Posts Tagged ‘Manusia’

Akibat Kegagalan Memanusiakan Manusia

Sunday, July 16th, 2017

Pernahkah Anda mengalami perasaan di mana Anda sangat takut menjadi miskin? Sepertinya kebanyakan kita sebagai manusia, yang kadang memiliki perasaan sangat takut melarat. Tetapi yang menjadi masalah adalah bila rasa takut semacam itu menjadi sebuah ketakutan yang amat sangat.

Percayakah Anda bila hal tersebut muncul di benak kita lantaran jangan-jangan kita telah menjadikan diri kita bukan selayaknya seorang manusia?

Logikanya seperti ini, anggaplah manusia adalah murni sama seperti robot. Lalu apa yang terjadi bila sebuah robot tidak lagi berguna? Apa yang menyebabkan harga sebuah nyawa manusia seakan menjadi sangat murah? Apakah saat itu nyawa dianggap sebagai milik manusia? Atau mungkin sama sekali bukan yang demikian?

Saat manusia bukan lagi milik manusia dengan kemanusiaannya, maka manusia saat itu, yang paling tinggi derajatnya sekalipun, akan menjadi tidak berharga sama sekali. Hidup penuh ketakutan, tidak tenang, layaknya terkena penyakit jiwa semacam paranoid terhadap kejatuhan atas derajatnya. Hal-hal yang saya sebutkan, terjadi tatkala manusia gagal memanusiakan kemanusiaannya.

Mesjid di Koln Jerman

Namun yang terpenting dari apa yang saya gambarkan tadi, adalah bagaimana caranya agar kita tidak mengalami kegagalan dalam memanusiakan kemanusiaan kita.

Percayakah Anda bahwa salah satu cara memanusiakan manusia adalah menjadikan manusia memiliki sesuatu yang pantas disembah? Karena itu adalah sifat manusia yang paling mendasar, yaitu kebutuhan hakiki untuk berlindung kepada Zat Yang Maha Kuat.

Semoga mendapat hikmah dan pelajaran.

Memanusiakan Manusia

Sunday, January 1st, 2017

Yang menarik dari manusia adalah kepemilikannya atas akal dan juga nafsu. Manusia memiliki keinginan lantaran nafsunya. Secara naluri enggan diperlakukan layaknya benda mati, seperti halnya cyborg. Dengan akalnya, manusia dapat berpikir agar nafsunya dapat direalisasikan melalui cara-cara yang sistematis. Namun apakah hanya dengan adanya akal dan nafsu tersebut manusia bisa dibedakan dengan benda mati, seperti cyborg misalnya?

Cyborg

Akan lebih mudah memanusiakan seorang manusia bila kita sama-sama mencoba memulai dari sebuah pertanyaan, yaitu mengapa manusia diciptakan di muka bumi ini.

Bisa jadi pekerjaan yang ada di dunia, yang semula dikerjakan oleh manusia, dengan kemajuan teknologi, dapat saja digantikan dengan robot. Namun, bisakah ibadah yang sifatnya ubudiyah digantikan oleh robot? Misal, bila manusia merasa lelah, kemudian dia memprogram sebuah robot agar menggantikan dirinya untuk sholat. Sepertinya, hal ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh robot. Sebab, secara esensi, ada nafsu di dalam hati manusia yang tidak akan dapat memungkiri bahwa ia belumlah menunaikan kewajibannya untuk sholat, meski sudah memprogram suatu robot untuk sholat. Ada sesuatu yang tidak bisa dipungkiri di dalam hati kecil seorang manusia bahwa ia memiliki pencipta.

Akhir kata, inti dari memanusiakan seorang manusia, bermula dari alasan mengapa ia diciptakan. Yaitu menyembah Rabb Yang Maha Esa.

Semoga mendapat hikmah dan pelajaran.

