August 6th, 2009
Ini terjadi saat fakultas tempat saya bekerja, dulunya masih berstatus sebagai departemen. Saat-saat di mana sedang dilakukan pindahan gedung, agar segala sesuatunya lebih bisa dikoordinasikan (tentunya termasuk barang2 laboratorium). Seperti yang sudah sempat saya katakan pada artikel2 saya sebelumnya, walau semuanya seakan sudah dikoordinasikan, namun dari sisi manajerial terkesan tetap saja masih kurang terkoordinasi. Padahal juga pernah.. sempat turun dana untuk digunakan sebagai modal pelaksanaan program2. Cumaaa.. ya itu tadi, karena terkesan kurang terkoordinasi, makanya ada sebagian program yang mandeg, meski.. dananya sudah turun. (Saya pribadi klo denger hal semacam ini, kayaknya kok mubazir juga ya klo sampe dana dah turun tapi programnya mandeg. Klo boleh saya minjem tuh duit, rasanya mo saya pinjem dulu aja buat saya pake untuk keperluan yng lain. Agar jangan sampe inflasi gtu ganti rogerrr. Kan orang2 di negeri impian paling pandai bikin inflasi. Duit dikumpulin se-banyak2 nya, namun gak usah di-pake2. Dijadiin isi sarung bantal ato dipake mandi kali ya. Kalo di Indonesia Raya Merdekahhh Merdekahhh gak gtu lah yaw. Orang2 nya sangat produktif makanya yang namanya inflasi tuh relatif gak pernah terjadi. Tul kan pemirsa?). Suatu kali diadakan rapat yang membahas berbagai masalah yang terjadi, termasuk masalah yang berkaitan dengan laboratorium. Saat itu, saya juga belum menjabat sebagai kepala laboratorium. Masih belum jabat apa2 deh pokoknya. Jadi kalo dari artikel yang saya tulis tempoe doeloe, laboratorium jaringan komputer, keadaannya masih kayak gudang ketimbang laboratorium. Nah di sela2 rapat ada pertanyaan kurang lebihnya begini.. ”Kenapa ya orang2 di laboratorium terutama laboratorium jaringan komputer susah sekali ya dikoordinasikan para asistennya?” Ya.. sebenernya kurang lebihnya udah pernah saya coba carikan solusinya dengan mengadakan pelatihan berupa simulasi kerjasama. Cuma.. lantaran malah timbul problem yang macem2. Yahhh.. sudahlahhh.. Daripada berbuat baik tapi malahan terfitnah macem2, mendingan diem aja. Termasuk diem dalam berkomentar tatkala ada pertanyaan semacam itu. Soalnya.. bilapun saya mesti jawab.. juga percuma aja seh. Kayak ngomong sama tembok. Daripada capek. Capek duech!!!
