Archive for the ‘Ilmu-Hikmah-Cahaya’ Category

Pemanasan Global Pengaruhi Gempa Bumi

Thursday, October 29th, 2009

Semula saya berharap.. bahkan sangat berharap sekali.. dugaan saya tentang.. pemanasan global yang dapat mempengaruhi gempa bumi.. adalah salah besar. Namun ternyata pemirsa.. (hiks.. sedih mode), lagi2 hipotesa saya benar adanya (pingin nangis mode). Kadang saya bicara pada orang2 yang saya percayai mengenai “impossible mission force”. Namun kali ini benar2 butuh banyak orang untuk tergabung sebagai “DEFENDER OF THE EARTH”. Untuk lebih jelasnya silakan simak artikel yang ada di sini.

Saya TIDAK SUKA Cara-Cara Yang Dilakukan Webhosting Apenta

Wednesday, August 12th, 2009

Pertama, Apenta telah melakukan duplikat konten. Kedua, Apenta telah menggunakan Random Keyword Generator. Ketiga, saya pernah mengalami transaksi yang bermasalah dengan Apenta. Hal ini sudah terjadi lama dan saya biarkan saja sambil saya bersihkan sendiri “Junk Link” atau “Link Sampah” yang dibuat oleh Apenta, yang menyebabkan meta keyword saya menjadi lemah. Juga, saya pernah melaporkan apa yang diperbuat Apenta kepada Google Automatic URL Removal System. Tadinya saya pikir Apenta bakal sadar atas tindakannya yang merugikan orang lain. Namun ternyata.. diulanginya lagi.. berulang-kali. Sampai akhirnya saya sekarang kesal dan saya tulis hal ini di blog saya. Saya tidak bilang bahwa saya tidak merekomendasikan Apenta kepada pemirsa. Cuma saya sarankan, agar berhati-hati terhadap webhosting ini demi keberlangsungan bisnis pemirsa sendiri. Silakan cek di Google untuk meta keyword dodi ws atau dodiws. Bukti yang saya pernah sampaikan ke Google Automatic URL Removal System bisa didonlod di sini. Bukti berbicara!

Tentang Outbond

Tuesday, August 4th, 2009

Pernah gak nemuin kasus seperti ini. Suatu tim terdiri dari orang yang tergolong agresif alias extrovet.. sedangkan lainnya.. pendiem alias introvet. Ato yang lainnya lagi.. pernah nemuin gak suatu keluarga yang istrinya udah cerewet, keras kepala, gak mau ngalah.. sedangkan yang jadi suaminya memiliki sifat yang merupakan kebalikannya. Sebenernya kalo dari para anggota dalam komunitas tersebut tidak menganggap ada masalah dari bentuk hubungan seperti itu.. bahkan hasilnya malahan menghasilkan tingkat produktifitas yang tinggi.. maka itu berarti telah terjadi “kecocokan” di antara para anggota tim tersebut. Lebih jauh lagi, masing2 karakter yang berada di dalam tim tersebut diharapkan tidak mengubah karakter yang sudah ada, sebab.. “mapping” na sudah ter-plot dengan komposisi yang dapat dikatakan.. “pas”. Nah.. untuk menemukan “kecocokan” tersebut, tidak semua orang dapat melakukannya dengan “cepat”. Akibatnya perlu banyak pengorbanan baik dari sisi materi maupun waktu untuk menemukan “kecocokan” yang diharapkan. Tentunya akan baik sekali bila kita bisa menemukan “kecocokan” tersebut dengan efektif dan efesien. Salah satu tool ato “perangkat” yang bisa kita gunakan adalah outbound. Dengan outbound ini diharapkan.. selama proses berlangsung.. dapat men-”simulasi”-kan masing2 karakter dari para anggotanya dengan berbagai bentuk model permainan yang mana bentuk2 tersebut sesungguhnya adalah representasi bentuk2 “simulasi kerjasama suatu tim”. Entah mengapa saya sering merasa terkadang orang salah kaprah mengenai bagaimana melaksanakan outbound ini walau.. tidak sepenuhnya salah. Kebanyakan orang melakukannya dalam rangka senang2 ato sebagai hiburan saja. It is okay bila tujuannya senang2 namun kekuatiran saya pada apa yang akan terjadi, pada akhirnya tidak menghasilkan hasil “mapping” yang optimal (lebih jauh lagi buang2 duit dan tenaga). Sebab ke-khas-an karakter yang diharapkan muncul selama proses simulasi kerjasama berlangsung, malahan tidak muncul sama sekali lantaran semua peserta melakukan proses simulasi kerjasama dengan tidak serius. Hasilnya.. pada akhirnya setelah kembali ke tempat kerja.. kembali muncul permasalahan2 yang.. mereka sendiri menganggap ini masalah.. tapi gak tau sumbernya dari mana ya? Ya itu tadi seperti yang saya katakan.. lantaran “mapping” nya.. komposisinya masih belum pas. Sebab karakter yang seharusnya muncul selama proses simulasi kerjasama.. namun tidak muncul. Akibat dari tidak seriusnya para peserta outbound melaksanakan simulasi kerjasama tersebut, selama outbound berlangsung. Beberapa hal agar outbound yang dilaksanakan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Diantaranya adalah..