Kemenangan Tanpa Jiwa

Wednesday, November 2nd, 2016

Pada masa sekarang, di mana penghargaan diberikan kebanyakan orang manakala hal-hal yang secara materi dapat dihitung sebagai keuntungan, sering menjebak kebanyakan kita untuk meraih apa yang kita inginkan tanpa mengindahkan hal-hal yang sifatnya abstrak. Hal-hal yang abstrak di sini, bisa terkait pada cara kita untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

Kadang, bahkan sering, kita seolah-olah terpaksa melakukan hal-hal yang tidak santun, cara-cara yang tidak halal, agar kita bisa meraih apa yang kita inginkan asalkan hal itu bisa dilakukan dengan cepat dan mudah.

Pernah suatu kali saya bertanya kepada mahasiswa di kelas, bila mereka ingin cara yang cepat dan mudah, apakah mereka bersedia menjadi cyborg (manusia robot), di mana pengetahuan dan kemampuan ditransfer dengan sebuah alat yang ditancapkan ke kepala mereka. Dengan cara tersebut, mereka tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak halal misalnya, karena semua pengetahuan dan kemampuan yang mereka inginkan dapat diperoleh dengan cara yang cepat dan mudah.

Saya yakin, sebesar apa pun keinginan kita akan sesuatu hal, tidak membuat kita berkeinginan untuk mengubah diri kita menjadi cyborg. Sebab, bila cyborg memenangkan sesuatu atas manusia, meski dengan cara yang cepat dan mudah, kemenangan semacam itu adalah kemenangan tanpa jiwa.

Jiwa yang Menang

Apakah kita selama ini telah memenangkan banyak kemenangan sebagai seorang manusia? Saya yakin masing-masing kita sendirilah yang dapat menjawabnya.

Semoga kita bisa meraih kemenangan sebagai seorang manusia yang sejati. Amin.

Tingkatan Manusia

Thursday, December 31st, 2015

Di sisi Alloh SWT, terdapat beberapa tingkatan bagi seorang muslim atau manusia. Yang pertama, dan merupakan tingkatan tertinggi, adalah para nabi dan rasul. Setelah itu pada tingkatan kedua, adalah orang-orang yang jujur. Ketiga, yaitu orang-orang yang berjuang di jalan Alloh, para mujahid. Sedangkan yang terakhir, adalah orang-orang yang beramal saleh.

tingkatan manusia

Maka, tatkala seorang pemimpin bertindak jujur, memenuhi semua janji-janjinya, dapat dipastikan seseorang yang seperti ini sangat dekat tingkatannya dengan para nabi dan rasul.

Semoga mendapat hikmah dan pelajaran.

Yang Tidak Tergantikan Oleh Teknologi

Tuesday, May 29th, 2012

Pernah saya menonton film, berkisah tentang anjing yang setia kepada tuannya. Judulnya Hachiko. Kebetulan yang menjadi tuannya, Profesor Ueno, rasanya menurut saya cukup pas diperankan oleh Richard Gere. Cuma ada adegan yang saya suka banget. Yaitu saat Profesor Ueno bertanya kepada murid-muridnya di kelas, bahwa apakah semua yang ada di sekitar kita dapat digantikan oleh teknologi? Apakah bila kita mendengarkan musik dalam konser musik, akan sama rasanya dengan tatkala kita mendengarkan musik melalui kaset piringan? Lalu Profesor Ueno duduk di dekat muridnya dan bertanya, apakah akan sama rasanya bila kakek Anda duduk didekat Anda dan berbicara pada Anda, dengan saat kakek Anda berbicara melalui telepon? Sori neh kalo ada yang lupa2 mengenai adegannya. Maklum udah lama banget nontonnya. Tapi intinya, tidak semua hal dapat digantikan oleh teknologi. Terutama terkait dengan yang namanya.. perasaan.. Saya merasa semakin hari teknologi meningkat, mengapa manusia seakan-akan dibuat semakin sibuk? Kayak-kayaknya saya mulai mendapat jawabannya. Jawabannya adalah.. karena manusia2 seperti itu telah dicekoki teknologi. Bukan menggunakan teknologi. Melainkan.. dicekoki teknologi. Dijadikan obyek market. Dijadikan obyek pasar. Jadi bulan-bulanan. Bukan lagi sebagai subyek. Anak-anak sekarang saya lihat makin hari makin lebih mirip robot. Karena menurut saya.. sudah rada2 overdosis dalam pemakaian teknologi. Saya.. tidak berharap anak saya kelak bakalan terkena dengan apa yang disebut.. overdosis dalam pemakaian teknologi. Saya berharap dia adalah subyek.. bukan obyek.. atas teknologi.

