Archive for the ‘Harianku’ Category

Mendidik Dalam Semenit

Saturday, August 18th, 2012

Bila seseorang dididik materialistis, selama puluhan tahun.. Kemudian ada yang berharap agar orang tersebut bisa diubah dalam “semenit”, supaya jadi orang yang menghargai moral.. Kira-kira bisa gak?

Saya yakin bisa-bisa aja seh :) Cuma butuh sesuatu yang benar2.. mengguncangkan jiwa orang itu.. agar ia pada akhirnya menghargai apa yang disebut dengan kata.. “M-O-R-A-L”.. Mau tau misalnya apa? Misalnya, mati siri kali yak.. trus dikasi liat siksa kubur tuh kayak apa.. trus dihidupin lagi. Coba deh kalo bisa. Jangan tanya saya gimana caranya. Saya sendiri juga gak tau. Apalagi klo disuruh merubah perangai orang dalam semenit. Emangnya hipnotis apahhh???

Apa Makanan Favorit Saya?

Tuesday, August 14th, 2012

Pernah saya ditanya mengenai makanan favorit saya? Kepikiran tuh makanan yang enak-enak. [Cuman saya nulis artikel ini bukan karena mikirin buka puasa yah. Cuma mencoba merenungi sebuah pertanyaan dari sesuatu yang mendasar. Apa makanan favorit saya]. Cuma kalo pertanyaannya diubah sedikit jadi.. apa makanan yang ingin saya makan tatkala menjelang ajal saya? Ternyata jawabannya berbeda banget dengan bayangan saya. Saya cuma ingin makan nasi yang renyah barang sejumput plus tahu yang lembut. Dah itu aja. Bingung kan?

Saya pernah menonton sebuah film fiksi tentang pertandingan antar chef. Chef boleh dibilang adalah gelar untuk seorang pakar di bidang masak-memasak. Banyak ujian yang dilalui oleh sang chef ini untuk meraih gelar master di bidangnya. Sampai akhirnya tibalah pertandingan yang paling menentukan. Pertandingan final menentukan sang juara. Tiba-tiba ia seperti kebingungan, mengenai apa yang ingin ia olah untuk disuguhkan dalam pertandingan yang sangat menentukan tersebut. Lama ia berdiri termenung sambil memejamkan mata mengenai apa yang ingin ia masak. Sedangkan lawannya telah hampir selesai dalam menyelesaikan masakannya.

Akhirnya sang chef sampai pada pertanyaannya yang paling mendasar.. apa makanan yang membuat semua rakyat saya bahagia memakannya? Apa makanan yang menjadi simbol kebahagiaan rakyat saya? Jawabannya ternyata adalah sup dari olahan daun sawi. Akhirnya dengan keyakinan yang sangat besar untuk memenangkan pertandingan tersebut, ia mengambil bahan-bahan untuk membuat olahan sup dari daun sawi tersebut. Sepertinya sederhana.. tapi sesungguhnya tidaklah sesederhana dengan apa yang dilihat kasat mata.

Pada saat penilaian, semua juri yang memakan daun sawi dari sup olahan sang chef seperti terkejut. Mungkin rasanya enak atau.. lebih kepada mengingatkan mereka akan sesuatu yang sangat dalam di bathin mereka. Terlebih tatkala meminum kuah sup tersebut. Semua juri seperti berubah posisi seperti bersemedi, diam seribu bahasa dengan mata terpejam. Lamaaaaaa sekali. Tentulah pemirsa tau siapa pemenang dari kisah ini bukan?

Kadang saya mencoba menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan saya dengan jawaban yang sederhana namun mendasar. Apa makanan favorit saya? Mungkin jawabannya ada pada gambar berikut ini kali ya :)

mie-instan

Yang jelas makanan ini pernah membuat saya survive tatkala negara ini terguncang krisis moneter. Suatu kondisi yang pernah membuat saya hanya makan sekali sehari saja, itu pun bukan dengan lauk yang boleh dibilang.. “lauk sangat biasa”. Dan saya yakin banyak orang yang pernah merasa tertolong oleh makanan ini. Sampai-sampai saya pernah bergumam pada diri saya.. harusnya pencipta mie instan ini diberikan hadiah nobel kali ya. Seperti Muhammad Yunus yang pernah menciptakan makanan chicken nugget agar rakyatnya di Pakistan bisa survive dengan gizi yang lebih baik, sehingga para balitanya tidak terancam memiliki IQ yang jongkok.

