Archive for the ‘Harianku’ Category

Enaknya Konferensi Internasional ICoICT 2015

Thursday, May 28th, 2015

Konferensi Internasional ICoICT 2015

Lunch-nya enak..

Gala Dinner-nya enak..

Gala Dinner

Pantainya enak..

Pantai Nusa Dua

Tidur enak juga..

Cuman.. makan, tidur, jalan-jalan.. Nah loh.. Paham gak maksudnya saya :D

Tapi gak papa seh, asal dibayarin.

Sepatuku

Thursday, May 7th, 2015

Sepatuku

Sepatuku
Sudah tiga tahun lebih kau menemaniku
Bentukmu sudah tidak baru lagi
Namun aku tetap menyukaimu
Karena kamu tangguh
Dan selalu dapat mendukungku

Sepatuku
Aku telah membawamu ke berbagai tempat
Banyak kisah kulewati bersamamu
Kisah-kisah yang bagi diriku pribadi
Adalah kisah-kisah yang menarik
Tentang perjuangan kita
Melalui kehidupan ini

Sepatuku
Aku yakin sekali
Suatu saat kita kan berpisah
Namun sebelum itu terjadi
Kutulis kisah tentangmu
Dalam harianku
Agar kau abadi
Setidaknya dalam kenanganku
Saat-saat aku bersamamu

Bicara Kemanusiaan Ala Prancis

Tuesday, April 28th, 2015

Menarik tatkala Indonesia, sebagai negara berdaulat, hendak menerapkan hukum positif terhadap para tersangka pengedar narkoba. Prancis bersuara keras dan lantang, bahkan mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Saya yakin, bila Prancis melihat duduk perkara yang sebenarnya, tentang bahaya pengedaran barang haram tersebut di Indonesia memiliki dampak yang besar, bahkan bisa berdampak multi-dimensi, dan multi-generasi, Prancis akan setuju dengan hukum positif yang diberlakukan Indonesia. Namun sayangnya, saya menganggap sesungguhnya protes keras Prancis, lebih mirip standar ganda dengan dalih rasa kemanusiaan.

Saya yakin, Prancis masih ingat dengan jelas dengan sepak terjangnya di Aljazair, tatkala sebuah partai yang melalui cara-cara yang demokratis memenangkan pemilu, kemudian dijegal dengan terang-terangan, pun dengan dalih mencegah munculnya terorisme.

Saya yakin, Prancis sangat paham dampak dosa yang telah diperbuatnya. Sebab, yang mati sia-sia, boleh dikatakan lebih dari ratusan ribu orang setelah kejadian tersebut. Sebuah pembunuhan massal yang sistematis dan masih mengatasnamakan kemanusiaan ala Prancis.

Saya hanya ingin mengatakan kepada Prancis, bisakah Prancis memperbaiki kerusakan yang telah terjadi akibat sepak terjangnya tersebut? Apakah Prancis masih merasa dirinya sebagai bangsa beradab, ataukah lebih mirip seperti bangsa barbar alias agresor?

Sebagian manusia di dunia ini memandang kematian sebagai suatu kemuliaan. Namun lantaran hal tersebut, pernah muncul kisah sebuah bangsa yang mencapai masa kegemilangannya. Hal tersebut terjadi, justru karena cara pandang yang benar atas kematian. Cara pandang yang pada akhirnya membuat sebuah bangsa tidak sekedar eksis, namun juga mencapai kejayaannya. Bagaimanakah Bangsa Prancis memandang suatu kematian? Apakah Prancis sangat berambisi atas pencapaian kemenangan dunia yang sempit, sehingga menghalalkan segala cara termasuk standar ganda? Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan tersebut, sangat menentukan nasib Bangsa Prancis, apakah Prancis merupakan sebuah bangsa yang mulia, atau hanyalah bangsa barbar yang hina.

Memaknai Rasa Syukur

Tuesday, March 31st, 2015

Memaknai Rasa Syukur

Bila kita mempelajari Sirah Nabawi (Kisah Kehidupan Nabi), akan didapati bahwa Rasulullah S.A.W. sangat banyak ibadahnya. Hal ini dikarenakan Beliau memiliki kesanggupan untuk memaknai rasa syukur. Sebagaimana tatkala istri Beliau bertanya, bukankah Beliau sudah dijamin masuk surga, lalu mengapa seperti tiada henti dalam beribadah. Jawaban Beliau adalah lantaran rasa syukur Beliau terhadap Alloh SWT.

Bila Rasulullah tidak pandai memaknai rasa syukur, mungkin hal yang muncul di dalam benak Beliau adalah seperti yang ditanyakan oleh istri Beliau.