Mengikuti Prosedur Ala Keblinger

Monday, April 5th, 2010

Sering orang menyangka manakala setiap orang mengikuti prosedur yang sudah ada, segala sesuatunya akan baik2 saja. Namun orang sering lupa bahwa prosedur pun bisa jadi memiliki suatu kelemahan. Maklum prosedur adalah buatan manusia. Manusia adalah mahluk yang kemampuannya seusai dengan harkat kemanusiaannya. Sehingga bila ternyata ada prosedur yang memiliki.. sebutlah suatu “bugs”, dan orang justru mengikuti prosedur yang secara kebetulan mengikuti aturan yang memiliki “bugs” tersebut, maka keadaanya malah akan menjadi berantakan.

Kisah ini benar2 terjadi manakala saya mengikuti kursus Bahasa Inggris dengan beberapa orang rekan saya sesama dosen di institusi tempat saya bekerja. Saat itu sedang liburan akademik, pihak institusi mengadakan program berupa kursus singkat Bahasa Inggris buat para dosen dengan cara memanggil guru pengajar Bahasa Inggris. Dosen2 dikelompokkan jadi beberapa kelas dan masing2 kelas memiliki ketua kelompok kursus. Pengajarnya kebetulan seorang gadis yang masih muda dan kayaknya semangat banget dalam mengajar Bahasa Inggris. Bener2 profesional untuk bidangnya menurut saya. Bagus seh klo kita diajar oleh orang yang kalo ngajar tuh semangat, begitu dalam pikiran saya. Suatu saat terdapat acara penting yang suka atau tidak suka menyita perhatian para dosen untuk mempersiapkan diri dalam rangka mengikuti acara tersebut. Kebetulan waktunya mepet sekali dengan hari untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris dan jadwal pengajaran kursus Bahasa Inggris saat itu pun tinggal dua pertemuan lagi. Saya yang merasa baik2 saja pas hari untuk pergi kursus, ya datenglah untuk kursus. Ketemu sama guru pengajar kursus Bahasa Inggrisnya untuk memulai pelajaran. Ternyata, yang kursus Bahasa Inggris saat itu cuma saya doank. Sedangkan rekan2 saya yang lain tidak ada satu pun yang hadir. Bener2 mirip kursus privat jadinya saat itu. Lalu saya bilang kepada guru Bahasa Inggris saat itu, agar sebaiknya pertemuan kursus yang terakhir, ditunda dulu saja sampai pekan depan mengingat saya kuatir tidak ada seorang pun yang datang di hari pertemuan terakhir lantaran terdapat acara penting saat itu di institusi yang waktunya mepet sekali dengan hari kursus Bahasa Inggris. Saya bilang pada si guru Bahasa Inggris supaya memberitahu apa yang saya sampaikan kepada ketua kelompok kursus. Namun si guru Bahasa Inggris keberatan dengan saran saya lantaran hal tersebut tidaklah sesuai prosedur (senyum2 mode), lagipula menurutnya, ia tidak mendapat pemberitahuan apa pun dari ketua kelompok kursus. Ya wess.. begitu selesai kursus Bahasa Inggris, besok2 nya saya temui ketua kelompok kursus dan menyarankan hal yang sama kepadanya seperti apa yang saya sarankan kepada si guru Bahasa Inggris. Apa tanggapan si ketua kelompok kursus? Tanggapannya adalah sama kurang lebihnya seperti tanggapan si guru Bahasa Inggris. Hal tersebut menyalahi prosedur. Sebab bila hal tersebut dilakukan, maka sebaiknya diberitahukan dulu ke semua peserta kursus. Supaya tidak berkesan “main ambil alih” mungkin maksudnya. Saya yang saat itu MERASA sudah melakukan hal yang menurut saya menjadi kewajiban saya, ya sudah.. tidak berberat hati terhadap hal yang sangat mungkin terjadi. Begitulah pemirsa, pas hari terakhir kursus tiba, tidak seorang pun yang hadir kecuali si guru Bahasa Inggris. Si guru Bahasa Inggris pun ngomel2 via sms ke saya. Untung gurunya cantik, jadi na saya masih bisa agak sabar nanggapin na :) (Mohon maap lantaran ngomong gini maklum masih bujangan mode). Ya saya bilang kepada si guru Bahasa Inggris, bukankah kejadian tersebut sudah saya peringatkan sebelumnya, bahwa hal tersebut sangat mungkin sekali terjadi? Dan kemudian perihal si guru Bahasa Inggris yang ngomel2 lantaran gak ada peserta kursus yang hadir, saya kasih tau pula kepada si ketua kelompok kursus. Si ketua kelompok kursus hanya bisa merasa bersalah. Setelah itu.. menyesal (seperti penyesalan orang yang biasanya menyesal belakangan lantaran lengah). Apakah saat itu saya menyesal pemirsa? Jengkel seh iya. Tapi klo menyesal, insya Alloh saya sudah menyerahkan permasalahan kepada Yang Maha Kuasa setelah.. saya melakukan hal yang menurut saya memang perlu untuk saya lakukan..

