March 24th, 2009
Tempoe doeloe, mungkin sudah beberapa tahun kemudian, setelah Peristiwa 12 Mei terjadi, Kopassus mendapat berbagai tudingan bahwa mereka menjadi dalang atas segala kekacauan yang terjadi termasuk penculikan-penculikan terhadap para aktifis (Nasib sebagai “superhero” ya begini ini Pak!). Padahal saya tau benar justru mereka berada dalam posisi melindungi negara ini. Hmm.. sayang sekali sedikit lemah memang kalo saya amati.. Pak Prabowo Subiyanto ini dalam hal berkomunikasi.. (kebiasaan gak main watak ternyata menyusahkan ya Pak? Cari temen wartawan dong Pak, gtu aja kok repot!) mungkin akan lengkap kalo bisa berpartner dengan Pak Yusril Ihza Mahendra kali ya, yang juga tersangkut fitnah.. menggelapkan uang negara. Hehehe.. biasalah.. cara-cara “penguasa lama” untuk menjegal.. minimal secara administratif para lawan-lawannya. Saat di-konfirmasi dalam suatu wawancara, Pak Prabowo Subiyanto mengatakan bahwa.. ia.. bersama-sama dengan pasukannya.. telah berhasil menjinakkan sebanyak 22 bom aktif yang siap meledak saat kerusuhan Mei Tempoe Doeloe. Pemirsa.. saya pribadi mengatakan kepada Anda semua.. bahwa.. saya percaya pada apa yang dikatakan Pak Prabowo Subiyanto. Hehehe.. Mungkin saya adalah orang yang sangat jahat sekali pemirsa. Tapi.. percayalah pada apa yang saya katakan..
Tags: Konfirmasi, Kopassus, Percaya, Prabowo Subiyanto, Superhero
Posted in Harianku | Comments Off
March 23rd, 2009
Ini terjadi saat menjelang Peristiwa 12 Mei, peristiwa yang menurut saya cukup dahsyat kegemparannya lantaran saat itu negara benar-benar dalam keadaan genting. Berita yang benar dan yang salah gak jelas mengingat media saat itu dikendalikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Keadaan ekonomi morat-marit dan pemerintahan saat itu.. benar-benar berada di titik yang boleh dibilang terburuk dalam kacamata mana pun. Kehilangan legitimasi dan kehormatannya. Saya ingat betul saat itu kuliah sedang berat-beratnya lantaran banyak praktikum yang harus saya selesaikan. Malam harinya begadang membuat laporan, siangnya kuliah dan praktikum dan sore harinya saya mendapat mandat untuk ke Kampus UI Salemba untuk mempersiapkan demo yang boleh dibilang akan dilakukan secara besar-besaran. Begitulah setidaknya yang saya ingat. Malam pun tiba, terus-terang saat diskusi berlangsung, saya tuh udah benar-benar setengah mab-ok kali ya, lantaran ngantuk berat. Satu-satunya yang saya ingat saat itu, rapat tiba-tiba ditunda lantaran ada berita yang masuk, yang mana berita itu menyatakan bahwa.. rekan-rekan seperjuangan kami yang ada di Yogyakarta mengalami tindakan represif sehingga banyak yang terluka. Seketika ruangan mesjid yang saat itu digunakan untuk rapat, menjadi hingar-bingar. Orang-orang yang ada di situ berdiskusi dengan sesamanya. Terlihat jelas mereka panik. Bahkan panitia yang saat itu semula yakin sekali dengan rencana yang akan dilaksanakan