Tags: Fitnah, Gudang, Laboratorium Jaringan Komputer, Simulasi Kerjasama
Posted in Harianku | No Comments »
August 5th, 2009
Suatu saat salah seorang rekan saya melanjutkan pendidikannya di S2. Akhirnya, saya pun sempat menggantikannya sebagai Kepala Laboratorium Perangkat Keras sebelum masa jabatannya berakhir. Selama saya menjabat, yang saya perhatikan tuh, sebenernya bukan karena laboratorium itu kesulitan berkembang. Namun lantaran secara manajemen, terlebih lagi manajemen karakter dari para asistennya tuh, agak2 sulit. Mungkin tipikal orang riset emang kayak gtu kali ya, lebih senang berinteraksi dengan benda mati ketimbang benda hidup, jadinya sulit sekali memanajemen.. terutama memanajemen terkait dengan knowledge ato pengetahuan yang dimiliki masing2 asisten. Sebenernya saya yakin yang namanya dana pengembangan lab tuh ada. Cuma.. ini cuma na. Biasanya dananya tuh lama banget turunnya. Ato cuma kebetulan kali ya. Cuma kebetulannya sering banget gicu loh. Sewaktu ada program baru yang dinamakan program PDI alias “penelitian dana internal”, saya menganggap ini sebagai kesempatan untuk membiayai sebagian keperluan lab. Yang saya inginkan saat itu adalah biaya training untuk para asisten. Namun bukan training terkait skill. Melainkan, training menyangkut personalitas terutama dalam hal “bekerjasama”. Itulah sebabnya model training yang saya pilih adalah outbound. Saya mengajak sekitar 3 orang saat itu dalam tim saya, sebagai anggota. Saya pun sudah menjelaskan mengenai “duduk perkara” sehingga diharapkan dengan penjelasan saya, mereka maklum bila kebagian “jatah” yang tidak sebesar yang seharusnya. Karena sebagiannya lagi rencananya akan saya gunakan untuk membiayai pelatihan outbound tersebut. Kebetulan juga saya sudah merencanakan event organiser mana yang akan jadi penyelenggara sehingga masalah pembiayaan pelatihan outbound itu bisa ditekan seminimal mungkin. Setelah saya menganggap semua oke. Tibalah saatnya mengadakan laporan antara untuk program PDI tersebut. Pada saat membuat laporan antara, saya merasa terjadi “insiden besar” menurut saya. Kenapa insiden besar? Karena saya merasa dikhianati.. oleh rekan saya sendiri (rekan seperjuangan gicu loh, jadi inget saat saya di organisasi impian jadinya). Tatkala saya menjelaskan mengenai “duduk perkara” sebelumnya, saya merasa rekan saya setuju dengan mengatakan “bagus-bagus”. Saya kira penjelasan saya sudah bisa ditangkap dengan baik. Namun.. ternyata, saat ada kewajiban menandatangani laporan antara, ia tidak mau menandatangani berita acara untuk laporan antara tersebut lantaran.. “jatah”-nya ia rasakan kurang. Akibatnya saya tuh kalo boleh dibilang “kerepotan luar biasa”. Belon lagi ada hacker o’on yang membuat imel saya yang berisi perdebatan antara saya dengan rekan saya tersebut.. bocor di milis sehingga tersebarlah go-sip yang bukan2 mengenai diri saya. Keren kan pemirsa? Untung saya punya rencana kedua meski tatkala menjalankannya saya tuh mesti kerepotan luar biasa. Tapi yang penting.. sekarang saya bisa tau setidaknya, ada orang yang tatkala ia berbicara, saya benar2 harus ekstra hati2 dalam mendefinisikannya. “Bagus-bagus” itu belumlah berarti menyetujui. Malah bisa jadi itu berarti penolakan. Sebenarnya ini akan “tidak bermasalah” manakala rekan saya mengatakan saja dengan kata “enggak”. Tokh insya Alloh saya juga tidak akan sakit hati. Dan tentunya kasus yang membuat saya sempat “kerepotan luar biasa” itu tak perlu terjadi. Ato mungkin yang begitu kali yang bener ya pemirsa. Saking pinternya sampe omongannya sendiri gak bisa dipegang. Dan lebih kerennya lagi adalah.. ama rekan sendiri diarahkannya.