Katanya.. Ia Lelah Menolong Orang di Sekitar Dirinya

Monday, November 9th, 2009

Suatu kali saya berdiskusi dengan seseorang. Diskusi yang agak serius menurut saya, sebab.. saya tau benar.. jarang2 saya berdiskusi serius dengannya. Ia kemudian berkata kepada saya kurang lebihnya “Saya lelah dengan apa yang ada di sekeliling saya. Saya lelah berusaha menolong orang yang ada di sekeliling saya”. Tiba2 saja saya merasa terharu mendengarnya. Namun juga.. tersenyum-senyum mendengarnya. Kenapa demikian? Karena saya seperti melihat diri saya tempoe doeloe. Seperti merasa hampir saja ingin menyerah dengan segala keadaan yang ada di sekeliling saya. Btw, klo sampe menyerah.. tentunya saya gak bisa jadi superhero donk ya? :) Mungkin apa yang saya coba ungkapkan adalah hal yang sederhana saja. Bukan hal yang muluk. Tapi semoga memudahkan “si dia” tatkala dirinya kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan :) Tentunya sebagian pemirsa pernah donk ya nonton acara Kick Andy. Kebetulan pada acara tersebut dibahas pula mengenai peserta yang lolos ke final acara pemilihan film dokumenter terbaik. Salah satu yang menarik adalah film dokumenter tentang Gorila Fitness Center. Tatkala para peserta dari Gorila Fitness Center itu diundang untuk bertemu Ade Rai, ada perkataan Ade Rai yang sangat bagus menurut saya, agar pemirsa bisa merenunginya. Ade Rai saat itu berkata seperti ini kurang lebihnya “Sebenernya inilah yang ingin saya beritahukan kepada semua orang semenjak saya mendirikan Fitness Center. Yang terpenting adalah.. bukan keberadaan dari Fitness Center tersebut. Bukan karena pola makan yang harus dipenuhi ato pun harus selalu dateng ke Fitness Center-nya. Karena yang “mahal” bukanlah itu semua. Tapi yang “mahal” adalah “motivasi”-nya. Dan Gorila Fitness Center telah melakukan hal itu meski dengan cara yang sederhana“. Mengerti kira2 maksud saya pemirsa :) Maksud saya yang terpenting adalah.. “manusia”-nya itu sendiri. Bilamana pemirsa berhasil menciptakan seorang manusia yang paripurna dengan segala apa yang pemirsa miliki sekarang.. maka sesungguhnya hal itu.. menurut saya.. adalah lebih baik daripada apa yang ada di langit dan di bumi. Karena manusia paripurna adalah manusia dengan segala hakekat dan nilai dari kemanusiaan itu sendiri.