Interview. Ini perlu dilakukan menurut saya untuk mendapatkan gambaran profil dari peserta outbound. Jangan sampe nantinya permainan super keras diterapkan kepada orang yang punya penyakit tertentu misalnya. Wah.. berabe bisa2. Selain itu juga agar instruktur tidak terkaget-kaget di lapangan manakala karakter asli dari peserta muncul, sedangkan karakter itu belum tentu disenangi oleh sang instruktur misalnya. Jadi udah ada semacam defend dulu agar gak terkaget-kaget (termasuk solusi bagaimana menanganinya).

Variasi permainan. Ini juga penting dan mesti disesuaikan dengan kondisi dan budget. (Bukan berarti simulasi kerjasama ini tidak bisa dimainkan di dalam ruangan loh pemirsa). Semakin pandai seorang instruktur merancang suatu permainan, yang dapat mensimulasikan kerjasama antar anggota tim, semakin besar kemungkinan keberhasilan dari outbound tersebut.

Keseriusan dan kesiapan peserta. Bila segala-galanya sudah bagus namun pesertanya tidak serius atau tidak siap, yang ada bisa2 hanya akan buang2 waktu dan tenaga saja.

Komunikasi. Saat outbound berlangsung, harapannya karakter yang biasa digunakan para peserta selama di tempat kerja, karakter itulah yang digunakan. Nantinya bisa jadi akan timbul konflik dan bisa jadi masalah dalam komunikasi. Nah.. ini akan menarik bila masih bisa dilakukan kompromi dari hasil komunikasi yang berlangsung.

Btw, bila dari hasil kompromi yang terjadi tidak mendapatkan hasil yang benar2 produktif, maka bisa jadi ada (satu atau lebih) karakter yang boleh dibilang kurang cocok untuk ditempatkan dalam tim. Untuk itulah perlu dilakukan perubahan karakter. Misal, yang tadinya pemarah harus dikurangi marah nya. Yang pendiam harus diajak atau diberi peluang untuk bisa mengungkapkan apa yang dianggapnya baik untuk tim. Dan bila terjadi perubahan berupa peningkatan produktifitas tim tersebut dari yang semula tidak produktif atau kurang produktif, maka karakter baru itulah yang ”stelan”-nya perlu digunakan dalam lingkungan kerja sehari-hari. Karena ”mapping” na boleh dikatakan udah ”pas”. Namun bila dianggap ada pemarah dan ada pendiam tapi tetap dianggap produktif. Malah justru sarannya adalah.. peliharalah sifat marah dari pemarah dan sifat pendiam dari si pendiam karena “mapping” nya udah pas. Aneh kan? Tapi ajaib, begitulah sarannya.

Gimana bila ternyata tidak berhasil pula dilakukan kompromi dari usaha untuk merubah karakter yang ada di dalam tim (yang mengakibatkan kurangnya produktifitas dalam tim)? Nah ini yang mesti dilakukan menurut saya. Personil yang memiliki karakter yang kurang cocok dalam tim tersebut lantaran tidak ditemukannya ”mapping” yang pas, mungkin bisa ditempatkan di tim yang lain yang lebih cocok untuknya (selain kemudian bisa di-training pelan2 agar karakternya bisa berubah ke arah yang diharapkan. Btw perusahaan sekelas General Electric melakukan hal itu kepada para karyawannya). Menurut saya seh seperti itu. Tapi terlepas dari suka atau tidak suka dari keputusan yang diambil, harapannya ke depan akan memberi keseimbangan dalam tim di kemudian harinya. Mungkin gak ada yang salah dan gak ada yang bener dari hasil keputusan tersebut. Seperti tidak ada yang salah tatkala ada istri cerewet dengan suami pendiam. Intinya bagaimana menemukan ”mapping” yang pas untuk tim. Cara yang berat dan mahal memang. Namun di luar negeri ini dianggap efektif ketimbang sekedar melakukan assessment. Assessment memang cara yang murah menurut saya. Namun boleh dibilang tidak.. atau setidak-tidaknya.. kurang adil. Coba pikir baik2. Istri cerewet dan suami pendiam tapi produktif. Istri oke dan suami oke namun gak produktif. Apa yang salah dari sebuah assessment? Namun assessment ini boleh dibilang masih bisa dipake, bahkan kepake banget daripada.. ribet! Orang di negeri impian kan sukanya yang gak ribet2. Sukanya yang murah2. Kalo perlu yang gratis2. Tul kan pemirsa?

