Archive for the ‘Ilmu-Hikmah-Cahaya’ Category
Monday, April 5th, 2010
Pernahkah pemirsa melakukan assessment? Pernah pulakah pemirsa melakukan audit? Ada yang menarik seputar assessment dan audit yang pernah saya perbincangkan dengan salah seorang rekan saya. Ada suatu kursus profesional yang mengacu pada standarisasi tertentu.. dan standarisasi tersebut biasa digunakan sebagai analisis dalam membuat cetak biru suatu Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI). Namun lantaran poin2 standarisasinya sangat banyak sekali, akhirnya jatoh2 nya sering digunakan sebagai alat untuk audit. Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI) semacam ini menurut saya lebih dekat kepada “gap analysis”. Walau menurut saya terdapat juga Perencanaan Strategis Sistem Informasi (PSSI) yang tidak menggunakan gap analysis dalam pencatatan cetak biru atau blue print-nya, namun Perancanaan Strategis Sistem Informasi semacam ini sangatlah “laku” di negeri impian. Maklum aja “diimpor” oleh bandrolan bersertifikasi tertentu. Nah tatkala audit dilakukan, terdapat hal2 yang perlu diperhatikan oleh seorang auditor, agar jangan sampai auditor terjebak pada suatu assessment. Misalkan sang auditor telah mencatatkan 10 poin aturan yang harus dipenuhi.. dan ia melakukan audit misalkan terhadap 5 unit, sedangkan dari 10 poin hanya poin yang nomor satu saja yang tidak bisa dipenuhi oleh semua unit yang sedang diaudit tersebut, sedangkan poin2 yang lain pada dasarnya.. ada.. sekurang-kurangnya 1 dari 5 unit yang diaudit, memenuhinya.. maka bisa jadi justru aturan poin nomor satu itulah yang mesti di analisa. Jadi tidak saklek bahwa.. mentang2 poin nomor satu tidak ada yang sanggup memenuhinya dari 5 unit yang diaudit, maka berarti kelima-lima unit itu “bersalah” semua. Malah untuk teknik audit yang benar, bisa jadi poin nomor satu dari salinan standar aturan tersebut yang bisa jadì “salah”.. setidaknya untuk kondisi “saat itu”. Beda dengan assessment.. ia hanya melakukan pengambilan data dari salinan aturan standar yang ada tanpa perlu lagi “mempertimbangkan” apakah.. poin2 yang dijadikan standar dalam assessment tersebut apakah “layak” atau tidak layak untuk dijadikan standar aturan. Nah.. orang2 di negeri impian.. yang saya perhatikan.. suka kebolak-balik tatkala melakukan audit dengan assessment. Yang dikatakan sedang melakukan audit.. menurut saya, ia sebenarnya sedang melakukan assessment.. dan bukan sedang melakukan audit. Pada audit, ada gap analysis yang dianalisa apakah sampai pada jenjang tertentu, suatu unit AKAN BISA mencapai standar sesuai yang diharapkan atau tidak.
Tags: Assessment, Audit, Blue Print, Cetak Biru, Gap Analysis, Perencanaan Strategis Sistem Informasi
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Monday, April 5th, 2010
Sering orang menyangka manakala setiap orang mengikuti prosedur yang sudah ada, segala sesuatunya akan baik2 saja. Namun orang sering lupa bahwa prosedur pun bisa jadi memiliki suatu kelemahan. Maklum prosedur adalah buatan manusia. Manusia adalah mahluk yang kemampuannya seusai dengan harkat kemanusiaannya. Sehingga bila ternyata ada prosedur yang memiliki.. sebutlah suatu “bugs”, dan orang justru mengikuti prosedur yang secara kebetulan mengikuti aturan yang memiliki “bugs” tersebut, maka keadaanya malah akan menjadi berantakan.
