Archive for the ‘Harianku’ Category

Peringkat Scopus Universitas Telkom Naik

Saturday, August 22nd, 2015

Peringkat publikasi ilmiah Universitas Telkom yang terindeks Scopus naik dari yang semula di peringkat 31, kini berada di peringkat 19, selama periode Januari 2015 hingga Juni 2015.

Peringkat Scopus Perguruan Tinggi Indonesia

Fakultas Informatika Universitas Telkom, menjadi penyumbang terbesar dalam pencapaian hal itu. List lengkapnya dapat diunduh di sini.

Antara Sikap dan Kemampuan

Friday, August 21st, 2015

Hasil riset Universitas Harvard menyatakan 85% kesuksesan itu adalah karena sikap, dan 15% adalah karena Kemampuan.

Jatuhnya Pasar Saham Tiongkok

Wednesday, August 5th, 2015

Kejatuhan Pasar Saham Tiongkok memang tidak menghebohkan masyarakat Indonesia. Namun, bagi saya, ini menjadi berita yang sangat menarik perhatian. Di mana Tiongkok mederita kerugian sekitar 3,2 triliun dolar, hanya dalam hitungan 3 hari saja.

Saya sendiri mengetahui dari salah seorang rekan, yang memaparkan surat terbuka dari Dahlan Iskan.

Belajar dari peristiwa ini, sebenarnya bisa direka-reka, siapa sesungguhnya yang merupakan Macan Asia.

Kerusakan Akibat Kapitalisme

Friday, July 31st, 2015

Bila berbicara tentang sosok Osama bin Laden, sering dipautkan dengan isu terorisme. Dengan tewasnya Osama, seakan-akan dunia telah diamankan dari bencana. Namun benarkah demikian?

Saya berharap, saya mampu berbicara berdasar data. Sehingga, dengan demikian, semoga saya bisa berbicara bukan dengan prasangka, maupun emosi semata.

Berdasarkan data tertanggal 3 Mei 2011 dari suatu media, mengenai bencana alam yang terjadi di Indonesia, dapat dilihat sbb:

Bencana Kerusakan Alam Akibat Kapitalisme

Dapat dilihat bahwa ternyata, kerusakan alam akibat kapitalisme, yang dapat menimbulkan bencana alam, jauh lebih besar dari bahaya yang diakibatkan oleh terorisme. Sehingga di sini, tentunya kita bisa menimbang-nimbang, manakah sebenarnya musuh terbesar umat manusia, terorisme.. (yang bisa jadi hanya sekedar isu tentang terorisme saja..) atau kapitalisme.

Link terkait: http://tinyurl.com/p2zj845 (Economic War (Rusia VS Amerika): Pelajaran Buat Indonesia)

Menyoroti Insiden Tolikara

Wednesday, July 22nd, 2015

Pada posting ini, saya berbicara atas nama saya pribadi. Tepatnya, saya berbicara sebagai seorang muslim.

Saya sangat prihatin dengan insiden yang terjadi di Tolikara, di mana hal tersebut, akhirnya mengingatkan saya atas peristiwa berdarah yang pernah terjadi di Maluku. Semuanya terjadi justru saat kaum muslim berada pada event saling memaafkan terhadap sesama.

Bicara tentang toleransi, sebenarnya, dengan kondisi jumlah gereja yang ada di Indonesia, yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah masjid, dengan jumlah penduduk Indonesia di mana 93% memeluk agama Islam, merupakan keadaan yang sangat memprihatinkan. Bila kebanyakan para penguasa di daerah termasuk pusat tidak jeli terhadap hal ini, kadang saya suka bertanya-tanya tentang itikad dari para penguasa tersebut. Politik apa yang hendak dimunculkan dengan tindakan semacam ini. Politik adu dombakah? Atau politik busuk yang mana? Atau sebenarnya negara ini telah disetir oleh bangsa-bangsa lain, sehingga penguasa yang ada hanyalah boneka saja yang tidak memiliki kemampuan memerintah dengan bijak? Saya rasa sangat wajar saya bertanya-tanya tentang hal itu semua, dengan munculnya insiden semacam ini, dan telah terjadi untuk kesekian kalinya.

Saya yakin, tidak akan ada gigi yang berani berunjuk gigi, bila tidak didukung oleh gigi-gigi lainnya. Sebenarnya, bila saya bisa berbicara kepada dalang skenario busuk ini, saya ingin mengatakan, bahwa skenario semacam ini adalah skenario yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Sebab, sebentar lagi, akan ada alien yang lebih ganas yang hadir di negeri ini, setidaknya pada akhir tahun 2015 ini. Alien yang dapat ditundukkan oleh orang-orang yang bijaksana, atau hanya menjadi sesuatu yang akan menjadi pemersatu para pesakitan yang lantaran, isi otaknya hanya dipenuhi hal-hal busuk yang tidak produktif.