NB: Bila orang bisa ”nyelekit”, bolehlah saya untuk ”menjelaskan”. (Bahkan meski orang melulu ”nyelekit”). Bila orang bisa ”merepotkan” saya, bolehlah saya untuk ”menjelaskan”. (Bahkan meski orang melulu ”merepotkan”). Saya rasa ini cukup adil. Bahkan sangat wajar sekali bila saya menempatkan diri pada posisi.. ”menjelaskan”
Tags: Event Organiser, Go-sip, Kerjasama, Manajemen Pengetahuan, Nyelekit, Outbound
Posted in Harianku | No Comments »
August 4th, 2009
Pernah gak nemuin kasus seperti ini. Suatu tim terdiri dari orang yang tergolong agresif alias extrovet.. sedangkan lainnya.. pendiem alias introvet. Ato yang lainnya lagi.. pernah nemuin gak suatu keluarga yang istrinya udah cerewet, keras kepala, gak mau ngalah.. sedangkan yang jadi suaminya memiliki sifat yang merupakan kebalikannya. Sebenernya kalo dari para anggota dalam komunitas tersebut tidak menganggap ada masalah dari bentuk hubungan seperti itu.. bahkan hasilnya malahan menghasilkan tingkat produktifitas yang tinggi.. maka itu berarti telah terjadi “kecocokan” di antara para anggota tim tersebut. Lebih jauh lagi, masing2 karakter yang berada di dalam tim tersebut diharapkan tidak mengubah karakter yang sudah ada, sebab.. “mapping” na sudah ter-plot dengan komposisi yang dapat dikatakan.. “pas”. Nah.. untuk menemukan “kecocokan” tersebut, tidak semua orang dapat melakukannya dengan “cepat”. Akibatnya perlu banyak pengorbanan baik dari sisi materi maupun waktu untuk menemukan “kecocokan” yang diharapkan. Tentunya akan baik sekali bila kita bisa menemukan “kecocokan” tersebut dengan efektif dan efesien. Salah satu tool ato “perangkat” yang bisa kita gunakan adalah outbound. Dengan outbound ini diharapkan.. selama proses berlangsung.. dapat men-”simulasi”-kan masing2 karakter dari para anggotanya dengan berbagai bentuk model permainan yang mana bentuk2 tersebut sesungguhnya adalah representasi bentuk2 “simulasi kerjasama suatu tim”. Entah mengapa saya sering merasa terkadang orang salah kaprah mengenai bagaimana melaksanakan outbound ini walau.. tidak sepenuhnya salah. Kebanyakan orang melakukannya dalam rangka senang2 ato sebagai hiburan saja. It is okay bila tujuannya senang2 namun kekuatiran saya pada apa yang akan terjadi, pada akhirnya tidak menghasilkan hasil “mapping” yang optimal (lebih jauh lagi buang2 duit dan tenaga). Sebab ke-khas-an karakter yang diharapkan muncul selama proses simulasi kerjasama berlangsung, malahan tidak muncul sama sekali lantaran semua peserta melakukan proses simulasi kerjasama dengan tidak serius. Hasilnya.. pada akhirnya setelah kembali ke tempat kerja.. kembali muncul permasalahan2 yang.. mereka sendiri menganggap ini masalah.. tapi gak tau sumbernya dari mana ya? Ya itu tadi seperti yang saya katakan.. lantaran “mapping” nya.. komposisinya masih belum pas. Sebab karakter yang seharusnya muncul selama proses simulasi kerjasama.. namun tidak muncul. Akibat dari tidak seriusnya para peserta outbound melaksanakan simulasi kerjasama tersebut, selama outbound berlangsung. Beberapa hal agar outbound yang dilaksanakan dapat menghasilkan hasil yang optimal. Diantaranya adalah..
Interview. Ini perlu dilakukan menurut saya untuk mendapatkan gambaran profil dari peserta outbound. Jangan sampe nantinya permainan super keras diterapkan kepada orang yang punya penyakit tertentu misalnya. Wah.. berabe bisa2. Selain itu juga agar instruktur tidak terkaget-kaget di lapangan manakala karakter asli dari peserta muncul, sedangkan karakter itu belum tentu disenangi oleh sang instruktur misalnya. Jadi udah ada semacam defend dulu agar gak terkaget-kaget (termasuk solusi bagaimana menanganinya).
Variasi permainan. Ini juga penting dan mesti disesuaikan dengan kondisi dan budget. (Bukan berarti simulasi kerjasama ini tidak bisa dimainkan di dalam ruangan loh pemirsa). Semakin pandai seorang instruktur merancang suatu permainan, yang dapat mensimulasikan kerjasama antar anggota tim, semakin besar kemungkinan keberhasilan dari outbound tersebut.
