ini)

Kenapa temenan?
38,46 persen gak tau, terjadi begitu saja
30,77 persen mengaku terpaksa (kasian bener)
7,69 persen krn si nyelekit yang ngedeketin

Alasannya dia suka ngomong nyelekit
68,75 persen udah kebiasaan (ternyata banyak ya jumlahnya)
31,25 persen gak tau

Respon thd si nyelekit
21,43 persen berusaha menjauh (kayak na yg sy lakukan skrg)
64,28 persen memberitahunya (malah dikeroyok rame2)
7,14 persen dibalas (sy gak mo jd replika si nyelekit, jd opsi yg ini gak sy lakukan)
7,14 persen dicueki aja (benar2 pemaaf. Blum bisaaaaaaa!!! Jujur blum bisa!!!)

(Ditulis ulang dari suatu sumber)


Bad Behavior has blocked 31 access attempts in the last 7 days.