juga berdiskusi dengan sesamanya. Sedangkan saat itu yang saya lakukan, mengambil tas saya untuk dijadikan bantal, trus mencoba tidur. Keadaan saya benar-benar ngantuk berat. Terserah deh mo ada bom yang lewat kek.. yang penting saya bisa istirahat barang sejenak. Tiba-tiba keluar pernyataan mengenai jihad. Saat itu diberitahukan bahwa siapa yang kira-kira siap untuk mendaftarkan diri silakan menuliskan identitas dirinya di lembaran kertas yang disediakan dengan catatan.. mengerti konsekuensi yang harus ditanggungnya kemudian hari. Ne juga menarik pemirsa. Perasaan saya saat itu duduk tidak di barisan paling depan. Seingat saya, saya saat itu duduk di selasar barisan nomor dua. Namun entah gak tau gimana caranya, tuh kertas pendaftaran sampai di hadapan saya untuk pertama kalinya. Ya wess.. jadilah nama saya saat itu tertulis di urutan pertama. (Jadi lucu kalo saya ingat kembali saat itu). Begitulah.. setelah lama berdiskusi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan arah keberangkatan kami. Kami disuruh kembali ke rumah kami untuk mempersiapkan diri lagi sewaktu-waktu bilamana kami dibutuhkan. Kebetulan saya saat itu dapet berengan kelompok yang menuju Depok, mengingat saya berangkat awalnya dari Depok. Kami mendapat kabar bahwa jalan-jalan protokol di sekitar Kampus UI Salemba sudah dijaga oleh para tentara sehingga tidak satu pun dari orang yang ada di lingkungan tersebut bisa bebas keluar-masuk. Namun Alhamdulillah, kami kebetulan hapal jalan tikus untuk bisa sampai ke terminal kereta api, satu-satunya alat transportasi umum yang masih bisa berfungsi dengan baik lantaran alat-alat transportasi lainnya ada yang sudah dibakar massa, yang gak tau dari mana asalnya, sedangkan yang lainnya jadi takut untuk beroperasi. Saya ingat betul saat kereta api hendak menuju daerah silang Monas, terlihat jalan-jalan memang.. ditutupi oleh tentara. Namun.. bukan sembarang tentara. Mereka adalah Kopassus atau lebih dikenal dengan julukan Pasukan Baret Merah, suatu pasukan elit kebanggaan negeri kami dan Insya Alloh kebanggaan saya juga. Ada satu hal yang menarik di sini. Saya bersedia bersaksi mengenai posisi para Kopassus saat mereka menjaga semua jalan-jalan protokol menuju Kampus UI Salemba. Yang sangat terlihat jelas dari kereta yang saya naiki saat itu, adalah pagar betis yang mereka buat di Jalan Diponegoro menuju Kampus UI Salmeba. Mereka.. berbaris menutupi semua jalan.. berdiri tegap.. namun.. dengan ARAH.. LUAR.. Kampus UI Salemba. Artinya.. mereka berada dalam posisi.. MELINDUNGI.. Kampus UI Salemba. Sebab bila mereka berada dalam posisi siap menyerang.. mereka akan menghadap ke arah dalam.. yaitu ke arah Kampus UI Salemba. Sama persis dengan mobil tentara yang menghadap ke arah dalam Kampus UI Depok. Semoga persaksian saya ini bisa sedikit menjelaskan keadaan dan posisi Kopassus menjelang Peristiwa 12 Mei. Terima kasih ya Kopassus..