Analisa saya pribadi, negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan juga Vietnam, serta Filipina, mereka merupakan negara-negara yang memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di akhir tahun 2015 ini, dibandingkan dengan Indonesia.

Saya berharap orang-orang yang cerdas dan bijaksana, dapat memprioritaskan apa yang penting dilakukan untuk negeri ini, dan bagi generasi penerus negeri ini. Agar jangan sampai bila saatnya tiba, negeri ini tidak luluh lantak, terlindas oleh era yang baru.

Saya berharap pemerintah mau mengirimkan tidak hanya sebatas aparat keamanan saja ke Tolikara. Tapi juga para ekspertis seperti halnya para psikolog, para psikiater, dan para sosiolog untuk menelaah akar permasalahan yang terjadi di sana. Agar jangan sampai penanganan terhadap insiden tersebut, hanya sebatas penanganan yang prematur, yang mengakibatkan potensi berulangnya kembali insiden semacam ini untuk kesekian kalinya.

Dengan segala keprihatinan saya berucap..

Bagi kami, agama kami.

Bagi Anda, agama Anda.

Kami (umat Islam) TELAH membuktikan toleransi kami berulang kali.

Bagaimana dengan Anda?

Bicaralah tentang persatuan.

Bila tidak sanggup berbicara tentang toleransi.

Pulang Kampung dan Sejatinya Pulang

Friday, July 17th, 2015

Pulang kampung, seperti menjadi tradisi buat para pemudik yang ingin berlebaran dengan sanak keluarganya. Seperti pada umumnya orang yang berlebaran, mereka tentu mempersiapkan perbekalan agar dapat sampai tujuan dan tinggal beberapa saat di tempat tujuan tersebut. Di kampung halaman, setelah melepas rindu dengan sanak keluarga, tentunya akan terbersit keinginan untuk kembali ke lingkungan semula, di mana keseharian mereka telah tinggal selama ini. Sehingga boleh dikatakan, waktu untuk tinggal di kampung halaman pun tidak akan lama-lama, atau setidaknya berbatas waktu.

”Jalan

Namun, sejatinya pulang, yaitu pulang ke negeri akhirat, yang mana semua manusia tanpa terkecuali akan pergi ke sana, setibanya di sana, mereka tidak akan dapat kembali ke dunia. Mereka akan tinggal selama-lamanya di negeri akhirat tersebut, sesampainya mereka di sana. Perbekalan yang dapat dijadikan andalan untuk mereka hanyalah amal kebaikan yang diterima oleh Alloh SWT.

Ingat pulang kampung, ingatlah juga kampung akhirat.

Semoga kita dipertemukan kembali pada Ramadhan berikutnya. Selamat Idul Fitri 1436 Hijriah. Taqaballahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir bathin.

Sentuhan pada Ramadhan 1436 Hijriah

Saturday, June 20th, 2015

Sentuhan di awal-awal Ramadhan 1436 H.

Menanti sentuhan selanjutnya, atas izin Alloh SWT.

Siap-siap..

Siap-siap..

Antara Kesholehan dan Kesuksesan

Sunday, May 31st, 2015

Saat saya menghadiri Sholat Jumat, sang kyai berkhutbah kurang lebih seperti ini, “Bila Anda ingin pintar, jadilah orang yang sholeh. Bila kesholehan Anda tidak membuat Anda pintar, maka niscaya Anda akan beruntung. Kepintaran tidaklah selalu sebanding dengan keberuntungan. Namun keberuntungan seseorang selalu dapat membawa dirinya kepada kesuksesan”.

Sholat berjamaah di mesjid

Semoga kita menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Peraturan, Infrastruktur dan Visinya

Saturday, May 30th, 2015

Banyak peraturan di Indonesia yang perlu direvisi. Seperti halnya sistem operasi, perangkat lunak, maupun perangkat keras, perlu direvisi agar dapat mengikuti dengan apa yang menjadi kebutuhan manusia. Yang ingin saya katakan dalam hal ini adalah, jangan terlalu berharap banyak dengan adanya perubahan yang signifikan di masyarakat, bila peraturan-peraturan yang dibuat pun masih banyak yang merupakan peninggalan jaman penjajahan Belanda, alias banyak yang belum direvisi. Belum lagi administrasi dari hukum tersebut yang saling tumpang tindih dan potensial menimbulkan definisi yang berbeda-beda.

