Archive for the ‘Ilmu-Hikmah-Cahaya’ Category

Surat dengan Kop Surat Perusahaan

Thursday, April 30th, 2009

Buat sebagian orang ini mungkin sudah menjadi “common knowledge” kali ya. Kebetulan saya sendiri juga sudah mengetahuinya. Tapi berhubung mungkin “gak semua” orang tau, untuk menghindari hal-hal yang.. mungkin bener.. cuma “secara administratif” bisa jadi salah. Juga agar.. orang yang tadinya gak tau, menjadi tau gituh. Saya masukan ini ke dalam kategori: Ilmu - Hikmah - Cahaya.

Yang namanya surat keluar dengan kop surat berlogo perusahaan, maka “kertas dengan kop surat” tersebut.. ya harus minta ke perusahaan. Gak boleh.. “bikin sendiri” alias “duplikatin sendiri”. Ya wess.. gitu aja deh..

Moga-moga bermanfaat..

NB: Tambahan, bila pemirsa hendak meminta pendapat pada atasan misalnya, dan kira-kira menurut pemirsa pendapat tersebut tidak hanya sekedar ditanyakan, mungkin perlu juga untuk dikonsultasikan atau didiskusikan misalnya, ada baiknya bertanyanya jangan “sekedar” mengirim SMS (Short Message Service). Moga2 bermanfaat.

Gelas Harus Diisi Apa?

Friday, April 24th, 2009

Ini sebenarnya pertanyaan yang unik, yang muncul tatkala saya mengikuti acara piknik suatu organisasi impian. Ada kuisener yang pertanyaannya bermacam-macam, termasuk pertanyaan seputar jati diri. Dan ketika masuk kepada opsi pertanyaan yang berbunyi kurang lebihnya ”Gelas harus diisi apa?” banyak dari rekan-rekan saya saat itu agak2 jadi kurang yakin dengan pertanyaan tersebut. Ini beneran pertanyaan ato cuma becanda. Cuma klo ada kuisenernya.. harusnya pertanyaan serius donk. Mereka pun termasuk saya akhirnya berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang bilang harus diisi tanah. Ada yang bilang harus diisi air, dan sebagainya. Sampai pada akhirnya.. ada dua orang rekan bertanya kepada saya, kira2 saya mengisi apa? Saya pun terdiam. Diamnya lumayan lama sampai.. pada akhirnya saya memilih untuk tidak menjawabnya. Saya membenarkan saja apa pun yang mereka jawab dalam kuisener tersebut. Karena bila mereka meminta saya menjawab, maka jawabannya lebih mirip pernyataan. Adapun pernyataan saya bunyinya kurang lebih begini ”Apapun yang bisa dimasukkan ke dalam gelas, dan gelas itu menjadi berfungsi sebagaimana fungsinya sebagai wadah, maka itulah isinya”. Sebab saya tiba2 saja menjadi pening tatkala berpikir harus menjawab apa kepada kedua orang tersebut, kuatir yang terjadi malahan.. debat kusir berkepanjangan. Mending saya gak usah jawab. Bener ato salah pemirsa? Salah kali ya.. harusnya jawab aja terlepas orang setuju ato tidak. Tapi terkadang, menghindari konfrontasi yang gak perlu selama masih bisa ditoleransikan.. mungkin lebih baik kali ya..

Meninggalkan Atasan

Saturday, April 18th, 2009

Jarang seseorang itu memang berniat “meninggalkan organisasi”. Yang ada biasanya.. mereka berniat.. “meninggalkan atasan”.

Memaknai Kata Sejahtera

Friday, April 17th, 2009

Banyak orang ingin bahagia. Sampe2 salah seorang sahabat Rasulullah sebelum masuk Islam, tatkala ditawari oleh Rasulullah untuk masuk Islam, maka pertanyaan yang pertama kali muncul adalah.. kurang lebihnya “Apakah saya akan bahagia?” Bahagia di sini maksudnya adalah bahagia dengan menjadikan Islam sebagai dien yang ia yakini sebagai jalan hidupnya. Ketika sahabat tersebut meminta untuk berpikir selama 2 pekan, Rasulullah malah memberinya waktu selama 2 bulan. Hmm.. bahagia ya. Moga2 bila saya mencoba mendefinisikan kata bahagia ini artinya bukan.. “manakala orang lain menderita”. Sebenernya klo saya mencoba membahas bahagia itu sendiri, maka pemaknaan awalnya justru bukan berasal dari kata “bahagia” itu sendiri pemirsa. Tapi pemaknaannya dimulai dari kata “sejahtera”. Lantaran orang sejahtera, ato setidak-tidaknya “merasa” sejahtera, maka ia bahagia. Cuma apa itu sejahtera? Mari kita sama2 baca cerita berikut ini..