Tags: Depok, Kampus UI Salemba, Kopassus, Pasukan Baret Merah, Peristiwa 12 Mei, Posisi
Posted in Harianku | Comments Off
March 14th, 2009
Masih seputar ber-sepeda balap, suatu hari saya bersepeda dengan kecepatan yang boleh dibilang lumayan tinggi. Tiba-tiba dari sebelah kiri, muncul mobil Vitara berwarna hijau gelap hendak keluar dari SPBU. Saya yang merasa saat itu dalam posisi berada sejalur dengan jalan raya, ya terus aja bersepeda dengan kecepatan tinggi. Tokh logika saya mengatakan.. yang motong jalan kan yang seharusnya mengalah. Gak peduli ia pejalan kaki, naik sepeda, naik sepeda motor, naik trailer ato naik dinosaurus, ya klo motong jalan.. ya dia yang ngalah. Tapi uniknya, ne mobil, yang saya baru ketahui adalah mobil yang dikemudikan tentara beserta istrinya, main nyelonong aja sampai hampir boleh dikatakan, tanduk bemper-nya mengenai kaki saya, sedangkan saya saat itu dalam posisi naik sepeda dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sama mungkin dengan kecepatan motor dengan laju lumayan kenceng. Silakan pemirsa bayangkan apa yang terjadi bila saat itu saya tidak bisa mengendalikan keseimbangan sepeda saya. Yakin deh.. kecelakaan yang mungkin saya alami lumayan parah. Padahal klo tentara, apalagi udah naik mobil Vitara begitu, mestiya pejabat ya. Klo pejabat.. harusnya make otak kali ya, kalo motong jalan berarti dia yang mesti ngalah. Tapi sayangnya otaknya gak dipake. Sekarang saya sadar.. Ooo begitu ya kelakuan pejabat tentara di negeri impian ini. Tapi yang kayak gini juga lumayan banyak dilakukan oleh kendaraan yang berplat B pemirsa. Percayalah dengan apa yang saya katakan.
Tags: Kelakuan Pejabat Tentara, Nyelekit, Sepeda Balap, Si Komo
Posted in Harianku | No Comments »
March 14th, 2009
Pernah suatu kali, untuk memenuhi rasa penasaran saya, saya berkeliling Bandung dengan sepeda balap saya. Dari Baleendah hingga Utara Bandung, di kisaran Jalan Merdeka. Mengenai pengalaman yang saya rasakan adalah.. banyak juga ternyata yang memberi arah jalan yang salah ya. Lantaran saya bukan orang Bandung asli, belum hapal seluruh jalan, jadinya cukup sering bertanya mengenai jalan yang seharusnya saya lalui. Lainnya lagi adalah.. beberapa kali mengalami kecelakaan. Baik sepedanya ambrol, trus rodanya hampir pecah (ternyata sepeda saya gak terlalu tangguh seperti perkiraan saya semula. Padahal ini adalah pilihan terbaik saat saya beli second), beberapa kali dipepet motor (motor masih jadi kendaraan primadona buat saya dalam hal menjengkelkan perasaan), nabrak becak (lantaran becaknya tidak ngasi tanda sama sekali mo-nya ngapain, dapet oleh2 dua memar di mana memar yang satunya belon ilang sampe sekarang), lainnya lagi diganggu oleh mobil yang didalamnya ada pasangan muda mudi. Sebenernya kalo saya liat pemudinya cantik seh. Pake jilbab pula lagi. Tapi saya yakin bukan akhwat kali ya, masa akhwat mo aja dibawa ama pemuda. Tapi jujur aja, saya memandangnya dengan perasaan.. jij-ik. Bukan naksir ato simpati. Lantaran pemuda yang nyetir mobil tersebut mengganggu saya bersepeda dengan membunyikan klakson ber-ulang2, mengganggu konsentrasi saya bersepeda dan.. pemudinya tertawa-tawa seakan-akan saya ini adalah mainan yang lucu. Perasaan.. saya klo nyetir mobil gak pernah deh begitu pemirsa. Sebab saya cuma berpikir, bermain-main di jalanan semacam itu gak ubahnya bermain-main dengan nyawa orang lain. Namun kejadian seperti ini boleh dibilang.. hampir setiap hari dapat dikatakan terjadi.. di negeri impian ini..
