Bagusnya Orang Jawa

March 27th, 2010

Saya sangat tidak berharap sekali bilamana saya menjadi orang yang bau2-nya SARA banget. Begitu juga harapan saya terhadap keturunan saya kelak di kemudian hari. Sebab menurut saya hal itu dapat membuat kebenaran menjadi bias. Padahal kebenaran sendiri datangnya bisa dari mana saja. Termasuk dari suku mana pun. Meski begitu saya tidak menampik dalam kehidupan saya, saya mengalami perlakuan yang bau2-nya agak2 mirip SARA tersebut. Gak usah jauh2 deh. Waktu saya kuliah di Depok, ada juga tuh rekan mahasiswa yang bau2-nya seperti membeda-bedakan antara yang Jakarta dan Non-Jakarta. Moga2 saya salah seh. Tapi setidaknya yang saya rasakan adalah demikian. Saya sendiri tidak berharap tatkala saya bekerja di institusi di mana sekarang saya berada, hal2 yang ber-bau2 SARA ini ada. Tapi sewaktu saya selesai mengajar kuliah tambahan hari ini, ada mahasiswa yang ngomong-nya kayak2 bau2 SARA gitu deh. Sekali lagi moga2 saya salah seh. Tapi setidaknya saya yakin benar bahwa “telinga” saya masih peka atas perkataan seseorang.

Klo boleh saya menjelaskan dari mana asal muasal saya. Saya sendiri memiliki ayah yang berasal dari Jawa Timur. Sedangkan ibu saya dari Yogyakarta. Sedangkan saya sendiri.. lahir di Jakarta. Jadi silakan tebak sendiri dari mana saya berasal.

Btw, ada yang saya suka dari sikapnya orang Jawa. Mungkin ini kali ya yang menyebabkan presiden di negeri impian ini selalu berasal dari orang Jawa. Yang pertama, hampir semua orang di negeri impian setuju terhadap hal yang pertama ini. Bahkan tatkala saya mendengar suatu ceramah agama pun, ustad yang berceramah juga setuju akan hal ini. Gambaran sikap orang Jawa tuh seperti huruf “O” yang biasa terdapat pada huruf vokal pada akhir nama orang Jawa. Orang Jawa bila sudah menginginkan sesuatu, selalu bulat tekadnya. “O”-nya penuh dan tidak setengah2.

Yang kedua, mungkin belum tentu semua orang setuju kali ya. Soale ini asalnya dari perasaan saya aja. Yang kedua adalah.. jarang sekali ada orang Jawa tulen.. yang kelakuannya kayak “anjing yang sedang menggonggong”.

Saya minta maaf bila ada yang tersinggung. Btw yang saya bicarakan ini adalah mengenai profil orang Jawa dari.. keseharian yang saya lihat. Tentunya saya masih bisa “melihat” dan juga “mendengar” donk ya. Karena itu adalah anugerah. Semoga maklum.

Personil DLLAJR Tersapu Banjir (Sarkasme Only)

March 27th, 2010

Biasanya saya ke kampus tuh lewat Dayeuhkolot. Nah di sana sering sekali saya melihat para personil DLLAJR nangkring. Namun ketika terjadi banjir di bulan Februari 2010, para personil DLLAJR gak ada di sana. Setidaknya hari ini saya tidak melihat mereka nangkring di tempat biasanya. Mungkin lantaran Dayeuhkolot kebanjiran, jadinya para personil DLLAJR ini “tersapu banjir” kali ya. Cuma yang bikin sedih saya adalah.. mereka terdamparnya tuh di sekitar depan komplek perumahan Griya Prima Asri. Sebenernya saya agak heran kenapa seh Jawa Barat bisa kebanjiran? Bukankah lubang-lubang yang ada di jalan-jalan Jawa Barat sudah demikian banyak? Harusnya air banjirnya langsung nyerep donk ke dalam lubang tersebut. Tul kan pemirsa? Ato mungkin.. para personil DLLAJR ini harus membuat lubang lebih banyak lagi kali ya. Klo perlu jalanan kereta api juga dibuatin lubang. Tujuannya adalah agar Jawa Barat tidak kebanjiran lagi. Saya rasa pemirsa banyak yang setuju neh :)

NB: Ayo personil DLLAJR! SEMANGAT MELUBANGIII!!! [pasang muka serius ala Stephen Chow mode]

Eh, salah gambar! Harusnya yang ini..