Tersebutlah suatu tempat di hutan belantara, hiduplah seekor burung mungil. Hidup bebas dengan segala apa yang ia bisa dapatkan dari hutan itu baik berupa makanan maupun minuman juga tempat tinggal. Sekilas ne burung kecil kasian juga pemirsa. Lantaran gak sedikit predator yang ingin memangsanya. Namun alhamdulillah dengan caranya sendiri, ia bisa mempertahankan diri. Suatu ketika tatkala si burung kecil ini melintas melalui sungai, ada beberapa manusia dengan perahu beserta perbekalan yang dibawanya melintasi hutan belantara tersebut melalui sungai. Sebuah kapal yang mewah tentunya. Si burung kecil melihat saat itu terdapat seekor burung kakak tua yang kakinya di rantai di tempat ia hinggap. Tatkala si manusia sedang tidak ada, entah lagi makan ato istirahat, si burung kecil mendekati si burung kakak tua. Terjadilah obrolan antara si burung kecil dengan si burung kakak tua. “Wahai kakak tua, betapa bahagianya dirimu dengan segala kesejahteraan yang Kau miliki” kata si burung kecil. Kakak tua pun menyahut “Wahai burung kecil, Engkau melihat kesejahteraan dari apa yang bisa Engkau lihat. Namun dirimu tidak mengetahui apakah benar diriku ini bahagia dengan apa2 yang aku peroleh berupa kesejahteraan ini. Diriku malah merasa dirimu adalah burung yang paling bahagia lantaran Engkau bisa bebas terbang ke mana pun Engkau mau” jawab si kakak tua.

Hikmah apa yang bisa Anda petik pemirsa? Dari obrolan antara si burung kecil dan si kakak tua tersebut? Klo Anda hendak memaknai mengenai kesejahteraan itu sendiri, memaknai suatu hal yang sangat mungkin membuat diri Anda bahagia, maka sejahtera sesungguhnya letaknya ada di.. dalam hati.. Pernahkah Anda melihat seorang yang berjuang dengan segala kesusahannya sampai2 bila kita melihatnya maka kita akan melihat betapa ia menderita. Namun orang ini menjawab bahwa ia bahagia dengan keadaannya lantaran.. ia telah memberi dengan apa yang ia bisa beri. Pernah dalam suatu training motivasi.. dikatakan oleh si trainer bahwa.. kebahagiaan sejati justru.. akan Anda peroleh manakala Anda bisa memberi.. dalam arti menjadi mahluk yang bermanfaat bagi mahluk lainnya. Bener gak seh pemirsa? Moga2 aja benar.

Barang Mahal? Ato Barang Bagus?

Saturday, February 7th, 2009

Kisah ini terjadi pada hari Sabtu. Saat itu saya sedang mo ke mesjid dulu sebelum pergi ke Jalan Merdeka, Bandung. Ketemu sama mahasiswa saya yang kebetulan memang ia melambaikan tangan untuk menegur saya. Kayaknya seh anak kerohanian lantaran make celananya agak ngatung seperti kebanyakan ikhwan. Sebenernya saya agak malas seh ngobrol dengan ne anak. Pasalnya pernah beberapa hari yang lalu ia berkata bahwa ia ingin ketemu dengan saya jam 13 untuk assessment seminar TA (Tugas Akhir), tapi pas saya tunggu saat jam itu.. ne anak gak dateng-dateng juga. Ia berjalan bareng saya ke mesjid dan ia bertanya kenapa kok saya ada di kampus, kenapa gak naik sepeda kan biasanya klo Hari Sabtu saya naik sepeda. Saya jawab bahwa hari itu saya mo pergi ke kota mo beli isi pulpen. Lalu mahasiswa ini seakan menerka tentunya pulpen saya adalah pulpen mahal. Mahal? saya bertanya dalam hati mengenai kata.. “mahal” tersebut. Saya katakan saja saat itu bahwa itu bukan pulpen mahal, cuma kebetulan.. mencari isinya kayaknya hanya ada pada tempat-tempat tertentu saja. Saya pun pamit minta diri karena saya mo sholat Dzuhur dulu. Dia pun bilang bahwa ia mo ke lantai dua mesjid. Begitulah lalu kami berpisah. Di artikel ini saya ingin melanjutkan apa yang ada di benak saya mengenai kata.. “mahal” tersebut. Jujur saya katakan.. saya tidak suka “barang”.. mahal. Saya sangat suka yang namanya.. “barang”.. bagus. Bila ada barang bagus dengan harga murah, ketimbang barang bagus dengan harga.. mahal.. tentunya saya akan memilih barang bagus dengan harga.. murah. Bila pun ada barang bagus dengan.. harga.. murah.. Tentunya proses pencariannya bener-bener.. sulit alias seru alias.. menantang! Cuma sayangnya terkadang.. orang rela mengeluarkan duit lebih untuk barang bagus.. asal barang itu mudah ditemukan.. sehingga ia tidak perlu yang namanya.. buang-buang.. “waktu”.. untuk mendapatkannya. Saya termasuk tidak suka terhadap yang namanya.. “masalah”.. tatkala saya sedang bekerja.. dan masalah tersebut kemudian mengganggu proses penyelesaian pekerjaan saya. Dan itulah mengapa saya sangatlah berusaha.. untuk memiliki.. yang namanya barang bagus.. agar terhindar dari berbagai permasalahan.. saat menggunakannya. Dan insya Alloh.. saya bukanlah jenis.. orang.. yang suka pamer.. meski seakan sudah ada orang mengatakan.. seakan saya tuh.. suka pamer. Bener-bener belum berubah juga rupanya ne kelompok. Pantes aja senjata andelannya.. fatwa.. Asal jangan setelah orang disuruh ndukung lalu.. setelah ngerasa gak dibutuhin.. lalu.. diusir. Capek dueh!