Tags: Baleendah, Bandung, Nyelekit, Sepeda Balap
Posted in Harianku | No Comments »
March 6th, 2009
Kejadian ini sebenernya tidak terlalu lama terjadi. Mungkin tahun lalu kali ya. Saat saya makan di ruang makan institusi. Saat itu ada makanan yang tidak begitu saya kenal dan saya bertanya pada salah seorang yang ada di situ kurang lebihnya “Apa ini udang?”. Tiba2 orang itu sambil tertawa terbahak-bahak menjawab “Udang Darat!” lalu pergi berlalu. Hmm.. keren juga ne orang sudah sanggup berkata demikian, sambil tertawa-tawa pula. Dan satu hal lagi yang lebih menarik adalah.. ia.. adalah salah seorang mantan Ketua DKM. Setidaknya itulah yang saya tau. Kalo seorang mantan Ketua DKM saja sudah bisa nyelekit seenaknya, saya rasa.. wajar saja orang-orang di kelompok ini saya rasakan kebanyakan dari mereka memang.. tukang nyelekit. Klo orang ini membaca blog saya.. sebenernya saya ingin bertanya, apakah kata “udang darat” tersebut berarti sedang mempresepsikan diri saya sebagai.. “buaya darat”? Yang kedua.. atas dasar apa ia sampai berani mengatakan hal demikian? Apa ia bisa membuka dada saya dan membaca apa yang ada di dalam hati saya? Hebat sekali ya! Cuma satu seh yang membuat saya bersyukur. Apa itu pemirsa? Itu adalah.. untungnya.. ne orang kerjanya beda departemen dengan saya. Yess banget deh!
Tags: Beda Departemen, Buaya Darat, Ketua DKM, Nyelekit, Udang Darat
Posted in Harianku | 1 Comment »
March 5th, 2009
Kejadian ini terjadi puluhan tahun lalu. Tepatnya di Jakarta. Persisnya saya sendiri agak-agak lupa namun.. saat itu saya ditugasi mengantar dua orang akhwat.. ato mungkin bukan akhwat kali ya.. dua orang gadis yang kebetulan mengenakan jilbab.. untuk pulang. Mereka sendiri tinggal di daerah Pondok Pinang sehingga dalam organisasi mereka dikelompokkan di ranting Pondok Pinang. Saya sendiri saat itu.. untuk awal-awal pertama kalinya berkenalan dengan orang-orang yang ada di ranting Pondok Pinang tersebut saat saya berkunjung ke rumah Ibu saya mengingat.. sebenernya saya lebih banyak tinggal di Beji, Depok sehingga lebih memilih untuk aktif di daerah Beji, Depok. Seperti biasanya bagaimana gadis berjilbab diperlakukan, dua orang gadis ini duduk di belakang sehingga saya mirip supir kali ya saat itu. Namun saya tidak berpresepsi demikian karena menurut saya begitu lebih tidak menimbulkan fitnah kali ya. Setidaknya saat itu saya berpikiran demikian. Kami berbincang-bincang saat di perjalanan. Saya ceritakan bahwa saya benar2 mendukung organisasi ini. Namun tiba2 saja salah seorang gadis itu nyelekit dengan berkata begini.. (setidaknya itu yang kurang lebihnya saya dengar..) “Sesudah Ndukung Trus Mati..”. Kaget sekali saya mendengar tutur kata gadis ini. Apa ia berkata begitu lantaran ia tidak percaya pada saya? Lalu.. bila pun ia tidak percaya atas perkataan saya.. atas dasar apa.. ia sampai berani mengeluarkan perkataan.. yang lebih mirip nyumpahin orang lain supaya.. mati. Klo salah seorang pengunjung blog saya mengatakan gak baik klo saya berdo’a minta mati. Padahal dalam do’a saya sendiri aja.. ingin mati-nya dengan cara yang.. husnul khatimah.. dan bila hal itu diijinkan oleh Alloh SWT dengan prediksi bahwa hal tersebut.. memang baik. Namun ini, nyumpahin orang supaya mati.. main nyumpahin aja tanpa ada perasaan bersalah. Apa saya selama ini saya berbuat salah pada gadis ini? Mungkin iya kali ya. Kan saya orangnya kan.. sangat.. sangat.. sangat.. egois.. sekali.. [gubrak mode]. Btw pemirsa, bila mati dengan cara husnul khotimah itu bisa dijual-belikan. Insya Alloh deh.. saya akan berusaha beli. Gak perlu pake acara dikasih ato disumpahin segala..