Kontes Robot Ala Jawa Barat

March 20th, 2010

Dalam rangka meningkatkan minat di bidang robotik di kalangan pelajar, di negeri impian, tepatnya di suatu daerah bernama Jawa Barat, diadakanlah semacam kontes robot. Tentu saja sponsornya adalah gubernur dan para anggota dewan yang terhormat donk ya. Kan mereka sangat antusias dalam usaha untuk meningkatkan pendidikan. Maka diundanglah para utusan terutama utusan dari perguruan tinggi yang ada fakultas tekniknya. Cuma ada yang menarik dari salah satu requirement yang dipertandingkan. Pasalnya, kontes robot na diadakan hanya klo hari sedang hujan. Terutama klo hujannya sedang sangat lebat sekali. Hmmm.. kira2 apa fungsi robot na ya terkait kontes yang dipertandingkan? Coba dech pemirsa tebak sendiri..

NB: Jadi pawang hujan kali ya.. :)

Kalo Orang Negeri Impian Membeli Mobil

March 19th, 2010

Alkisah, ada orang Jerman dan orang negeri impian yang hendak membeli mobil. Pertama orang Jerman lebih dulu yang bertanya kepada si penjual mobil. “Ada mobil yang mesinnya bagus?” begitu tanya si orang Jerman. Beda lagi klo orang negeri impian yang bertanya. “Ada mobil yang body na bahenol?”.

NB: Klo ada mobil yang bisa goyang patah-patah mungkin bakalan laku keras kali ya di negeri impian. Termasuk mobil yang bisa nyilem ke dalem air, kayak mobil na para superhero :)

Perlu Tabung Oksigen di Kala Banjir

March 9th, 2010

Saat banjir tiba, banyak orang yang memberi sumbangan. Tak ketinggalan gubernur juga donk ya. Gubernur berkata bahwa ia telah memberi bantuan berupa sembako yang banyak dan juga tenda. Namun salah seorang korban banjir ngomong ke gubernur. “Pak mending sediakan buat kami tabung oksigen dech!”. Sang gubernur bingung mendengar pernyataan si korban banjir. Lalu si korban banjir melanjutkan “Soale klo pake tabung oksigen, kami gak perlu mondar-mandir pindah. Bisa tetap melakukan segala aktifitas sambil nyilem di dalam air!”

NB: Mungkin perlu sembako ama Bodrex yang tahan air juga kali ya :) . Wah bisa jadi penelitian baru neh! :) .

Udah Disiapkan Tenda

March 9th, 2010

Sebenernya ini anekdot kali ya. Suatu hari seorang wartawan bertanya kepada gubernur suatu propinsi mengenai rencana penanggulangan banjir pada periode yang akan datang. Gubernur menjawab “Kami sudah menyediakan tenda yang banyak!”. Sang Wartawan bingung, kenapa kok bukan pengerukan kali atau renovasi bendungan dan semacamnya. Gubernur menjawab “Soale menyediakan tenda jauh lebih murah ketimbang harus memperbaiki sistem drainase”.

NB: Geleng2 kepala mode :)