Bagaimana pemirsa? Apa Anda setuju? :)

Hanya Mencoba Menjawab Pertanyaan

Tuesday, August 14th, 2012

Awal-awal Ramadhan saya sowan ke Jogya. Untuk bertemu Bu De dan Pak De dan keluarga yang ada di Jogya. Selama di Jogya.. biasanya tuh Om sama Tante saya suka seperti mengkritisi apa yang saya lakukan. Maklumlah.. namanya juga Om dan Tante. Apalagi Bu De. Yang namanya Bu De kalo uda cerita, saya seperti harus mengangguk-angguk kepala, bisa dari pagi sampe sore nemenin dia ngobrol kali ya :)

Beberapa pertanyaan kurang lebihnya saya cuplik beserta jawabannya. Namun gak sama persis seh dari “cara bertanya” dan “cara menjawabnya”. Cuma inti pertanyaan dan jawabannya adalah kurang lebih sama.

Q: Neh minum asem kunyit biar badan kamu gak bau!
A: Saya setiap hari uda pake deodorant plus minyak wangi. Insya Alloh badan saya gak bau-bau banget

Q: Kamu olahraga biar gak gemuk!
A: Klo lagi gak puasa, biasanya saya 3 kali seminggu ke gym untuk fitness

Q: Lari sore gitu. Jangan sekedar fitness!
A: Klo lagi fitness dan Om liat saya, saya tuh boleh dibilang lari bisa berkilo-kilo

Q: Makannya dikurangi!
A: Saya baru-baru ini menjalankan program diet. Pagi sama sore hanya makan lauk tanpa nasi

Q: Klo bawa handuk yang besar donk! Abis mandi jangan pake handuk sekecil itu!
A: Ini handuk cuma karena saya sebagai musafir maka saya bawa yang ini. Hanya untuk kepraktisan. Bukan biasanya saya abis mandi hanya handukan dengan handuk sekecil ini

Kadang saya suka mikir.. sebenernya pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukanlah pertanyaan yang mesti saya jawab. Meski saya hanya mencoba menjawab. Karena saya tau apa yang saya harus lakukan. Kayak-kayaknya seh.. Om saya tuh agak-agak jengkel kenapa saya gak kawin-kawin. Jadi nyuruh saya dandan sebaik mungkin agar cepet dapet jodoh. Cuma klo Alloh SWT belum mengijinkan.. saya mo bilang apa coba?

Pemirsa.. saya pernah percaya seratus persen kepada sepupu saya untuk dinikahkan kepada seorang gadis yang.. tampangnya saya gak pernah tau sama sekali. Pernah sekali-sekalinya dalam seumur hidup saya, saya melakukan hal tersebut. Karena ya itu tadi.. saya percaya kebaikan hati sepupu saya tersebut. Lalu apa yang terjadi? Saya ditolak tuh.

Klo pemirsa jengkel pula sama saya karena saya gak kawin-kawin.. dan ingin memasangkan gelar laki-laki “kurang baik” kepada saya.. baca dulu dua paragraf sebelum ini. Biar.. JELASSSSSS!!! :) [No Hard Feeling Mode]

NB: Sebenernya gak perlu saya jawab kan pertanyaan tersebut? :)

Merugikan Diri Sendiri

Monday, August 6th, 2012

Suatu hari ada mahasiswa perwalian saya yang berencana mengambil COOP. Saya bertanya mengapa dirinya tidak mengambil KP? Lalu si mahasiswa menjawab bahwa COOP adalah gantinya KP. Saya bertanya balik, benarkah demikian? Si mahasiswa mengiyakan dengan sangat yakin. Lalu saya mengijinkan pengambilan SKS tsb. Namun ia harus bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan. Yang penting bagi saya adalah.. saya sudah mengingatkan.

Kira-kira setahun kemudian, si mahasiswa datang lagi kepada saya sambil meminta tolong mengenai kekurangan SKS-nya. Karena ternyata, COOP tidak diakui SKS-nya. Ya saya hanya menjawab, kalo kamu kekurangan SKS, ya aturannya adalah harus mengambil MK yang lain untuk menutupi SKS yang kurang. Misalnya mengambil MK pilihan.