Keseriusan dan kesiapan peserta. Bila segala-galanya sudah bagus namun pesertanya tidak serius atau tidak siap, yang ada bisa2 hanya akan buang2 waktu dan tenaga saja.
Komunikasi. Saat outbound berlangsung, harapannya karakter yang biasa digunakan para peserta selama di tempat kerja, karakter itulah yang digunakan. Nantinya bisa jadi akan timbul konflik dan bisa jadi masalah dalam komunikasi. Nah.. ini akan menarik bila masih bisa dilakukan kompromi dari hasil komunikasi yang berlangsung.
Btw, bila dari hasil kompromi yang terjadi tidak mendapatkan hasil yang benar2 produktif, maka bisa jadi ada (satu atau lebih) karakter yang boleh dibilang kurang cocok untuk ditempatkan dalam tim. Untuk itulah perlu dilakukan perubahan karakter. Misal, yang tadinya pemarah harus dikurangi marah nya. Yang pendiam harus diajak atau diberi peluang untuk bisa mengungkapkan apa yang dianggapnya baik untuk tim. Dan bila terjadi perubahan berupa peningkatan produktifitas tim tersebut dari yang semula tidak produktif atau kurang produktif, maka karakter baru itulah yang ”stelan”-nya perlu digunakan dalam lingkungan kerja sehari-hari. Karena ”mapping” na boleh dikatakan udah ”pas”. Namun bila dianggap ada pemarah dan ada pendiam tapi tetap dianggap produktif. Malah justru sarannya adalah.. peliharalah sifat marah dari pemarah dan sifat pendiam dari si pendiam karena “mapping” nya udah pas. Aneh kan? Tapi ajaib, begitulah sarannya.
Gimana bila ternyata tidak berhasil pula dilakukan kompromi dari usaha untuk merubah karakter yang ada di dalam tim (yang mengakibatkan kurangnya produktifitas dalam tim)? Nah ini yang mesti dilakukan menurut saya. Personil yang memiliki karakter yang kurang cocok dalam tim tersebut lantaran tidak ditemukannya ”mapping” yang pas, mungkin bisa ditempatkan di tim yang lain yang lebih cocok untuknya (selain kemudian bisa di-training pelan2 agar karakternya bisa berubah ke arah yang diharapkan. Btw perusahaan sekelas General Electric melakukan hal itu kepada para karyawannya). Menurut saya seh seperti itu. Tapi terlepas dari suka atau tidak suka dari keputusan yang diambil, harapannya ke depan akan memberi keseimbangan dalam tim di kemudian harinya. Mungkin gak ada yang salah dan gak ada yang bener dari hasil keputusan tersebut. Seperti tidak ada yang salah tatkala ada istri cerewet dengan suami pendiam. Intinya bagaimana menemukan ”mapping” yang pas untuk tim. Cara yang berat dan mahal memang. Namun di luar negeri ini dianggap efektif ketimbang sekedar melakukan assessment. Assessment memang cara yang murah menurut saya. Namun boleh dibilang tidak.. atau setidak-tidaknya.. kurang adil. Coba pikir baik2. Istri cerewet dan suami pendiam tapi produktif. Istri oke dan suami oke namun gak produktif. Apa yang salah dari sebuah assessment? Namun assessment ini boleh dibilang masih bisa dipake, bahkan kepake banget daripada.. ribet! Orang di negeri impian kan sukanya yang gak ribet2. Sukanya yang murah2. Kalo perlu yang gratis2. Tul kan pemirsa?