Kisah ini benar2 terjadi manakala saya mengikuti kursus Bahasa Inggris dengan beberapa orang rekan saya sesama dosen di institusi tempat saya bekerja. Saat itu sedang liburan akademik, pihak institusi mengadakan program berupa kursus singkat Bahasa Inggris buat para dosen dengan cara memanggil guru pengajar Bahasa Inggris. Dosen2 dikelompokkan jadi beberapa kelas dan masing2 kelas memiliki ketua kelompok kursus. Pengajarnya kebetulan seorang gadis yang masih muda dan kayaknya semangat banget dalam mengajar Bahasa Inggris. Bener2 profesional untuk bidangnya menurut saya. Bagus seh klo kita diajar oleh orang yang kalo ngajar tuh semangat, begitu dalam pikiran saya. Suatu saat terdapat acara penting yang suka atau tidak suka menyita perhatian para dosen untuk mempersiapkan diri dalam rangka mengikuti acara tersebut. Kebetulan waktunya mepet sekali dengan hari untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris dan jadwal pengajaran kursus Bahasa Inggris saat itu pun tinggal dua pertemuan lagi. Saya yang merasa baik2 saja pas hari untuk pergi kursus, ya datenglah untuk kursus. Ketemu sama guru pengajar kursus Bahasa Inggrisnya untuk memulai pelajaran. Ternyata, yang kursus Bahasa Inggris saat itu cuma saya doank. Sedangkan rekan2 saya yang lain tidak ada satu pun yang hadir. Bener2 mirip kursus privat jadinya saat itu. Lalu saya bilang kepada guru Bahasa Inggris saat itu, agar sebaiknya pertemuan kursus yang terakhir, ditunda dulu saja sampai pekan depan mengingat saya kuatir tidak ada seorang pun yang datang di hari pertemuan terakhir lantaran terdapat acara penting saat itu di institusi yang waktunya mepet sekali dengan hari kursus Bahasa Inggris. Saya bilang pada si guru Bahasa Inggris supaya memberitahu apa yang saya sampaikan kepada ketua kelompok kursus. Namun si guru Bahasa Inggris keberatan dengan saran saya lantaran hal tersebut tidaklah sesuai prosedur (senyum2 mode), lagipula menurutnya, ia tidak mendapat pemberitahuan apa pun dari ketua kelompok kursus. Ya wess.. begitu selesai kursus Bahasa Inggris, besok2 nya saya temui ketua kelompok kursus dan menyarankan hal yang sama kepadanya seperti apa yang saya sarankan kepada si guru Bahasa Inggris. Apa tanggapan si ketua kelompok kursus? Tanggapannya adalah sama kurang lebihnya seperti tanggapan si guru Bahasa Inggris. Hal tersebut menyalahi prosedur. Sebab bila hal tersebut dilakukan, maka sebaiknya diberitahukan dulu ke semua peserta kursus. Supaya tidak berkesan “main ambil alih” mungkin maksudnya. Saya yang saat itu MERASA sudah melakukan hal yang menurut saya menjadi kewajiban saya, ya sudah.. tidak berberat hati terhadap hal yang sangat mungkin terjadi. Begitulah pemirsa, pas hari terakhir kursus tiba, tidak seorang pun yang hadir kecuali si guru Bahasa Inggris. Si guru Bahasa Inggris pun ngomel2 via sms ke saya. Untung gurunya cantik, jadi na saya masih bisa agak sabar nanggapin na
(Mohon maap lantaran ngomong gini maklum masih bujangan mode). Ya saya bilang kepada si guru Bahasa Inggris, bukankah kejadian tersebut sudah saya peringatkan sebelumnya, bahwa hal tersebut sangat mungkin sekali terjadi? Dan kemudian perihal si guru Bahasa Inggris yang ngomel2 lantaran gak ada peserta kursus yang hadir, saya kasih tau pula kepada si ketua kelompok kursus. Si ketua kelompok kursus hanya bisa merasa bersalah. Setelah itu.. menyesal (seperti penyesalan orang yang biasanya menyesal belakangan lantaran lengah). Apakah saat itu saya menyesal pemirsa? Jengkel seh iya. Tapi klo menyesal, insya Alloh saya sudah menyerahkan permasalahan kepada Yang Maha Kuasa setelah.. saya melakukan hal yang menurut saya memang perlu untuk saya lakukan..