Rumah Tukang Jahit Kebanjiran

February 28th, 2010

Saya punya langganan tukang jahit di Dayeuhkolot. Hasil kerjaannya lumayanlah menurut saya. Mungkin klo fasilitas yang dimilikinya lebih baik, potensinya besar untuk menghasilkan hasil kerjaan yang lebih baik menurut saya. Jarang sekali saya mendapati kendala yang berarti dari hasil kerjaannya. Suatu hari saya datang ke rumahnya untuk memperbaiki ukuran beberapa baju yang baru saja saya beli. Saat itu Si Tukang Jahit, sebutlah Pak Fulan sedang berbenah rumah. Barang2 nya semua dijemur di luar rumah. Saya senyum2 aja melihat Pak Fulan. Melihat saya datang, Pak Fulan yang sedang mengepel lantai rumahnya juga senyum2 melihat saya. “Kena banjir ya Pak?” tanya saya. “Iya, banjirnya segini” sahut Pak Fulan sambil mengarahkan tangannya ke leher. “Padahal tahun kemarin banjirnya cuma segini” lanjut Pak Fulan, yang mana ukurannya sekitar lutut kaki. Ngobrol punya ngobrol, setelah urusan saya selesai, saya pun pamit. Sempat sebelum pamit saya bertanya pada Pak Fulan “Anak2 waktu banjir gak sekolah donk ya?”. Pak Fulan cuma senyum2 aja mengiyakan. “Trus waktu banjir surat2 kayak ijazah anak2 gimana?” tanya saya. Pak Fulan bilang dia belum lagi sempat memeriksa ijazah anak2 nya apakah hilang karena banjir ato tidak. Sebab banjir yang datang, menurut Pak Fulan, datangnya mendadak sekali. Saat ia pergi dari rumah, rumahnya belum terkena banjir. Namun saat ia balik ke rumahnya, ia melihat rumahnya sudah kebanjiran setinggi leher. Saya menyarankan kepada Pak Fulan agar segera mencari ijazah anak2 nya mengingat hal itu menurut saya sangatlah penting. Bila sampai hilang sebaiknya segera membuat surat berita kehilangan begitu saran saya.

Salah Satu Cara Meningkatkan Kualitas Pendidikan (Sarkasme Only)

February 26th, 2010

Gambar di bawah ini mungkin merupakan salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Jawa Barat.

Hebat kan? :) Mungkin untuk sebagian orang yang namanya nyawa bisa dikonversi ganti ruginya dengan suatu nilai mata uang.

Berenang Yuk! Mumpung Jawa Barat Lagi Banjir!

February 21st, 2010

Saya ingat saat terjadi hujan selama Satu Malam. Hujan itu terjadi tanggal 5 Februari 2010 malam. Mulai dari abis maghrib.. sampe sekitar jam tigaan dini hari. Lebat seh enggak. Hujan yang biasa ajalah menurut saya. Pas pagi harinya, seperti biasa, saya pergi ke luar rumah melalui jalan utama yang ada di komplek perumahan saya, di Griya Prima Asri, tepatnya di Baleendah.

Alhamdulillah.. saya benar2 bersyukur bisa tinggal di tempat saya yang sekarang ini ketimbang tempat2 saya yang dulu pernah saya tempati di Jakarta, Depok dan Banten. Menurut saya tempat yang sekarang termasuk enak.. baik dari sisi lingkungan.. tetangga.. juga penguasa RT-nya. Saya pun berjalan kaki melewati jembatan yang ada di depan komplek perumahan saya.. yang tentu saja belum juga diperbaiki kerusakannya sampai sekarang meski.. saya sebagai pengurus RT merasa sudah memberitahukannya kepada pihak developer komplek perumahan saya.

Pas saya lihat kali yang ada di bawah jembatan tersebut.. hmmmhh.. ternyata airnya sangat tinggi sekali [geleng2 kepala mode]. Padahal sungai tersebut adalah sungai buatan yang sengaja dibuat oleh developer komplek rumah saya untuk menyalurkan air sungai yang lewat dari hulu ke hilir. Pertanyaan saya adalah.. gimana nasibnya yang di hilir ya.. klo yang di tengah aja airnya sudah setinggi itu..

Ya gtu deh.. saya pun keluar komplek menuju jalan besar yang ada di depan komplek rumah untuk sarapan di warteg. Saya liat ternyata.. macet.. ruarrr biasahhh..

Coba pikir deh pemirsa.. gimana rakyat negeri impian ini bisa produktif klo energi dan umurnya harus habis sebagian besar di jalanan yang kayak gini? Untung na ada Pak Polisi yang coba ngatur. Klo enggak ada.. hmmmhh..