Tags: Karakter, Kecocokan, Mapping, Outbound, Simulasi Kerjasama
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
July 29th, 2009
Bila saya katakan “Pokoknya bila ada SK (Surat Keputusan), tidak selalu berarti ada bayarannya (akibat adanya “kerja” sesuai penunjukkan SK tersebut)”. Klo saya membaca hal itu dalam satu kalimat.. (yang mungkin bagi sebagian orang bisa jadi “kepanjangan” kali ya..) saya bisa mengerti bahwa.. walau pun seseorang yang bekerja dan mendapatkan SK atas pekerjaannya tersebut.. belum tentu juga bakalan dibayar lohhh.. Yang saya bingung tatkala ada orang yang mempertanyakan perkataan saya yang menggunakan kata-kata “Pokoknya”. Jadi kalimat saya yang panjang satu kalimat itu dipenggal di awalan saja. Sebenernya agak2 jengkel dengan hal itu tapi.. mungkin kebiasaan orang dalam “berbahasa” alias berkomunikasi beda2 kali ya. Ada yang menafsirkan atau mempersepsikan per satu kata. Ada yang menafsirkan atau mempersepsikan apa adanya sesuai kalimat yang dikeluarkan.
Tags: Komunikasi, Persepsi
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
July 16th, 2009
Semenjak saya dapet PC Acer Aspire X3200, hati saya boleh dibilang seneng juga. Btw pada akhirnya PC tersebut saya perlakukan kayak “setengah server” meski itu adalah untuk PC client. Maklum highend banget seh. Itulah sebabnya saat saya cuti ke Jakarta pun, ne komputer udah saya niatkan dalem hati untuk dihidupin terus. Kalo perlu.. ne komputer bakalan saya idupin 365 X 7 X 24. Jadi gak sia2 gtuh saya punya komputer mahal2. Tapiii.. pas saya balik dari Jakarta ke Bandung, pas saya masuk ruang kerja saya.. ne komputer udah dalam keadaan mati pemirsa. Wess.. ya sudahlah. Mungkin yang beres2 gak tau seberapa pentingnya ne komputer untuk menyala terus. Ya pada akhirnya saya tempelin aja pesan di monitor komputer yang tulisannya “Komputer Jangan Dimatikan!!!”
Tags: Bandung, Jakarta, Komputer, PC
Posted in Harianku | 1 Comment »
July 13th, 2009
Saya sempat melihat tempat makan yang ada free hotspot-nya pas hari pertama. Maka saya pun berencana sehabis usai mengurus semua keperluan surat keterangan pindah di hari kedua liburan saya, untuk ber-wisata kulinet di tempat itu. Tepatnya itu adalah tempat jualan bakmi. Lokasinya deket perempatan Margonda. Alhamdulillah ternyata.. saya bisa nge-net di situ tanpa perlu pake prasyarat mesti belanja 25 ribu segala. Cukup belanja makan minum seperlunya, dan setelah itu saya bisa nge-net sepuasnya. Hmm.. beruntunglah di hari kedua liburan ini, saya sukses ber-wisata kulinet di Depok.
Tags: Bakmi, Depok, Margonda, Wisata Kulinet
Posted in Harianku | No Comments »
July 13th, 2009
Sewaktu saya hendak mengurus surat keterangan pindah dari RT/RW, ada kejadian yang.. gimana ya nyebutnya? Gak menarik seh. Tapi kayaknya mesti saya ceritakan. Saya sempet ngobrol dengan ketua RT yang lama yang sudah tidak menjabat sebagai ketua RT lagi. Dan saya diberi petunjuk bahwa yang menjabat sebagai ketua RT trus ketua RW yang baru tuh si Anu dan si Una. Tapi saya disarankan pertama kali ke rumah wakil ketua RT aja dulu. Ya wess.. saya pun ke rumah wakil ketua RT dulu. Saya tuh di depan rumahnya sempet bediri lumayan lama pemirsa. Masalahnya saat saya memberi salam di depan rumah, yang ada kayak gak dijawab gtuh. Sampe capek nunggunya. Pas dijawab.. apa yang terjadi? Keluar seorang laki2 yang hanya mengenakan celana pendek saja, gak pake baju ama celana panjang seperti kalo saya sedang menghadapi tamu. Sambil terkesan petantang petenteng.. bertanya kepada saya ”Ada apa?”. Asli deh pemirsa saya sempet bengong ngeliatnya. Saya nge-batin ”Ne orang beneran wakil ketua RT?”. Ya wajarlah saya nanya kayak gtu. Soale kayak wakil ketua RT yang tinggal di hutan belantara.. alias Tarzan kali ya.