Tags: Bahasa Inggris, Keblinger, Manusia, Prosedur
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Monday, April 5th, 2010
Klo para nasabah dari Century mau mengakui dari hati kecil mereka yang paling dalam, saya rasa mereka akan mau mengakui bahwasanya mereka turut bertanggungjawab atas kerugian yang mereka derita. Pasalnya banyak dari mereka menjadi nasabah lantaran tergiur keuntungan yang ditawarkan oleh pihak Century. Padahal seharusnya mereka sangat layak untuk curiga tatkala keuntungan yang ditawarkan terlampau tinggi ketimbang keuntungan yang ditawarkan oleh bank-bank yang lain. Yang keblinger lagi adalah.. setidaknya ada dua perusahaan BUMN yang juga menjadi nasabah Century. Yaitu PT. Telkom dan PT. Jamsostek. Trus lebih lucu lagi, menteri BUMN sendiri gak tau klo tuh dua BUMN menjadi nasabah Century. Parah kan pemirsa? Tapi ya begitulah keadaannya. Seperti yang sudah saya bilang, kebanyakan orang di negeri impian ini gak pandai matematika kali ya. Ingin untung cepet, asal modar di masa yang akan datang, peduli amat!
Tags: Century, Jamsostek, Matematika, Nasabah, Telkom
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Monday, April 5th, 2010
Mungkin pernyataan judul artikel ini keras kali ya. Tapi emang bener kan ya? Coba perhatikan.. dari 33 propinsi, hanya 4 propinsi yang menyerahkan denah tata kelolanya ke pemerintah pusat. Yang sisanya ngapain coba? Klo kata orang2 di negeri impian tuh.. asal punya duit buanyak, beli aja tanah sebanyak-banyaknya. Tokh gak ada yang ngatur kan? Sebenernya bukan lantaran gak ada yang ngatur, melainkan penyelenggara pemerintahannya yang gak bener menurut saya.
Tags: Otonomi Daerah, Tata Kelola
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Monday, April 5th, 2010
Baru2 ini saya dengar melalui suatu media massa bahwa daerah Lampung dijadikan semacam pilot project untuk memberdayakan masyarakat dalam menangani banjir bila musibah tersebut terjadi. Bagus seh menurut saya. Sepertinya.. maksudnya baik. Cuma menurut saya agak keblinger. Pasalnya, berkesan pemerintah, khusunya pemerintah daerah tuh melulu menuntut masyarakat menurut saya. Mengapa tidak mulai dari pemerintahnya dulu yang menerapkan tata kelola daerahnya secara baik. Baru kemudian klo masih juga terjadi bencana, barulah masyarakatnya diberdayakan. Lah wong tata kelolanya aja ngawur gak karuan, ya sudah pasti musibah kayak banjir bakalan jadi TRADISI. Lalu sampai batas mana kemampuan masyarakat melulu harus diberdayakan? Seharusnya bila mau agak adil, ya pemerintah ngasih insentif donk ke masyarakatnya. Jangan berkesan melulu menuntut.