Apalagi kelakuan pengendara motor di kota ini.. udah asal.. gak mau ngalah!!! Persis seperti orang2 yang sering saya tonton klo lagi berdebat di televisi. Sebenernya saya sempet bertanya seh pada awalnya. Kenapa ya kok bisa macet? Biasanya kan jalanan macet klo lagi ada Si Komo ato Buaya lewat. Bener kan ya pemirsa? Si Komo dan Buaya klo lagi lewat di jalanan kan seolah-olah gaya na kayak pemilik negeri impian kan? Namanya juga Komodo ama Buaya. Wajarlah klo jalan lagaknya seenaknya. Karena pada dasarnya otak mereka gak pernah dipake untuk mikir kali ya :)

Saya coba bertanya kepada seorang pengendara yang lewat mengenai penyebab kemacetan. Ternyata ada banjir di Dayeuhkolot.

Ternyata airnya tinggi bener euy pemirsa. Coba liat aja ketinggian air di POM Bensin Dayeuhkolot tersebut. Kayak na yang cuma berani ngisi bensin di POM bensin kayak gtu cuma kendaraan para Superhero doank kali ya. Yang bisa nyilem di dalam air :)

Lalu saya coba periksa air di bawah jembatan yang ada di Dayeuhkolot. Wuihhh.. Subhanallah.. indah euy!!! Kenapa saya sebut indah? Soalnya sampahnya udah gak keliatan. Semuanya air. Sebagaimana sungai seharusnya :)

Saya kasian sebenernya ngeliat para manula yang harus dibantu tatkala menyeberangi banjir. Untunglah masih ada relawan yang mau membantu.

Saya juga kasian pada ratusan keluarga yang rumahnya terkena banjir

Coba deh pemirsa pikirin pertanyaan saya. Klo saya mo buang hajat seperti be-ol misalnya. Trus rumahnya kayak gini. Gimana caranya ya? Kayaknya mesti nanya ke gubernur dan para anggota DPR untuk tau jawabannya :) Ato emang langsung be-ol aja kali ya. Soale kan masalah infrastruktur seperti penanganan banjir bukan prioritas dari gubernur dan para anggota DPR. Masyarakat diminta untuk mengerti sendiri.. tentang bagaimana caranya be-ol dalam kondisi seperti itu. Jadi jangan kaget klo ada yang be-ol sembarangan [Jadi inget lagu anak-anak tempoe doeloe yang berjudul "Jangan pipis sembarangan". Kayak na perlu dibuat satu lagu lagi yang berjudul.. "Jangan be-ol sembarangan" :) ]

Tapi walau begitu.. masih terdapat kegembiraan bagi anak-anak semacam ini. Maklum tata kota na emang tidak dibuat agar anak-anak seusia mereka mudah untuk mencari tempat untuk bermain.

Mumpung lagi banjir.. jadi ada tempat berenang gratis.. :)

Baik banget ya kakak-kakak ini yang megajak adik-adiknya berenang gratis. Saya rasa ini bisa menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Jawa Barat kali ya :)

Ada satu lagi seh kenikmatan akibat banjir. Di antaranya adalah.. karena daerah banjir na diblokir oleh polisi, jadinya jalanan tuh sepi banget. Tapi gak enaknya.. biasalah.. pengendara motor roda dua di negeri impian. Kayak gak bisa ngeliat jalan sepi barang sebentar. Sepi dikit.. langsung deh dipake buat kebut2 an. Saya hampir saja ketabrak motor gara2 ada motor blo’on yang nyusul sepeda saya dari sebelah kiri. Tapi tenang aja pemirsa. Do’a saya udah berubah sekarang dari yang semula cuma “Wa alaikum”, kini menjadi “Semoga mati ketabrak. Amin!”. Dan do’a itu saya layangkan kepada para pengendara motor yang ugal2 an dan suara motornya bikin bising. Padahal aturan larangan membuat kegaduhan dalam berlalu lintas udah ditetapkan loh pemirsa. Tapi yang saya liat.. para polisi kayak udah “cuek bebek” terhadap perilaku pengendara bermotor terutama para pengendara bermotor roda dua. Sekarang saya paham bener kenapa temen saya dulu do’anya sampe kayak nyumpahin mati ketabrak pada para pengendara motor yang ugal-ugalan. Karena udah gak bisa ada yang ngatur mereka selain.. MATI!!!! Klo polisi aja udah nyerah untuk ngatur.. apalagi saya..