Meski saya tidak mencoblos presiden terpilih saat ini, namun ada hal-hal yang bagi saya cukup pantas untuk diberikan apresiasi. Salah satu diantaranya adalah dengan dikeluarkannya perda (peraturan daerah) tentang larangan penjualan minuman keras yang sejak tanggal 16 April 2015 resmi diberlakukan.

Namun sayangnya, seringkali peraturan yang dibuat di Indonesia, tidak ditunjang dengan infrastruktur pendukung yang baik. Sehingga, peraturan hanya tinggal peraturan.

Yang saya maksudkan dengan infrastruktur pendukung adalah peraturan penjelas dari peraturan yang dimaksudkan, agar tidak menimbulkan pengartian yang ambigu di masyarakat, juga aparat pelaksana yang menjamin terlaksananya penerapan dari peraturan tersebut.

Kondisi yang saya sampaikan, pada dasarnya telah terjadi pada pemerintahan yang lama, yaitu pada saat dikeluarkannya Undang-Undang Keterbukaan. Visi diciptakannya undang-undang tersebut sangat bagus. Tapi kalau ditanya bagaimana implementasinya, saya yakin mulai dari sosialisasinya hingga penerapannya, masih boleh dikatakan jauh dari kata berhasil. Apakah pada pemerintahan yang sekarang ini akan melakukan hal yang sama dengan pemerintahan yang lama? Semoga saja tidak!

Miras di Mini Market

Jenis miras di mini market (06/05/2015)

Namun ada satu hal yang paling penting yang perlu digarisbawahi, bahwa semua peraturan yang ada, dibuat lantaran memiliki visi. Visi yang paling utama dari dibuatnya peraturan adalah terwujudnya “keadilan” di mata masyarakat. Sehingga bila visi yang terlihat lebih condong pada “penangkapan”, “pemecatan”, atau “nafsu kemenangan dan kekuasaan”, jangan salahkan siapa-siapa bila muncul social disorder di mana-mana. Hanya tinggal masalah waktu saja sampai keresahan di masyarakat, membentuk kondisi kekacauan dengan sempurna.

Bila visi sebuah aturan sudah bertolak belakang dengan penerapan aturan tersebut, sudah dipastikan ada yang salah dalam penataan administrasi penerapan aturan tersebut. Hal ini kadang menimbulkan persepsi, seakan hukum “bisa dibeli” demi kepentingan golongan tertentu. Selanjutnya, hal ini pulalah yang menimbulkan keresahan di dalam masyarakat. Masyarakat ingin aman. Namun malah jadi merasa tidak aman. Aneh memang. Namun itulah kenyataannya. Institusi yang seharusnya menegakkan ketertiban di masyarakat, justru seakan menjadi “biang kerok” pembuat resah masyarakat.

Pada dasarnya saya masih menaruh harapan pada pemerintah yang sekarang ini, setidaknya untuk hal-hal yang kalau boleh dikatakan tidak besar, yaitu untuk hal-hal yang kecil. Maaf saya sebut hal-hal kecil, mengingat dengan berbagai pajak yang naik, namun, seperti kinerja dari pemerintah yang sekarang, tidak juga kunjung naik. Maka dari itu, saya sebut pemerintah yang sekarang ini, setidaknya telah berusaha berbuat, untuk hal-hal yang kecil. Namun sekali lagi saya tegaskan, seperti yang saya katakan tadi, saya masih berharap setidaknya, hal-hal yang kecil ini dapat diperbaiki di kemudian hari, kalau bisa secepatnya, agar dapat memberi manfaat yang besar bagi masyarakat.

Salam revolusi mental untuk pemerintah!

Aturan JFA Lektor Kepala

Friday, May 29th, 2015

Dulu saya mendengar adanya isu bahwa Jabatan Fungsional Akademik (JFA) untuk Lektor Kepala harus meriah Doktor terlebih dahulu. Sebenarnya saya termasuk salah seorang yang sempat termakan isu tersebut. Namun setelah saya mempelajari dari aturan sebenarnya, yaitu Permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Nomor 092 Tahun 2014, sesungguhnya JFA untuk Lektor Kepala tidak harus mengambil Doktor terlebih dahulu. Seseorang bergelar Master pun bisa meraihnya asal memenuhi syarat-syarat tertentu. Singkatnya, syaratnya adalah setidaknya memiliki satu paper yang diterima di jurnal internasional, disamping memenuhi kredit paling sedikit 400 kum.

Permendikbud No. 092 Tahun 2014

Namun ada berkah di balik adanya isu yang sempat beredar tersebut. Gara-gara adanya isu tersebut, saya sempat berjuang untuk mengambil program doktoral. Bahkan akhirnya sampai sekarang, saya jadi keterusan berjuang untuk mengambil program doktoral tersebut.

Aturan mengenai JFA untuk Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor, dapat diunduh di sini