Pokoknya.. Blablabla..

Wednesday, July 29th, 2009

Bila saya katakan “Pokoknya bila ada SK (Surat Keputusan), tidak selalu berarti ada bayarannya (akibat adanya “kerja” sesuai penunjukkan SK tersebut)”. Klo saya membaca hal itu dalam satu kalimat.. (yang mungkin bagi sebagian orang bisa jadi “kepanjangan” kali ya..) saya bisa mengerti bahwa.. walau pun seseorang yang bekerja dan mendapatkan SK atas pekerjaannya tersebut.. belum tentu juga bakalan dibayar lohhh.. Yang saya bingung tatkala ada orang yang mempertanyakan perkataan saya yang menggunakan kata-kata “Pokoknya”. Jadi kalimat saya yang panjang satu kalimat itu dipenggal di awalan saja. Sebenernya agak2 jengkel dengan hal itu tapi.. mungkin kebiasaan orang dalam “berbahasa” alias berkomunikasi beda2 kali ya. Ada yang menafsirkan atau mempersepsikan per satu kata. Ada yang menafsirkan atau mempersepsikan apa adanya sesuai kalimat yang dikeluarkan.

Beruntung Islam Pertama Kali Turun di Mekkah

Friday, June 26th, 2009

Kalo Islam pertama kali turun di negeri impian, bener2 puyeng kali ya. A bisa jadi B, B bisa jadi C. Gak tau mana yang A, mana yang B, mana yang C. Gak jelas! Apa yang saya tulis pada artikel ini memang sedikit. Tapi sepertinya benar2 menggambarkan kompleksitas permasalahan yang sulit sekali dipecahkan. Yang paling kasian kayaknya seh.. adalah peradaban yang tersisa di akhir jaman. Kayaknya bener2 akan kasian sekali.

Judul Artikel dari 1600 Eksemplar E-Journal Minta Di-print

Wednesday, June 17th, 2009

Entah salah denger ato salah berkomunikasi (moga2 bukan karena emang begitu perintahnya). Kemarin saya merasa ada permintaan terkait dengan perbaikan kerjaan saya, dari salah seorang rekan saya, untuk keperluan akreditasi D3. Rekan saya meminta saya agar sebanyak 1600-an eksemplar e-journal, agar judul artikelnya di-list kemudian di-print buat dilampirkan di lampiran pada laporan akreditasi. Saya sempet bengong atas permintaan tersebut. Sampe2 saya bertanya “Ini beneran harus di-print?”. Pemirsa yang budiman.. kira2 saya wajar gak bertanya demikian dan tidak langsung begitu saja mengerjakannya? Ato apa bener saya orang yang sangat sulit diajak kerjasama? (Ato pertanyaan yang terakhir cuma go-sip semata?). Btw, sekedar info, tim saya tuh terdiri dari 4 orang. Cuma lantaran kesibukan kali ya, yang 2 orang gak bisa meluangkan waktu dan jadilah tim saya cuma tinggal dua orang yang mengerjakan (salah satunya adalah saya sendiri). Ini “terpaksa” saya jelaskan di artikel ini (meski tempoe doeloe-nya gak berniat begitu) lantaran sepertinya ada yang menanyakan tentang tim saya. Moga2 cukup jelasss sekaleee. (Yang nanya pake jilbab pula kok pemirsa. Hehehe.. just info).