Tags: Banjir, Keblinger, Lampung, Pemerintah Daerah, Pilot Project, Tata Kelola
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Saturday, March 27th, 2010
Saya sangat tidak berharap sekali bilamana saya menjadi orang yang bau2-nya SARA banget. Begitu juga harapan saya terhadap keturunan saya kelak di kemudian hari. Sebab menurut saya hal itu dapat membuat kebenaran menjadi bias. Padahal kebenaran sendiri datangnya bisa dari mana saja. Termasuk dari suku mana pun. Meski begitu saya tidak menampik dalam kehidupan saya, saya mengalami perlakuan yang bau2-nya agak2 mirip SARA tersebut. Gak usah jauh2 deh. Waktu saya kuliah di Depok, ada juga tuh rekan mahasiswa yang bau2-nya seperti membeda-bedakan antara yang Jakarta dan Non-Jakarta. Moga2 saya salah seh. Tapi setidaknya yang saya rasakan adalah demikian. Saya sendiri tidak berharap tatkala saya bekerja di institusi di mana sekarang saya berada, hal2 yang ber-bau2 SARA ini ada. Tapi sewaktu saya selesai mengajar kuliah tambahan hari ini, ada mahasiswa yang ngomong-nya kayak2 bau2 SARA gitu deh. Sekali lagi moga2 saya salah seh. Tapi setidaknya saya yakin benar bahwa “telinga” saya masih peka atas perkataan seseorang.
Klo boleh saya menjelaskan dari mana asal muasal saya. Saya sendiri memiliki ayah yang berasal dari Jawa Timur. Sedangkan ibu saya dari Yogyakarta. Sedangkan saya sendiri.. lahir di Jakarta. Jadi silakan tebak sendiri dari mana saya berasal.
Btw, ada yang saya suka dari sikapnya orang Jawa. Mungkin ini kali ya yang menyebabkan presiden di negeri impian ini selalu berasal dari orang Jawa. Yang pertama, hampir semua orang di negeri impian setuju terhadap hal yang pertama ini. Bahkan tatkala saya mendengar suatu ceramah agama pun, ustad yang berceramah juga setuju akan hal ini. Gambaran sikap orang Jawa tuh seperti huruf “O” yang biasa terdapat pada huruf vokal pada akhir nama orang Jawa. Orang Jawa bila sudah menginginkan sesuatu, selalu bulat tekadnya. “O”-nya penuh dan tidak setengah2.
Yang kedua, mungkin belum tentu semua orang setuju kali ya. Soale ini asalnya dari perasaan saya aja. Yang kedua adalah.. jarang sekali ada orang Jawa tulen.. yang kelakuannya kayak “anjing yang sedang menggonggong”.
Saya minta maaf bila ada yang tersinggung. Btw yang saya bicarakan ini adalah mengenai profil orang Jawa dari.. keseharian yang saya lihat. Tentunya saya masih bisa “melihat” dan juga “mendengar” donk ya. Karena itu adalah anugerah. Semoga maklum.
Tags: Depok, Jakarta, Presiden, Yogyakarta
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Saturday, February 20th, 2010
Kalo saya perhatikan berita TV yang menayangkan musibah terkait dengan banjir, saat masyarakat yang menjadi korban banjir diwawancarai, selalu pernyataannya kurang lebih.. “Banjir makin parah!”. Jadi bukan.. banjir semakin mendingan. Saya merasa.. sudah saatnya pejabat yang daerahnya dilanda banjir, untuk di-PTUN-kan alias diadili apakah mereka “sudah berusaha”.. setidaknya secara administratif untuk menanggulangi bahaya banjir ini di daerahnya masing2. Sebab kerugian yang dihasilkan demikian luar biasa. Mulai dari macet, rugi waktu. Banjirnya sendiri, entah rugi harta benda bahkan nyawa. Lalu hal2 yang terkait sampingannya seperti longsor, air tanah pecah alias tidak terkendali. Lalu pasca banjirnya. Entah itu muncul wabah seperti diare, DBD ato mungkin saja penyakit yang muncul akibat hewan2 yang sarangnya terkena banjir pada keluar semua, seperti wabah tikus dulu. Kerugiannya demikian dahsyat, namun dari waktu ke waktu bukannya mendingan, namun makin parah. Klo tindakan mengadili pejabat ke Pengadilan Tata Usaha Negara tidak juga.. “dimulai”.. saya rasa wajar saja kejadian semacam.. rebutan jadi pejabat.. merupakan hal yang lumrah. Ya jadi pejabat enak kok.. bisa “lepas tangan” atas apa yang seharusnya menjadi kewajibannya. Tatkala menuntut apa yang menjadi haknya, bisa menjadi hal.. yang nomor satu dilakukan. Bener kan pemirsa?