Saya jadi teringat cerita guru agama saya pas saya lagi masih sekolah di SMP dulu. Klo jaman dulu, yang disebut-sebut sebagai ketua RT, ketua RW, Lurah.. itu bener2 pilihan warga. Ibarat warga terbaik yang dipilih dan memikul tanggung jawab bener2 untuk melayani masyarakat sekitarnya. Itulah sebabnya mereka tuh ibarat raja2 kecil, walau mereka bukan raja. Tatkala ada pedagang rantau datang berdagang ke wilayah itu, mereka sering terpukau pada sopan santun sang raja kecil. Sehingga tidak heran bila banyak dari mereka menginginkan anak-anak wanitanya dinikahkan dengan sang raja kecil. Bgitu deh ceritanya. Kira2 sekarang masih ada gak ya kejadian kayak raja2 kecil tempoe doeloe? Mungkin yang ada artis kali ya. Maksudnya artis yang main film tarzan, trus kebetulan jadi wakil ketua RT pula.
Tags: Ketua RT, Raja Kecil, Tarzan
Posted in Harianku | Comments Off
July 13th, 2009
Selain liburan, saya juga punya urusan lain. Tepatnya urusan yang sifatnya administratif. Yaitu mengurus KTP di Bandung. Cuma untuk ngurus KTP di Bandung tersebut butuh yang namanya ”surat keterangan pindah”. Ya wess.. jadilah saya ngurus surat keterangan pindah tersebut. Dulu saya sempet tinggal di Depok, maka saya pun mengurus surat keterangan pindah tersebut di Depok. Namun ternyata pengurusannya tidak dapat saya selesaikan dalam satu hari. Sebab ada hal2 yang diperlukan untuk melengkapinya, sedangkan jadwal pengurusan selesai sekitar jam 14 WIB. Kebetulan itu adalah untuk mengurus SKCK untuk surat pindah. Jam 14 menurut saya adalah waktu yang tanggung banget untuk pulang ke rumah. Pasalnya di rumah ibu saya tuh, bisa2 saya gak ngapa2 in pula. Panas pula lagi udaranya. Mungkin lantaran saya udah kelamaan di Bandung kali ya, gak nyadar kalo Bandung tuh gak sepanas Jakarta. Ya wess.. akhirnya saya memutuskan jalan2 dulu sebelum pulang ke rumah ibu. Saya merencanakan di hari pertama liburan di Jakarta, selain untuk mengurus keperluan surat keterangan pindah, adalah melakukan wisata kulinet. Maksud wisata kulinet adalah.. nyari tempat makan yang ada free hotspot-nya. Masalah makanannya enak apa enggak mah, bukan urutan pertama. Yang penting saya bisa nge-net. Sewaktu saya berada di kantor polisi, saya tanya di mana tempat yang ada free hotspot-nya. Pak polisi menjelaskan bahwa di suatu gedung yang baru, tepatnya di seberang Detos 21, Margonda.. ada free hotspot-nya. Jadilah setelah selesai dari kantor polisi, saya pergi ke tempat itu. Alhasil di sana dijelaskan bahwa free hotspot letaknya di Food Court, lantai 2. Kalo makan dengan batasan 25 ribu rupiah, maka bukti pembayarannya bisa ditukarkan untuk mendapatkan password untuk mengakses hotspot. Pertama sempet kebingungan juga saya tuh pemirsa. Pasalnya saya datang ke sana seorang diri. Trus harga makanan dan minumanya kalo di-jumlah2 in tuh.. masih kurang dari 25 ribu. Ya wess.. saya akal2 in aja dengan beli porsi ukuran 1.5, trus minumnya juga yang pake gelas gede. Tapi.. pas selesai membayar.. dan tatkala saya hendak menukarkan bukti pembayarannya untuk mendapatkan akses hotspot.. kasirnya bilang kalo password-nya udah abis dibagi-in dan saya gak kedapetan jatah nge-net. [Manyun mode]. Sebel pisan saya mengalami kejadian itu. Kok bisa seh gedong segede ini tapi ada kejadian kehabisan jatah password untuk nge-net. Jadinya kan.. saya tidak mendapatkan reward yang seharusnya menjadi hak saya saat itu. Saya langsung nge-batin, ne masuk gedong gede kayak gini, keluar2 yang ada bisa jadi miskin.. plus gendut pula. Gak ada bagus2 nya. Ya wesslah.. rencananya saya gak mo ke sana klo jalan2. Gak ada yang bisa menarik minat saya untuk ke sana soalnya. Cari tempat lain aja deh yang gak bakalan ngalamin kehabisan password untuk nge-net.