Sewaktu sidang akademik, ada dosen bercerita tentang.. betapa dirugikannya si mahasiswa akibat kekurangan SKS-nya. Saya tau dosen ini bercerita tentang apa. Dan saya tau sekali klo si dosen ini tidak tau duduk perkaranya.

Dari cerita di atas, ada satu hal yang saya sesalkan. Si mahasiswa tidak bercerita dengan jujur tentang kronologis sebenarnya. Bahwa dirinya turut andil dalam “merugikan dirinya sendiri”. Saya tau siapa orangnya. Namun saya pesimis sifatnya berubah. Karena DARI DULU memang kelakuannya seperti ini. Bercerita hanya sebagian, menyembunyikan sebagian yang lain. Yang pada akhirnya menimbulkan fitnah di mana-mana.

Mungkin orang seperti ini berpikir bahwa ia telah menang dengan merugikan orang lain dengan kisah-kisah palsunya. Namun percayalah pemirsa. Orang ini.. sesungguhnya.. telah merugikan dirinya sendiri!

NB: Mencontoh orang yang bercita-cita jadi politikus kali ya

Wisuda, Idul Fitri, Ulang Tahun.. Suatu Event Ceremonial.. atau Event Transformasi Diri?

Saturday, July 28th, 2012

Para blogger yang membaca blog saya mungkin sudah tau mengenai suatu peristiwa, di mana saya pernah lupa pada ulang tahun kakak saya, yang lalu hal itu membuat ibu saya kejer sampe nangis segala. Bagi sebagian orang.. bahkan sebagian besar orang.. hal itu merupakan event yang sangat penting. Suatu yang bisa jadi luput dari sensitivitas diri saya. Karena saya sendiri suka lupa pada ulang tahun saya sendiri. Btw, saya berbahagia sekali.. seseorang yang sudah saya anggap seperti sahabat saya.. akan melakukan wisudanya pada hari ini. Namun, saya ingin mengajak Anda pemirsa, untuk merenungi satu hal bersama-sama. Pemirsa.. manakah yang lebih penting bagi Anda.. sebuah event yang sekedar ceremonial.. atau event untuk merayakan sebuah transformasi diri? Sekedar bercerita tentang kebiasaan para leluhur kita pada masa lalu. Mereka melakukan acara lebaran ketupat, adalah setelah selesai melaksanakan puasa sunnah yang 6 hari pada bulan Syawal. Jadi acara lebaran ketupatnya sedikit berbeda dengan kebanyakan kita yang biasanya kita lakukan pada tanggal 1 Syawal. Karena bisa jadi.. kita lebih mementingkan suatu event sebagai suatu ceremonial belaka, meski bisa jadi hal itu tanpa makna. Sedangkan para leluhur kita lebih mementingkan arti dari suatu transformasi diri ketimbang event itu sendiri. Sehingga mereka menganggap hal itu memang sangat pantas.. untuk dirayakan..

Saya minta maaf bila apa yang saya katakan salah. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa acara wisuda, ulang tahun atau pun perayaan Idul Fitri bukan menjadi suatu event yang tidak penting sama sekali. Namun di sini saya ingin mengatakan bahwa.. sebuah transformasi diri ke arah yang lebih baik.. adalah jauh lebih penting ketimbang ceremonialnya sendiri.

Yang Terpenting Bagi Saya Dalam Hidup Ini

Monday, July 16th, 2012

Sebenernya ada beberapa hal dari hidup ini yang saya anggap penting. Pertama, saya berusaha untuk mendapatkan rejeki yang HALAL. Kedua, jangan pernah ada dalam hati kecil saya NIAT untuk dengan sengaja menyusahkan orang lain atau menjahati orang lain. Ketiga, sebisa mungkin saya bisa mencapai kemandirian yang sejati. Sehingga saya MERDEKA untuk menentukan apa yang saya ingin lakukan.