NB: Menurut tata kota seh.. rumah ibu saya harusnya persis depannya tuh.. jalan raya besar. Tapi sampe sekarang, yang namanya jalan tanah di depan rumah ibu saya, semenjak saya masih kecil hingga besar gini, tetep aja masih jalan tanah. Klo tata kota aja udah gak beres, kira-kira bisa gak ya masalah kayak banjir ini ditanggulangi? Kayaknya seh bisa. Kan di negeri impian, segala masalah bisa diatur asalkan ada “Do it”. Tul kan pemirsa? Itulah sebabnya, karena segala permasalahan dapat dengan mudah diatasi.. saatnya.. menaikkan pajak? [gak mudeng mode] (Ditulis 26 Juni 2009)
Tags: Banjir, Lepas Tangan, Pengadilan Tata Usaha Negara, PTUN, Rebutan Jadi Pejabat, Tata Kota
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Sunday, February 7th, 2010
Enaknya hidup di jaman sekarang tuh.. teknologi sudah demikian canggih. Orang bisa tau apa yang terjadi di tempat lain tanpa perlu beranjak dari tempatnya
Sama halnya seperti diri saya yang sempat menonton apa yang terjadi saat para anggota pansus DPR bekerja dalam menangani kasus Bank Century. Cuma klo saya ditanya anggota pansus mana yang saya tuh.. apresiasi.. pada pertanyaan2 yang diajukan.. Saya akan mengatakan bahwa saya sangat apresiasi sekali pada anggota pansus dari F-PKB. Menurut saya pertanyaan2 yang diajukan F-PKB ini sangat esensial dan memang layak untuk dijawab. Sebagai tambahan aja.. pernyataan saya ini adalah pernyataan yang insya Alloh independen yach. Saya sendiri tidak milih PKB maupun Demokrat kok pas pemilu kemaren. Itu ajahhh..
NB: Kenapa lagi saya mesti ngomong begini di artikel saya yach? Kerjaan sendiri aja gak kelar2 saya urusin seperti bikin “aturan” menyangkut “tata kelola” penggunaan laboratorium riset ;p Tapi sibuk ngurusin kerjaan orang lain.. [lol mode]
Tags: Bank Century, F-PKB, Pansus
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Thursday, January 21st, 2010
Ada virus jaringan dari Cina yang memalsukan MAC Address router / proxy sehingga seluruh komputer intranet yang terhubung ke internet melalui proxy akan terinfeksi virus. Komputer yang terinfeksi virus ini akan meneruskan akses router ini (transparent proxy) sambil “menitipkan” satu link download yang berisi virus. Sehingga mengakibatkan pengakses internet dalam jaringan akan mendapatkan kiriman virus setiap kali membuka browser baik IE, Firefox atau Safari sekalipun tetap mendapatkan kiriman virus. Akibatnya.. akses internet jadi nyala-idup-nyala-idup.. eh.. nyala-mati-nyala-mati! Dan yang bakalan jadi korban bisa.. “S-E-K-A-N-T-O-R” [lol mode].
WASPADA.. terhadap komputer yang tidak menggunakan antivirus. Misalkan merasa aman2 saja dengan memakai aplikasi seperti Deep Freeze. INGAT.. yang dikerjain adalah proxy dan trigger-nya adalah dari komputer yang tidak memasang atau pun meng-update antivirusnya.
Baru terdeteksi hari ini saat komputer saya cuma saya pasangkan Deep Freeze tanpa antivirus. Pas saya pasangin antivirus, tepatnya Avira, langsung terdeteksi.