Doa Setelah Tahajud

Saturday, June 13th, 2009

Pas saya main2 ke blog na Pak Heru Suhartanto, eh saya penasaran dengan link do’a yang ada di blog na Pak Heru. Pas saya baca.. weleh.. benar2 sebuah do’a yang bagus sekali. Membacanya saja, meski tidak saya lafalkan, rasanya ingin menitikkan air mata. Hatikyu langsung luluh men! Kayak orang lagi jatuh cinta gicu ganti rogerrr. Baru tau klo ada do’a yang kayak begini. Wess.. klo mo baca do’a na, silakan baca aja di sini

Si Fulan Adalah Orang Susah

Wednesday, June 10th, 2009

Banyak hal yang menarik tatkala pemirsa berkunjung ke negeri impian. Salah satunya adalah tatkala mencoba mendefinisikan kata “orang susah”, terutama untuk wilayah perkotaan. Ada sesuatu yang menarik di sini. Kenapa menarik? Karena hal ini terjadi, setidaknya pada diri saya, tatkala ada orang yang mengatakan.. bahwa si Fulan adalah “orang susah”. Maka ia harus dibantu. Saya sendiri karena pikirannya adalah berusaha tidak berprasangka buruk, ya saya berusaha membantu sebisanya. Namun semakin lama saya berinteraksi dengan orang yang saya bantu, ada keanehan pemirsa. Apa yang aneh itu? Anehnya adalah.. untuk hal2 yang sifatnya tidak mendasar seperti kebutuhan dasar, misalnya untuk seneng2, beli asesoris dan hal2 yang bukan utama, ne si Fulan kenceng banget tenaganya. Hal2 yang sifatnya ketebelece gtu malah saya boleh dibilang gak memilikinya sama sekali dan juga juaaarang sekali melakukannya. Saya sendiri lebih mengutamakan hal2 yang sifatnya mendasar seperti rumah misalnya. Itu pun masih blon lunas. Tapi ne si Fulan, gilirannya harus memenuhi hal2 yang sifatnya mendasar, kayak gak punya tenaga. Yang ada kelakuannya kayak orang susah dan.. akhirnya minta bantuan orang lain. Menurut pemirsa aneh gak? Ato jangan2 ini adalah hal yang paling mnarik untuk terus diperhatikan di negeri impian terutama di kota2 besar. Bisa jadi obyek pariwisata paling favorit mungkin. Tul kan pemirsa?

Tentang “Kemitraan”

Friday, June 5th, 2009

Menarik bila mencoba mengulas pidato Presiden Barrack Hussein Obama pada komunitas Islam di Universitas Kairo, Mesir. Di situ Presiden Obama menginginkan bentuk “hubungan baru” dengan komunitas Islam dalam tatanan “kemitraan”. Bicara mengenai kata “kemitraan” sebenarnya mengandung makna “kesejajaran” terlepas dalam hubungan tersebut terdapat entitas yang lebih kuat dibanding yang lain. Dari kesejajaran tersebut, diharapkan apa yang menjadi keinginan dan harapan satu sama lain dapat secara terbuka dipaparkan dan juga secara bersama-sama diwujudkan tanpa perlu merugikan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Hal ini agak sulit terwujud bilamana satu pihak merasa diperlakukan secara tidak adil lantaran tidak memiliki hak yang mana pihak yang lain memiliki hak tersebut dan dianggap pihak lain sebagai hak yang berlebihan. Contoh kasus.. hak veto di PBB. Tidak semua negara memilikinya. Agak mending bilamana hak veto meski tidak dimiliki semua negara namun.. yang memilikinya dapat menggunakannya secara.. bertanggungjawab, adil dan transparan. Lain halnya bila digunakan semata-mata hanya lantaran “emosi” dan “kepentingan pribadi” semata. Sehingga tatkala berbicara kemitraan, sebenarnya di “lapisan bawah”, saya sendiri juga agak bingung gimana cara mewujudkannya walau saya sendiri juga menginginkannya. Misal yang lain, bermitra dengan Israel, itu saya boleh dibilang bingung, lantaran Israel sangat sering melanggar janji dan melanggar konvensi hukum internasional. Lebih jauh lagi tidak mendapat hukuman apa pun dari PBB dengan apa yang telah mereka langgar. Sekarang AS menginginkan komunitas Islam bermitra dengan Israel, apa tidak membuat bingung komunitas Islam atas kata “kemitraan” tersebut? Namun terlepas dari berbingung-bingung ria, saya sebagai bagian dari komunitas Islam berterima kasih atas adanya pidato tersebut. Setidaknya ada visi yang menginginkan agar dunia ini menjadi lebih baik. Satu hal yang saya setuju, “young people” memiliki tanggungjawab dan peran yang besar dalam mewujudkan dunia yang lebih baik.

NB: My special thanks to Mr. Google that gives me a chance, making a better new world.

Sayap Kupu-Kupu

Saturday, May 9th, 2009

Butterflies don’t know in what color their wings are
But human eyes know how nice it is
Likewise you don’t know how sweet you are
But we know how special you are

(Dari salah seorang asistenku tatkala saya bersedih)