Jikalau kita memiliki kamampuan memaknai rasa syukur, maka rasa syukur kita dapat berlipat ganda. Semoga kita bisa memaknai rasa syukur, agar kita semakin banyak bersyukur.

Masih Bisa Bersyukur Kala Harga BBM Naik

Monday, March 30th, 2015

Dengan naiknya harga BBM, alhamdulillah, saya masih bisa bersyukur. Pasalnya, ada beberapa hal yang membuat saya masih bisa mengatur pengeluaran saya.

Yang pertama, adalah dengan adanya kendaraan roda dua yang saya miliki, sejak beberapa tahun lalu. Sebab, kalau saya tidak memiliki kendaraan roda dua, sepertinya dengan keadaan sarana transportasi yang ada sekarang ini, akan sangat membuang tenaga, materi dan juga waktu saya. Dengan memiliki kendaraan roda dua alias motor, saya bisa menghemat setidaknya untuk pembiayaan BBM dan juga waktu saya. Dengan menggunakan motor, bila ada kemacetan, masih relatif bisa jalan karena bisa menyisir lewat celah-celah kemacetan, termasuk untuk melalui jalan-jalan pintas yang bukan merupakan jalan umum.

Yang kedua, saya bersyukur masih bisa menurunkan daya pasokan listrik saya ke 900 watt. Dengan penurunan daya ini, setidaknya saya bisa menghemat pengeluaran dari penggunaan beban listrik yang tidak perlu. Walau kadang suka drop, namun sampai sejauh ini, masih bisa saya atur-atur penggunaannya.

Saya yakin pemerintah telah melakukan berbagai kajian tentang dampak kenaikan harga BBM ini, seperti melakukan kajian apakah tingkat kemiskinan rakyat negeri ini akan semakin bertambah atau akan semakin berkurang. Harapan saya adalah agar dengan kenaikan harga BBM ini, jumlah angka kemiskinannya semakin berkurang. Sebab, pemerintah akan memberikan insentif dalam bentuk layanan maupun fasilitas yang semakin lebih baik, sehingga dapat menunjang kinerja rakyatnya.

Salam revolusi mental untuk pemerintah.

Hikmah Berbagi, Menjadi Relawan Kelas Inspirasi Bandung

Saturday, February 28th, 2015

Dengan segala kesibukan saya, termasuk dalam menjalani rutinitas saya dalam bekerja, sesungguhnya selalu ada keinginan untuk berbagi. Berbagi yang murni berbagi, bukan berbagi lantaran ada kepentingan di balik itu, seperti adanya pesan-pesan sponsor.

Pada akhirnya, saya bergabung dengan Komunitas Kelas Inspirasi Bandung, untuk bisa mengaktualisasikan keinginan saya untuk berbagi. Sebuah komunitas yang mengusung tema tentang bagaimana orang-orang yang telah memiliki profesi, membagi cerita dan pengalamannya dalam menjejaki profesinya masing-masing. Dengan harapan, generasi penerus selanjutnya dapat terinspirasi, agar dapat mengikuti jejak mereka, atau bahkan lebih daripada itu.

Saya sendiri sebagai seorang dosen, memiliki tiga fungsi dalam pekerjaan saya. Yaitu sebagai peneliti, sebagai pengajar dan juga sebagai konsultan. Begitu selalu saya menjelaskan, tatkala memberi inspirasi kepada anak-anak di SDN Kacapiring, Bandung yang saya kunjungi.

Ada yang menarik tatkala saya bertanya kepada anak-anak yang saya beri inspirasi. Yaitu tatkala saya menanyakan tetang ketiga fungsi yang tertera dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut. Dari ketiga fungsi tersebut, yang paling banyak diminati oleh anak-anak adalah dosen sebagai peneliti. Kedua adalah dosen sebagai pengajar. Sedangkan yang paling sedikit adalah dosen sebagai konsultan.

Kelas Inspirasi Bandung Angkatan Ketiga

Ada dua hal yang bisa saya ambil hikmahnya dari apa yang saya alami selama saya menjadi Relawan Kelas Inspirasi Bandung. Yang pertama, sebenarnya anak-anak tersebut sudah memiliki keinginan yang besar untuk maju secara akademis. Hanya tinggal apakah para penguasa negeri ini dapat memberi fasilitas yang memadai bagi mereka untuk maju atau tidak. Yang kedua, saya bersyukur karena Alloh SWT yang telah memberikan nikmat begitu banyak kepada diri saya. Yang terkadang, saya baru menyadari hal tersebut, manakala saya melihat ke bawah dan bukan melihat ke atas.