Tags: Bandung, Depok, Free Hotspot, Jakarta, Margonda, Pak Polisi, Wisata Kulinet
Posted in Harianku | No Comments »
July 12th, 2009
Biasanya, di akhir pengajaran di institusi, diadakan liburan bareng di kantor. Seperti yang pernah saya ungkapkan ke pemirsa di artikel sebelum ini, saya tuh agak2 bete klo ada acara liburan bareng lantaran.. kayak orang sibuk bengong sendirian gak ada yang nemenin. Akhirnya saya pas liburan bareng tersebut memutuskan gak ikutan. Jatah pun ilang. Tapi pikiranku, biarin aja ah. Yang penting pada akhirnya saya punya jadwal cukup panjang untuk ke Jakarta. Tokh di Jakarta saya masih bisa liburan dengan cara saya sendiri. Yang penting jangan sampai keponakan saya lupa kalo dia tuh punya paman seperti saya. Betul kan pemirsa?
Tags: Jakarta, Keponakan, Liburan Bareng
Posted in Harianku | Comments Off
July 12th, 2009
Ini terjadi pas saya beli tas traveling di Cibaduyut. Kebetulan ada pemilik toko tas tersebut. Ibu2 yang kebetulan membawa anaknya yang masih kecil banget. Itu anak lucu banget ya menurut saya. Jadi agak2 gemes sama anaknya. Lagi ngobrol2 gtu sama si ibu pemilik toko, ibu2 itu nanya ke saya ”Emang di rumah gak ada anak kecil”. Saya jawab ”Gak ada”. Tapi saya tuh bener2 lupa dalam arti, klo di rumah saya seh emang gak ada anak kecil. Tapi klo di rumah ibu saya yang di Jakarta, bukankah saya punya keponakan yang masih kecil? Asli deh pemirsa, saya jawab ”Gak” kayak gtu lantaran saya benar2 lupa klo saya tuh udah punya keponakan. Baru nyadar pas sampe rumah. Hmmhh.. gawat neh pikir saya. Klo pamannya aja udah lupa, apalagi yang jadi keponakan. Akhirnya saya berpikir gimana ya, bila pun saya jarang ketemu keponakan saya yang masih kecil ini, agar keponakan saya gak lupa sama saya. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Cibaduyut lagi. Pertama untuk minta maaf sama si ibu penjual tas lantaran takut2 klo ada jawaban saya yang salah, lainnya lagi saya mo beli boneka anjing yang besar yang kebetulan banyak dijual di sana untuk keponakan saya. Bgitulah.. semula saya gak kepikiran juga untuk ke Jakarta. Tapi lantaran takut keponakan saya lupa sama saya, akhirnya saya memutuskan ke Jakarta.. agar bisa bertemu barang beberapa hari dengan keponakan saya tersebut. Kebetulan juga jadwal pengajaran di institusi sudah selesai.
Tags: Boneka Anjing, Cibaduyut, Jakarta, Keponakan
Posted in Harianku | No Comments »