Untungnya Linux tidak dapat mengeksekusi kode jahat tersebut sehingga PC Linux aman dari aktivitas virus tersebut. Namun secara jaringan, PC yang menggunakan Linux, jaringan http seolah2 tidak terkoneksi atau request http tidak dapat di respon oleh gateway.
Okeh gtu aja pemberitahuan dari Jason Bourne ;p
NB: Sori, karena semalem baru nonton seh. Jadi andrenalin na lagi aktif. Besok2 klo nonton Pirates of the Caribbean ntar bakal jadi alim lagi kok ;p
Tags: Deep Freeze, Jason Bourne, Pirates of the Caribbean, Virus Jaringan
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »
Tuesday, December 8th, 2009
Kejadian tadi malem. Saya lagi ngobrol2 di warung depan komplek dengan bapak penjualnya, tidak seperti biasanya makan di warung dalam komplek. Tiba2 muncul laki2 setengah baya. Tampangnya seh kayak tentara. Trus masuk ke warung dan langsung bertanya kepada saya dalam arti minta tolong diberi air. Saya yang merasa bukan pemilik warung, ya saya jawab saja kurang lebihnya “Waduh Pak, di sini mah saya cuma nongkrong”. Kemudian si bapak penjual memberikan air kepada laki2 tersebut. Setelah mendapatkan air, ia pun masuk ke mobilnya, avanza warna hitam. Sepertinya ia tinggal di GPA seperti saya juga. Setelah laki2 itu pergi, si bapak penjual agak ngomel2. Bapak penjual warung itu agak sebel sebenernya diminta seperti itu. “Beli ngapah” kurang lebihnya begitu gerutu si bapak penjual. Trus saya jelaskan ke bapak penjual. Tadi tuh kayak na laki2 itu bukan minta air. Tapi minta air tanda kutip, alias dia lagi “dikerjain” sama orang. Saya yang gak ngerti apa2 klo dimintain air juga yang ada bingung maksudnya apa an. Lah wong saya orang biasa2 aja yang gak punya kesaktian apa2. Klo diusilin orang yang ada juga ngasi tau doank bisanya. Trus klo yang dikasi tau gak waras2 juga, baru deh senjata pamungkas saya berupa do’a saya keluarin. Itu pun klo udah jengkel abis. Klo belum jengkel paling ngucapin “Wa alaikum”. Gtu doank bisanya. Hmmhhh.. kasian juga seh ngeliat laki2 itu. Apalagi tinggalnya masih sekomplek kayak na. Btw saran saya mah.. sama kali ya kayak Om Ustad Dhanu yang dari Bengkel Hati (Gak papa ya dipanggil om ustad). Coba aja deh sholat malam. Cuma klo dari saya sholat malam alias tahajud na agak spesial. Coba deh tahajud berturut-turut 40 hari jangan pernah putus. Saya ngasi tau gini dosa gak ya. Maksud saya seh.. tobat nasuha dulu kali ya. Kali aja trus do’a na terkabul. Soale saya sendiri klo lagi ketimpa masalah yang saya gak tau jalan keluar na, biasanya seh saya lakukan tuh yang kayak gtu. Terkabul gak do’a na saya? Jawabannya.. meneketehe! Saya mah percaya aja klo saya udah sungguh2 ntar juga ada jalan kluar. Daripada udah puyeng, dipikirin tambah puyeng. Tapi klo gak bisa juga, yang bagusnya seh di-ruqyah-in. Itu seh yang sesuai tuntunan Rasulullah. Masalahnya puyeng juga seh menghadapi yang aneh2 bin gak masuk akal gtu. Tapi kenyataannya yang kayak gtu tuh ada pemirsa. Saya sendiri sampe heran klo di jaman yang udah modern kayak gini, yang kayak bgituan masih ada aja. Asli deh [geleng2 kepala mode].
Tags: Bengkel Hati, Minta Air, Om Ustad Dhanu, Ruqyah, Tahajud
Posted in Harianku, Ilmu-Hikmah-Cahaya | No Comments »