Semoga kita menjadi bangsa yang pandai bersyukur.

Kelas Inspirasi Bandung Angkatan Ketiga

Berhenti Dulu Menulis di Kompasiana

Sunday, February 22nd, 2015

Hampir saja saya mengatakan, “Selamat tinggal Kompasiana!”.

Tentu saja hal ini memiliki sebab. Sebab utamanya adalah lantaran Kompasiana, yang diusung Kompas ini, makin lama loading page-nya semakin berat saja. Sebenarnya saya sudah memberi saran agar Provider atau Admin Kompasiana tidak terlalu membebani laman miliknya dengan berbagai program javascript, mengingat javascript sangat memakan resource. Sesungguhnya saya juga tidak terlalu keberatan bila pada akhirnya Kompasiana ini dipasangi berbagai iklan. Sebab, keinginan saya menulis lebih pada ingin berbagi kepada sesama, dengan harapan agar bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan beradab. Namun sayangnya, pemasangan program-program javascript dari para sponsor, untuk keperluan menghitung metrik, maupun untuk tracking, pada akhirnya akan membebani laman, terutama saat loading. Sehingga bila terlalu banyak, maka akan menimbulkan masalah, seperti waktu loading yang terlalu lama yang melebihi ambang psikologis pembaca untuk membuka laman tersebut.

Kompasiana Loading Page Performance

Jadi, kelakuan Provider Kompasiana ini seakan memiliki kemiripan dengan kelakuan para provider telekomunikasi negeri ini. Awal mulanya saya sebagai user, dibuat sangat senang dengan adanya tema yang mengusung jurnalis warga. Namun ketika sudah naik daun, pada akhirnya, layanannya pun menurun. Keuntungan sesaat mengalahkan khittah untuk mengangkat semangat jurnalisme.

Sepertinya, konsep kebersamaan yang diusung masih berbunyi, “Bila Anda suka silakan tinggal, bila Anda tidak suka silakan pergi”. Jadi bunyinya masih belum, “Adakah saran dari Anda agar kita bisa maju bersama?”. Sepertinya, sang provider masih belum paham maksud dari syair yang saya tulis, yang berbunyi, “Tatkala Yang Maha Esa menyempurnakannya, maka sempurnalah ia”. Pada akhirnya, kepentingan jangka panjang seperti terkalahkan oleh kepentingan jangka pendek.

Bukan saya hanya mau berjuang sendirian. Namun ada hal-hal yang berkaitan dengan konsistensi juga keikhlasan yang menjadi hal yang sangat mendasar untuk memperjuangkan yang benar. Saya sampai sekarang masih memegang konsep, yang mana bila tidak bisa banyak, lebih baik sedikit, asal ikhlas. Bila tidak bisa sedikit, lebih baik diam asal ikhlas dan tidak membuat kerusakan yang telah terjadi semakin bertambah-tambah. Alloh SWT Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati.

Kormakyu Loading Page Performance

Pada akhirnya, sekali lagi, tatkala Yang Maha Esa menyempurnakannya, maka sempurnalah ia. Sesungguhnya kemenangan hanyalah sebuah izin dari Alloh SWT. Bukan lantaran kekuasaan kita untuk memenangkannya.

Semoga Kompasiana segera berbenah diri, agar saya bersedia kembali menulis di sana.

Salam Kompasiana!

Nilai Kehidupan Yang Pragmatis, Menjebak Kita Pada Kemajuan Yang Pragmatis

Wednesday, March 6th, 2013

Sudah beberapa kali saya menghadapi adanya mahasiswa yang kemampuan akademisnya kurang, namun hampir semuanya.. memiliki permasalahan yang justru permasalahannya adalah bukan berasal dari permasalahan akademis mereka. Bukan permasalahan internal dari diri mereka. Namun ternyata permasalahannya adalah permasalahan eksternal dari diri mereka.

Banyak mahasiswa menganggap nilai Indeks Prestasi adalah segala-galanya, akibat dari harapan yang terlalu tinggi dari kondisi yang ada di sekitar mereka. Termasuk besarnya harapan orang tua mereka kepada diri mereka. Padahal bisa jadi sesuatu yang menjadi harapan orang tua mereka, bukanlah suatu hal yang benar-benar bernilai bagi diri mereka.

Baru saya sadari pada akhirnya, masalah pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana kita menciptakan manusia yang memiliki keseimbangan. Baik keseimbangan jasmani maupun rohaninya. Sebab bila jasmani dan rohaninya sudah benar-benar seimbang, diterpa berbagai permasalahan apa pun, manusia itu akan kuat menghadapinya dan akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan hidupnya.