Namun kasian deh klo ngeliat para pengendara kendaraan bermotor.. yang cuma bisa lewat jalan yang ada di Bojongsoang. Mulai dari Tugu sampai Terusan Buah Batu tuh.. yang ada.. MUAAACET REK!!!

Bener2 macet batu!!!. Kalo di itung2 macet na tuh bisa nyampe 10 km lebih tuh pemirsa. Harusnya pemerintah daerah segera mendaftarkan kemacetan tersebut agar bisa meraih rekor sebagai kemacetan terpanjang kali ya pemirsa :) Lumayanlah.. boleh dicoba..

Saya sampe berpikir.. gimana ya caranya agar bisa sampe ke tempat saya bekerja? Tapi saya yakin penguasa Jawa Barat bisa menanggung segala kerugian orang-orang yang tidak bisa bekerja lantaran kemacetan seperti ini. Mesti yakin kan ya pemirsa? Kan udah ada yang mikirin gimana caranya.. Jadi kita sebagai rakyat biasa ya manut wae lah :) Kan penguasa selalu.. BENERRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!

NB: Mari tingkatkan biaya pendidikan! Jangan menyerah! Mumpung belon ada undang2 untuk be-ol sembarangan! :)

Banjir Makin Parah.. Selalu Begitu Kata Masyarakat Umum..

February 20th, 2010

Kalo saya perhatikan berita TV yang menayangkan musibah terkait dengan banjir, saat masyarakat yang menjadi korban banjir diwawancarai, selalu pernyataannya kurang lebih.. “Banjir makin parah!”. Jadi bukan.. banjir semakin mendingan. Saya merasa.. sudah saatnya pejabat yang daerahnya dilanda banjir, untuk di-PTUN-kan alias diadili apakah mereka “sudah berusaha”.. setidaknya secara administratif untuk menanggulangi bahaya banjir ini di daerahnya masing2. Sebab kerugian yang dihasilkan demikian luar biasa. Mulai dari macet, rugi waktu. Banjirnya sendiri, entah rugi harta benda bahkan nyawa. Lalu hal2 yang terkait sampingannya seperti longsor, air tanah pecah alias tidak terkendali. Lalu pasca banjirnya. Entah itu muncul wabah seperti diare, DBD ato mungkin saja penyakit yang muncul akibat hewan2 yang sarangnya terkena banjir pada keluar semua, seperti wabah tikus dulu. Kerugiannya demikian dahsyat, namun dari waktu ke waktu bukannya mendingan, namun makin parah. Klo tindakan mengadili pejabat ke Pengadilan Tata Usaha Negara tidak juga.. “dimulai”.. saya rasa wajar saja kejadian semacam.. rebutan jadi pejabat.. merupakan hal yang lumrah. Ya jadi pejabat enak kok.. bisa “lepas tangan” atas apa yang seharusnya menjadi kewajibannya. Tatkala menuntut apa yang menjadi haknya, bisa menjadi hal.. yang nomor satu dilakukan. Bener kan pemirsa?

NB: Menurut tata kota seh.. rumah ibu saya harusnya persis depannya tuh.. jalan raya besar. Tapi sampe sekarang, yang namanya jalan tanah di depan rumah ibu saya, semenjak saya masih kecil hingga besar gini, tetep aja masih jalan tanah. Klo tata kota aja udah gak beres, kira-kira bisa gak ya masalah kayak banjir ini ditanggulangi? Kayaknya seh bisa. Kan di negeri impian, segala masalah bisa diatur asalkan ada “Do it”. Tul kan pemirsa? Itulah sebabnya, karena segala permasalahan dapat dengan mudah diatasi.. saatnya.. menaikkan pajak? [gak mudeng mode] (Ditulis 26 Juni 2009)