Tags: Beji, Depok, Husnul Khotimah, Jakarta, Nyelekit, Nyumpahin, Pondok Pinang
Posted in Harianku | No Comments »
February 22nd, 2009
Ya Alloh Ya Tuhanku
Bilamana sampai akhir tahun ini
Saya belum juga bertemu dengan jodohku
Seseorang yang saya sangat menginginkannya
Untuk menjadi pendamping hidupku
Atau pun hal-hal yang mengarah kepada hal tersebut
Belum juga nyata kejelasannya
Saya memohon kepada Engkau
Wafatkanlah aku
Secara Husnul Khotimah
Bila hal tersebut memang lebih baik
Amin..
Tags: Wafatkan Aku
Posted in Harianku | 3 Comments »
February 22nd, 2009
Bila memang pemirsa ingin saya mengungkapkan hal-hal yang memang saya perlu ungkapkan.. Saya akan coba ungkapkan. Namun percayalah pemirsa.. bahwa.. ruang dan waktu.. tidak akan pernah cukup.. untuk memenuhi keinginan nafsu.. yang termasuk didalamnya adalah.. prasangka dan fitnah..
Tags: Fitnah, Nafsu, Prasangka, Ruang, Waktu
Posted in Harianku | No Comments »
February 22nd, 2009
Ini terjadi saat saya masih kuliah S1, tepatnya beberapa hari sebelum sidang. Cuma saya agak lupa entah sidang untuk seminar ato skripsi. Saat itu saya sedang ngobrol dengan adik kelas saya di emperan jurusan tempat saya kuliah. Tiba-tiba ada seorang akhwat, ato.. mungkin bukan akhwat kali ya. Melainkan gadis yang make jilbab yang kuliahnya satu jurusan dengan saya dan kebetulan adik kelas saya. Ia bertanya kurang lebih “Mo liat jadwal-nya Fulanah ya?”. Entah saya merasa saat itu, hal itu lebih kepada nyelekit ketimbang pertanyaan. Maka dari itu saya tidak menjawabnya dan membiarkan saja gadis itu dengan pertanyaannya sambil melihatnya. Insya Alloh melihatnya dan tidak melototin dirinya ya. Fulanah (rasanya gatal sekali hati ini ingin menyebut namanya biar segala sesuatunya benar-benar jelas) merupakan akhwat favorit tidak hanya di jurusan saya saat itu. Melainkan.. se-fakultas karena dari mulai perangai, pengetahuan, keinginannya untuk menolong sesama dan termasuk kepandaiannya (dan juga kecantikannya kali ya) boleh dibilang di atas rata-rata. Bahkan menjadi favorit juga di jurusan dan fakultas lain (geleng-geleng kepala mode). Itulah mungkin yang menyebabkan gadis ini menyangka saat itu saya sedang menyelidiki apakah jadwal sidang saya sama dengan jadwal si Fulanah ini. Setelah puluhan tahun berlalu, wahai Ukhti.. saya akan jawab pertanyaan Anda di blog saya ini. Bila Ukhti ingin mengetahui kejelasan mengenai perasaan saya terhadap Fulanah ini, saya katakan saya bersimpati kepada Fulanah ini, namun belum berpikir untuk menikahinya, apalagi me-macari-nya. Dan mengenai Fulanah ini apakah jadwalnya barengan dengan saya ato tidak.. Demi Alloh SWT saya bersumpah.. saya tidak tau menahu bahwa si Fulanah ini sejadwal dengan saya sampai Ukhti bertanya yang demikian. Yang lainnya lagi.. yang ingin saya katakan.. saya sama sekali tidak pernah.. menginginkan diri saya disebut ikhwan! Walau saat saya kuliah seolah-olah banyak sekali yang menyebut saya demikian. Saya adalah Dodi dan akan menjadi seorang Dodi sampai kapan pun sesuai dengan nama yang diberikan orang tua saya kepada saya. Ada pun dulu mengapa saya menginginkan berada di pengajian adalah lantaran saya sangat ingin berada pada LINGKUNGAN YANG BAIK. Dah