Sering kita terjebak pada definisi yang pragmatis akan arti dari suatu “kemajuan”. Dan ini yang menyebabkan mengapa tingkat bunuh diri, perceraian dan kasus-kasus kriminal yang tinggi.. justru diperoleh predikatnya.. di negara-negara yang katanya “sudah maju”. Sehingga tidaklah benar bila mengatakan bahwa kemajuan itu.. termasuk di dalamnya kemajuan di bidang pendidikan.. konotasinya selalu dianggap sesuai dengan cara melakukan modernisasi.

Terkadang, segala sesuatu yang sudah demikian kronisnya untuk dicarikan solusinya, ternyata solusinya adalah tidak jauh-jauh.. dari kondisi.. bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang pemaaf..

Puasa Itu 28 Hari? :)

Saturday, August 18th, 2012

Menarik tatkala pemerintah negeri impian hendak menentukan awal 1 Ramadhan. Karena ada yang mengatakan bahwa 1 Ramadhan jatuh tanggal 20 Juli 2012, ada juga yang mengatakan jatuhnya tanggal 21 Juli 2012. Saya gak akan mengatakan bahwa saya mulainya tanggal 20 atau 21. Tapi yang ingin saya katakan adalah.. daripada saya denger “katanya-katanya-katanya..” pada akhirnya menjelang penetapan 1 Ramadhan tersebut saya nonton aja perdebatan antar para ulama di TV. Padahal saat itu boleh dibilang saya udah agak2 ngantuk2. Maklum.. kebiasaan dari kecil gak suka begadang. Boleh dibilang pada akhirnya saya termasuk yang berbahagia karena memilih berpuasa pada tanggal 1 Ramadhan berdasarkan pengetahuan yang menjadi tanggung jawab saya sendiri. Gak ikut-ikut. Sampe2 saya bilang ke keluarga saya di Jogya (karena kebetulan saat awal Ramadhan saya masih di Jogya), bahwa saya melakukan ini bukan karena saya pengikut “aliran lurus atau pun sesat”.

Cuma yang kasian seh, yang awal puasanya tanggal 21 Juli 2012, sedangkan lebarannya tanggal 19 Agustus 2012. Itu teh.. perasaan masih 28 hari lah yauw. Berarti masih perlu mengganti sehari karena puasanya.. kurang sehari :) Bener kan ya? :)

Mungkin saya salah kali ya :) Mungkin yang bener adalah.. asal bisa nyalain petasan :)

Niat Pada Akhirnya Yang Menentukan

Saturday, August 18th, 2012

Saya sebenernya boleh dibilang pembenci Facebook. Atau setidaknya ogahlah yang namanya buka2 Facebook. Sebagai orang yang gak doyan Facebook, cukup kaget tatkala ada tulisan yang menyatakan bahwa cowok yang gak suka gaul di Facebook adalah ciri cowok yang suka punya wanita idaman lain. Tapi lucunya, menurut survey, selingkuh pada jaman sekarang, paling banyak di-trigger oleh yang namanya.. Facebook.. Mana pernyataan yang benar? Bingung kan? :)

Ada juga kasus yang mirip2 kondisi di atas. Saat ceramah menjelang taraweh, dikasi tau bahwa ada ustad yang bilang bahwa tidurnya orang yang berpuasa atau beritikaf adalah berpahala. Tapi ada juga ustad yang lain bilang, klo pahala tidak akan dicatat klo seseorang dalam keadaan tidak sadar. Salah satu kondisi yang memenuhi hal tersebut adalah.. tidur. Bingung kan? Mana yang bener mana yang salah neh? :)

Klo saya seh ambil prinsip santay aja. Maklum orang awam seh. Pokoke tergantung niat ajahhh. Klo tidur diniatkan untuk ibadah, biar gak sakit, biar ibadah na makin ter-manage dengan baik, jadilah tidur itu ibadah. Tapi klo tidur niatnya biar puasa gak batal alias tidur biar pas bangunnya tinggal buka puasa, nah yang kayak gitu mah saya kembalikan ke yang bersangkutan deh.. no comment ajahhh.

Jadi gtu aja ya. Gimana caranya supaya tau niat seseorang baik atu jelek? Gampangnya.. belah aja dada orang itu, trus diliat di jantungnya apakah ada tulisan baik atau buruk? Klo gak yakin bakal muncul tulisannya, jangan pernah tuh ngebelah dada orang :)