Antara Fakta dan Data

Monday, July 16th, 2012

Saya pernah bilang kepada salah seorang teman saya (di Jakarta), bahwa bila semua orang bilang si A bagus, namun saya belum melihat atau belum mendengar sendiri secara langsung, mending pernyataan tentang si A ini saya pending dulu. Daripada saya salah bicara. Karena bila sebuah pernyataan dikeluarkan.. sebaiknya antara data dan fakta benar adanya.

Saya insya Alloh menulis ini dengan kesabaran.. karena hampir sudah tidak sabar. Sudah berulang kali soalnya terjadi seperti ini. Antara fakta dan data bertolak belakang.

Tulisan ini sebenernya saya tulis beberapa bulan yang lalu. Cuma baru saya upload sekarang. Menunggu hati saya agak2 tenang. Isi tulisannya adalah sbb:

“Setau saya.. semester lalu boleh dibilang pencapaian nilai untuk pengajaran.. untuk kelas paralel.. nilai UTS pengajaran saya mencapai predikat tertinggi ketimbang dosen-dosen lain untuk kelas paralel (sayangnya UAS-nya tidak juga tertinggi pencapaiannya). Dari data yang juga saya dapatkan, karena ada yang melaporkan.. komplain terhadap cara saya mengajar dari suatu mata kuliah yang saya ajar.. kurang dari 10 persen. Untuk penelitian.. saya termasuk dosen yang banyak (moga-moga dapet predikat paling banyak di semester lalu) menghasilkan tulisan penelitian. Lalu.. kalo ada pihak yang membuat pernyataan.. SELAMA 3 TAHUN BERTURUT-TURUT saya kerja gak beres.. pihak ini menggunakan data yang mana???”

NB: Teruslah berpresepsi :) [sarkasme mode]

Just Do It!

Saturday, June 9th, 2012

Baru kali ini saya merasa tidak berpikir panjang untuk suatu hal. Bahkan benar2 enggan untuk berpikir panjang. Malah gak mau memikirkannya sama sekali. Hanya mengikuti kata hati. JUST DO IT!

NB: Jadi inget film To Liong To saat Tio Bu Ki diajarin Tai Chi sama Tio Sam Hong. Bener2 gak make mikir..

Tenang Bro!

Wednesday, May 30th, 2012

Saya yakin kalau wawasan saya benar2 sangat luas.. menghadapi permasalahan seruwet apa pun, pastinya akan saya hadapi dengan tenang. Biasanya setertekan apa pun, pikiran saya masih bisa fokus dengan baik. Sehingga walau segala sesuatunya diselesaikan dengan mode ngebut, hasilnya bakal lumayan dan tidak buruk-buruk amat.

Cuma untuk yang satu ini, saya agak2 kehilangan fokus. Maksudnya.. untuk fokus benar2 butuh perjuangan berat euy. Rasa sesak di dadanya gak ilang2. Yang saya bisa lakukan untuk menenangkan diri sambil bekerja.. ya.. bergumam seperti inilah kurang lebih. “Tenang..! Tenang..! Tenang..!”.

Saya yakin ini adalah masalah ringan. Cuma sayangnya saya melihatnya sebagai permasalahan yang rumit. Sebenarnya itu merupakan suatu kesalahan yang justru menekan diri sendiri. Soale saya seolah-olah tidak melihat celah sedikit pun tentang bagaimana seharusnya saya berbuat. Sebenarnya selalu ada celah di tempat yang seketat apa pun. Bahkan firewall yang paling kuat sekalipun akan selalu ada yang namanya celah. Cuma ya itu. Seakan saya tidak melihatnya. Sebenernya masih ada celah. DO’A!!! Bukankah itu celah? Yahhh kadang saya berpikir, berdo’a aja tanpa berusaha mah.. sama aja bo’ong deh. Tapi ya itu tadi. Satu2 nya celah yang saya lihat ya.. cuma itu. Mo yang mana lagi? Maklum wawasan saya tidaklah luas. Saya pake sajalah celah yang ada. Karena adanya ya itu. Mo apalagi???

Warna-Warni Yang Hanya Sekejap

Tuesday, May 29th, 2012

Beberapa waktu lalu.. belum lama rasanya.. saya sempat merasa dunia penuh dengan bunga yang bermekaran. Penuh warna-warni yang indah.

Namun sayangnya.. hanya sekejap.
Dan kembali lagi..

dari awal..