just it!!! Tidak berpikir ingin jadi ustad, pemimpin, berpartai (bahkan waktu dicanangkan tentang partai saja saya terkaget-kaget mengapa kok saya yang tadinya merasa ngaji asyik-asyik aja tiba-tiba kok harus jadi orang partai?). Bahkan saya sangat rela.. dan juga pernah mengatakan kepada salah seorang ustad.. saya rela ditempatkan di.. lapisan paling bawah kalau memang kufu saya di situ. Saya katakan saya tidak kuat menghafal.. namun saya senang sekali yang namanya belajar tahsin maupun agama. Bila yang lain sudah pandai menghafal dan mau dinaikkan misalnya.. tingkatannya.. silakan saja dan mohon saya ditransfer ke yang sama-sama baru mulai saja. Karena apa pemirsa? Karena untuk berada di LINGKUNGAN YANG BAIK.. adalah jauh lebih saya pentingkan ketimbang urusan politik dan tetek-bengek lainnya yang.. bagi saya bila hal-hal tetek-bengek itu ditanyakan kepada saya.. saya katakan saya benar-benar.. sangat.. bosan dan bahkan.. jij-ik.. dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih cocok saya sebut dengan sebutan.. nyelekit!
Tags: Jadwal, Nyelekit, Seminar, Skripsi
Posted in Harianku | Comments Off
February 13th, 2009
Bila pemirsa ingin tau kisah saya menjelang sidang skripsi.. maka.. inilah kisah saya. Saya ingat banget saat itu, saya masih sibuk di suatu partai. Juga di suatu pengajian. Boleh dibilang diantara sesama rekan saya, saya termasuk yang tersisa yang belum juga lulus-lulus. Yang lain udah banyak yang lulus. Bahkan angkatan yang lebih muda dari saya udah lulus duluan. Sibuk ngurusin partai.. tanpa bermaksud menyalahkan keberadaan partai tersebut saat itu tentunya. Juga demo-demo yang dilakukan gerakan mahasiswa. Benar-benar melelahkan. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum dulu dengan semua itu. Fokus penuh pada skripsi saya. Dengan harapan suatu hari kalo urusan ini selesai, saya akan kembali lagi. Akhirnya pemirsa.. saya benar-benar hidup seperti “orang gua”. Ndekem terus di rumah selama dua bulanan. Telpon diputus oleh saya, TV mati, keluar rumah hanya klo mo makan doang. Termasuk hubungan dengan keluarga di Jakarta juga.. putus. Untuk saat itu saya juga gak mau disuruh-suruh ama ibu saya (maapin Dodi ya Ma.. I love You). Saat itu kebetulan saya juga ada barengannya yang kebetulan satu pembimbing. Namanya Dody Suria Wijaya. Disingkat Dody SW. Hmm.. di manakah gerangan kau sobat sekarang ini? Terakhir kali saya dengar engkau ada di Australia. Sekarang di mana? Kangen pisan abis-abisan. Suerr!!! (Btw saat itu masih juga ada yang mengkritik saat saya gak nongol2 di acara partai dengan mengatakan bahwa “ada yang lagi sibuk”. Percayalah.. saat itu saya memang sedang sibuk dan bukannya molor di rumah). Lanjut ke kisah.. dalam mengerjakan skripsi saya banyak dibantu dalam hal technical writing-nya oleh Dody SW ini. Makanya saya merasa benar-benar deh.. utang budi pada orang satu ini. Mirip Pak Kiki Maulana Adhinugraha (KMA) kalo saya bilang orangnya. Bila saya harus bertemu dengan orang lain, selain pembimbing saya, mungkin Dody SW inilah orangnya. Juga dengan pacarnya dia saat itu yang sekarang sudah menjadi istrinya. Saat-saat yang paling berkesan mungkin bagi saya adalah pas.. satu hari menjelang sidang skripsi. Saya ingat banget saya harus membawa semua perangkat yang saya butuhkan ke kosan Dody SW ini lantaran saya tidak mau ambil resiko dengan memakai perangkat di lab yang.. biasanya.. ada aja yang rusak. Baju sidang dan sebagainya juga saya bawa ke kosannya lantaran kosannya tuh lebih dekat ke kampus. Untuk masalah waktu pun saya gak mau ambil resiko. Saya ingat sekali sampai lewat tengah malam, sekitar jam dua-an pagi saya beserta Dody SW ini masih sibuk ngurusin copy-copy berkas yanig sekiranya diperlukan. Lantaran kami saat itu tidak tau apakah kami akan mendapat fasilitas proyektor.. ato OHP doank. Kami tidak mau ambil resiko sehingga kami pun menyiapkan slide transparan kalo2 saat itu kami ternyata harus pake OHP. Malam hampir pagi. Seingat saya hari itu hari Jumat. Dody SW saya lihat masih sholat Tahajud. Senang sekali saat itu saya bersama orang ini. Saya klo gak salah jadi ikut-ikut sholat tahajud padahal tadinya udah mo tidur aja. Capek banget bo! Paginya.. kami dandan keren banget menurut saya saat itu. Mirip pas saya dateng ke pernikahannya Ibu Kusuma Ayu Laksitowening (KAL) kali ya. Benar-benar keren, lebih keren dari yang nikah saat itu kaleee.. Kami bangga banget sepertinya saat itu. Apalagi.. ada yang ngasih semangat yaitu pacarnya si Dody SW saat itu. Wess.. rasanya tuh.. kayaknya kali ini perang akan kami menangkan. Begitulah rasanya. Tidak lupa saat itu saya seingat saya, pacarnya Dody SW ini menuliskan do’a berbahasa arab yang perlu kami baca di secarik kertas. Moga-moga apa yang kami usahakan berkah. Begitulah. Sidang kami lakukan. Begitu selesai sidang rasanya tuh, badan capek sekali. Bahkan saking capeknya ngangkat komputer pun hampir kayak gak kuat gitu. Malamnya benar-benar tidur.. pulas. Besoknya saya datang lagi ke pengajian. Kuatir karena sudah terlalu lama tidak hadir. Ngaji saat itu pun materinya berubah jadi ringan. Mungkin karena saat itu saya jadi “orang baru” lagi kali ya. Selesai saya ngaji, sebenarnya ada peristiwa yang sedikit saya sesalkan dan menjadi suatu yang agak menyakitkan mungkin ya bagi teman saya dan juga saya saat itu. Mungkin saking mereka senangnya bertemu saya, ada salah seorang rekan yang mengajak saya untuk makan-makan atas kelulusan saya. Percayalah pren.. kalian saat itu benar-benar dipentingkan benar-benar oleh saya. Karena apa? Karena bahkan.. ibu saya pun.. belum saya kasi tau kalo saat itu saya udah lulus sidang. Anda-Andalah saat itu yang saya beritahu pertama kali karena saya kuatir kalo Anda-Anda kuatir tentang saya. Itulah mengapa saya saat itu berkata bahwa setelah ngaji, saya menginginkan untuk langsung pulang ke Jakarta karena saya.. benar-benar.. amat rindu sekali.. pada ibu saya. Namun karena teman sepengajian ada yang terus memaksa.. akhirnya keluarlah kata-kata saya yang mungkin saat itu agak kasar. Itu pun direkam oleh Bos saya dan mencuat pula pada konflik beberapa bulan kemudian. Yang saya sesalkan.. ya itu tadi. Seperti tidak mau mendengar apa yang semula saya jelaskan padahal saya sudah berusaha untuk mencoba mengerti.. tapi.. masih saja selalu.. salah..
Tags: Dody Suria Wijaya, Dody SW, Jakarta, Sidang Skripsi
Posted in Harianku | 1 Comment »